Surat Pembaca

Perlu Ditingkatkan Pelayanan Bus City Tour

Sabtu, 5 August 2017 13:45 WIB Penulis: Koni Armandani Medan, Sumatra Utara

ANTARA/Andika Wahyu

PADA 25 Juli 2017, saya dan teman saya menaiki Bus City Tour yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari Halte Monas. Kami merupakan wisatawan yang datang dari Medan, Sumatra Utara. Sebelum menaiki bus tersebut kami sudah mencoba mencari info mengenai wisata tersebut dari Google.

Dari info yang kami peroleh bus City Tour ini menarik sekali untuk dicoba. Sebagai wisatawan yang datang dari luar daerah, pastilah sangat antusias untuk menaiki Bus City Tour, terlebih lagi dengan bermacam destinasi yang ditawarkan membuat kami semakin semangat untuk mencobanya.

Bus-bus yang disediakan juga terlihat bagus. Mayoritas bus yang disediakan ialah bus tingkat yang kami belum pernah menaiki bus tingkat seperti itu. Kami bisa keliling Jakarta sepuasnya dengan gratis. Pastilah sangat menyenangkan.

Namun, apa yang kami bayangkan tak seperti dugaan. Rentetan kesan tak enak pun terjadi. Pertama, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menunggu bus City Tour datang, menunggu sekitar setengah jam, bus yang kami tunggu baru datang.

Kedua, petugas pemberi tiket tidak menunjukkan kesan ramah. Padahal, setahu saya ikon yang ditonjolkan dari bus City Tour itu selain destinasinya ialah pelayanan dari pramuwisatanya. Namun, yang kami dapatkan malah sebaliknya.

Ketiga, saat bus sudah berjalan tidak adanya pemandu wisata yang menjelaskan kepada penumpang mengenai informasi yang terkandung dari objek-objek dilewati. Mungkin bagi orang Jakarta mereka pastilah sudah tahu objek-objek yang dilewati apa saja.

Hal ini tentulah berbeda bagi kami yang datang dari luar Jakarta, tanpa pemandu wisata yang memberikan informasi, otomatis kami berinisiatif bertanya kepada penumpang lainnya di depan kami mengenai objek-objek yang ada selama perjalanan. Dalam perjalanan itu, ada warga Jakarta bernama Ibu Asih, yang dengan ramah menjelaskan tempat-tempat yang dilewati. Alhasil, Ibu Asih ini yang menjadi pemandu wisata kami selama perjalanan itu.

Keempat, penumpang yang lain sibuk sendiri dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang bermain telepon seluler, berbicara dengan suara keras tanpa memedulikan orang lain, anak-anak yang berlari ke sana kemari sehingga tidak ada suasana city tour di dalam bus itu.

Kelima, sebagian penumpang juga menjadikan bus City Tour sebagai sarana transportasi mereka untuk menuju ke tempat selanjutnya. Mereka membuat suasana di dalam bus City Tour seperti TransJakarta.

Saya berharap Dinas Pariwisata DKI Jakarta agar lebih memperbaiki kondisi tersebut mengingat bus tersebut merupakan salah satu destinasi yang ditawarkan oleh pemerintah DKI Jakarta dalam menggaet wisatawan.

Jangan sampai bus City Tour yang awalnya dibuat untuk lebih mengedukasi para wisatawan mengenai objek-objek yang ada di Kota Jakarta malah kehilangan esensinya. Ada baiknya mencontoh negara tetangga dalam menyajikan fasilitas city tour ini.

Komentar