Jeda

Waspadai Ilusi Sosial

Ahad, 30 July 2017 16:00 WIB Penulis:

DOK PEDEPOKAN MARGOSARI

KISAH tentang keluarga yang kompak, tak hanya mengejar label kesuksesan di lingkungan terdekat, tetapi juga menebar manfaat seluas mungkin, juga terjadi di Pedepokan Margosari, Salatiga, Jawa Tengah. Penggeraknya Dodik Mariyanto serta Septi Peni Wulandani dan tiga anak mereka, Enes Kusuma, Ara Kusuma, serta Elan. Ada pelatihan rutin yang mereka gelar tentang kiat menyusun proyek pemberdayaan anggota keluarga serta Expo Family Project. Pada 2017, kegiatan diadakan di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dan diikuti 40 keluarga.

Jika banyak keluarga mematok parameter kesuksesan keluarga pada capaian akademis dan status ekonomi, keluarga penggagas Pedepokan Margosari, Salatiga, Jawa Tengah, ini memilih kebermanfaatan sebagai target. "Keberadaan keluarga kami, keberadaan diri anak-anak, harus bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat sekitarnya," kata Septi Peni Wulandani, yang bersama sang suami, Dodik Mariyanto, serta ketiga anak mereka menghidupkan pedepokan yang bergiat pada kegiatan pendidikan dan pemberdayaan seluruh anggota keluarga dengan rancangan program dan kurikulum yang terus dikembangkan.

Kendati kini capaian putra putri mereka terbilang di atas rata-rata, yaitu Enes pada September mendatang akan ke Filipina mengikuti pertukaran pelajar, Ara meraih beasiswa University of London, Singapura, sedangkan Elan mengambil beberapa kelas jarak jauh dari Microsoft, IEEEx, serta University of California, untuk belajar data technology, kohesi tetap terjaga. "Kami memiliki mantra ajaib, banyak main bareng, beraktivitas, dan ngobrol bareng," kata Dodik.

Dekat, tapi jauh

Bernegasi dengan resep Dodik untuk tetap waras di era digital yang serbadangkal dan cepat ini, pengamat sosial UI Devie Rahmawati mengungkapkan, nyatanya fenomena agresi, perundungan, dan bunuh diri dipicu kerenggangan sosial yang menguat di era modern.

"Ilusi sosial, terhubung satu sama lain dalam 24 jam sehari karena teknologi, tapi hidup dalam kesepian, itu dapat mendorong agresi, perundungan, dan bunuh diri. Inisiatif kedua keluarga ini baik, tapi juga dibutuhkan upaya terstruktur untuk mendorong komunikasi hangat di masyarakat, fasilitasi anak-anak untuk berinteraksi, dan hidupkan pula alarm sosial," kata Devie.
Devie memaparkan kini waktu dikuantifikasi menjadi uang. Semua orang memburu waktu sebagai keuntungan ekonomi. Waktu bukan lagi dimanfaatkan untuk berkumpul bersama dengan orang terdekat, melainkan dimanfaatkan untuk kompetisi ekonomi.

Fokus keluarga sekarang lebih pada kelayakan ekonomi di era modern. Rumah besar, mobil, dan lain-lain. Rumah hanya jadi tempat persinggahan keluarga. Hubungan antaranggota keluarga tidak hangat lagi, tapi hanya status orangtua dan anak. Akibatnya, hubungan tidak terawat.

"Teknologi tidak dijadikan sebagai alat silaturahim tapi untuk sekadar kenyamanan. Etalase untuk menampilkan manusia itu sukses," ujar Devie. Teknologi hanya digunakan untuk kepentingan sendiri, bukan untuk memperhatikan dan menyayangi orang lain. Contohnya, dalam keluarga itu, seorang ibu tidak lagi berkomunikasi langsung dengan anaknya untuk hanya sekadar mengajak makan. "Si ibu mengajak anak dengan menggunakan teknologi," kata Devie.
Rasa kesepian dalam keramaian pun berjangkit. Followers banyak tapi kesepian, mereka tidak memiliki tempat untuk berbagi keresahan.

Inisiatif yang dilakukan keluarga-keluarga istimewa dinilai Devie mulia. "Tapi tidak cukup, harus ada upaya terstruktur dari pemerintah untuk mendorong komunikasi hangat di masyarakat. Contohnya menghidupkan kembali budaya arisan dan gotong royong. Sekolah juga harus fasilitasi anak-anak untuk berinteraksi. Hidupkan alarm sosial terhadap potensi agresi, perundungan, dan bunuh diri. Pastikan ada waktu untuk 1 jam komunikasi dari hari ke hati dalam keluarga," kata Devie. */M-1

Komentar