KICK ANDY

Nanang Rakhmad Hidayat Belajar melalui Rumah Garuda

Sabtu, 5 August 2017 01:00 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/SUMARYANTO BRONTO

SETIAP memperingati hari jadi Republik Indonesia, masyarakat pun mempercantik kawasan tempat tinggal mereka. Tak pelak sejumlah gapura berdiri di setiap ujung jalan. Berbagai lambang negara menghiasi gapura di desa-desa. Lambang-lambang itu menarik perhatian Nanang Rakhmad Hidayat. Dalam pikiran pria yang akrab disapa Nanang Garuda itu, sungguh beragam lambang itu seraya mengabadikan bentuk lambang negara dalam lembaran foto.

Mulai posisi menghadap wajah burung yang tidak sama hingga bentuk tubuh yang gemuk hingga kurus. Hingga 2006, Nanang memiliki koleksi 150 foto lambang negara yang bentuknya tak sama. Rupanya tak cukup sekedar memotret, Nanang pun mulai mencari tahu kajian tentang burung garuda dan Pancasila. Karena sangat minim, ia pun mulai menjadikan topik tersebut sebagai dasar penelitian.

Hasilnya Nanang bisa bercerita bagaimana asal muasal lambang tersebut pun dengan bentuk cakar burung yang seperti sedang memberikan prinsip Bhinneka Tunggal Ika bisa terbentuk. Data-data penelitian itulah yang akhirnya melandasi berdirinya Museum Rumah Garuda oleh Nanang di kediamannya di Bantul pada 2011.
Kini, banyak anak muda maupun sivitas akademika datang berkunjung dan menjadikan data penelitian Nanang sebagai rujukan.

"Pembuat lambang negara itu Tim Panitia Lencana Negara, Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantara, Moh Yamin, Nasir, Raden Mas Ngabei, dan MA Palopesi. Sebelumnya, bentuk cakar itu seperti memberi tetapi secara anatomis menurut Soekarno kurang menarik sehingga bentuk cakarnya, ya, seperti sekarang. Kisah ini saya dapat dari sekretaris pribadi Sultan Hamid II yang termasuk dalam tim tersebut," kata dosen ISI Yogyakarta itu.

Film dan wayang pulau
Bukan hanya anak muda, imbuh Nanang, bahkan orang dewasa banyak yang tidak paham akan makna Pancasila. Hal itu diketahui berkat interaksi dengan setiap pengunjung yang datang ke Museum Rumah Garuda. Ia pun menyarankan agar nilai-nilai Pancasila yang dahulu sempat diajarkan saat sekolah bisa kembali hadir. Tentu dengan cara-cara yang lebih ringan dan tidak membosankan sehingga sejak dini anak-anak sudah memiliki pegangan untuk hidup bermasyarakat sesuai dengan tujuan dari slogan Pancasila.

Selain museum, Nanang membuat tiga film dokumenter berjudul Mencari Telur sang Garuda, Superhero Gardala, dan Jas Merah sang Garuda. Film Mencari Telur sang Garuda merupakan simbolisasi dari kegiatan mencari asal usul sejarah, mengartikan apakah telur ini akan menetas dengan sebenarnya pada masa mendatang yang menjadi representasi generasi masa depan.

Pun dengan pembuatan wayang pulau, sebagai bentuk ekspresi dari makna sang garuda yang menjaga dan menyatukan pulau-pulau di Indonesia. "Sangat relevan, justru kita dihadapkan pada kenyataan kalau Pancasila tidak hadir, kita akan melihat orkestra yang gagal dan tidak harmonis. Kita bisa hancur lebur kalau tidak bisa mempraktikkan nilai-nilai Pancasila," tukas Nanang. (M-4)

Komentar