Jeda

Kompak Menghasilkan Dampak

Ahad, 30 July 2017 15:30 WIB Penulis: Hera Khaerani

MI/FURQON ULYA HIMAWAN

Tidak kurang 2.000 km telah ditempuh selama 25 hari perjalanan berkendara dari Serang menuju Salatiga, Jawa Tengah. Hingga 25 Juli 2017 itu, Si Putih, demikian Gol A Gong memanggil mobilnya, sudah menenggak bahan bakar pertamax senilai Rp1,3 juta. Mobil keluarga itu bertolak dari kota tempat tinggal keluarganya sejak 30 Juni 2017, menyusuri kota-kota di Jawa termasuk Cirebon, Tegal, Pekalongan, Solo, Ngawi, Jombang, Surabaya, Bojonegoro, Rembang, Jepara, dan Semarang. Dalam perjalanan 40 hari itu, mereka juga singgah ke Yogyakarta, Wonosobo, Purwokerto, dan Bandung.

Di balik kemudi, kalau tidak sedang Gol A Gong sendiri yang menyetir, ialah istrinya Tias Tatanka. Sementara itu, di kursi penumpang, terdapat tiga orang anaknya, yakni Gabriel Firmansyah Harris, Jordy Alghifari Harris, dan Natasha Azka Noorsyamsa Harris. Putri mereka yang sulung Nabila Nurkhalishah Harris, satu-satunya yang tidak ikut karena sedang studi di Tiongkok.
Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan biasa. Mereka sekeluarga mengadakan Tur Gempa Literasi se-Jawa di setiap kota yang mereka singgahi. Mulanya karena saat mudik ada undangan jadi pemateri selepas Lebaran. "Akhirnya kami petakan dan jadilah 40 hari di 18 titik (kota), kemudian berkembang di tiap titik bisa beberapa kegiatan," kisah Gong. Alhasil kalau keluarga lain mudik hanya berjalan-jalan ke sanak famili dan rekreasi, mereka justru mengisi waktu mudiknya dengan berbagi. Sebagai catatan, Rumah Dunia ialah komunitas yang didirikan di belakang rumahnya di Serang, Banten, yang aktif menggelar berbagai kegiatan literasi dan seni pertunjukan. Bagi penulis yang pernah menjabat Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat itu, gempa literasi yang rutin dilakukannya bertujuan menghancurkan kebodohan, membangun peradaban baru lewat aksara.

Gempa literasi yang dilakukannya bersama istri, dibantu para sahabat dan relawan, secara konsisten selama 17 tahun (2000-2017) di Komunitas Rumah Dunia. Selain itu, tur gempa literasi pernah dilakukan Gong bersama relawan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan se-Jawa (Tur Gempa Literasi Anyer-Panarukan).

"Saya juga pernah sendirian saat Tur Gempa Literasi Borneo dan Tur Gempa Literasi Sumatra, lalu berdua bersama istri menyulut 'Gempa Literasi Asia'; dari Singapore, Malaysia, Thailand, India, UEA, Qatar, hingga Arab Saudi," ujarnya menambahkan tur literasi se-Banten pernah dilakukan sekeluarga pada 2012 silam dengan membagikan buku.

Hari Puisi

Juli ini bertepatan dengan perayaan Hari Puisi Indonesia, tepatnya hari lahir Chairil Anwar, 26 Juli, diputuskan mereka sekeluarga melakukan tur gempa literasi se-Jawa. Kegiatan yang dilakukan di kota-kota yang disinggahi antaranya pertunjukkan seni, bazar buku, diskusi atau seminar literasi, hibah buku, dan pelatihan. Merayakan Hari Puisi Indonesia, biasanya mereka sekeluarga membaca puisi, mengajak peserta turut membaca puisi. Namun, karena bakat setiap anak berbeda, tidak semuanya dipaksakan harus berpuisi. Gabriel misalnya, lebih sering menampilkan kemampuannya nge-rap.

Selama tur itu, setiap anak memiliki tugas yang berbeda. Azka si bungsu yang baru duduk di kelas 7 sekolah dasar biasa membantu berjualan buku sembari menawarkan jualannya sendiri, yakni mainan slime dan squishi. Gabriel biasa memberikan testimoni, presentasi, dan menjadi operator presentasi, sementara Odie mendokumentasikan kegiatan mereka lewat foto dan media sosial. "Memang belum sempurna, ini proses belajar bagi mereka," aku Gol A Gong.

Lewat bazar, mereka berjualan buku untuk menambah biaya perjalanan. Kalau diskusi literasi, temanya sangat bervariasi. Seperti istrinya Tias yang bisa berbicara tentang literasi yang sehat dari rumah, atau anak kedua mereka Gabriel yang sekolah di Abu Dhabi, bisa berbagi soal bagaimana menjadi kreatif di luar negeri. Pelatihan pun sangat beragam, bisa pelatihan menulis cerpen, novel, esai, puisi, atau membuat buku cerita bergambar dari dus bekas untuk guru PAUD/TK. "Kami yang menawarkan konsep gempa literasi, lalu dipilih sesuai permintaan yang mengundang," jelas Gong.

Tidak hanya taman baca di daerah yang menyambut antusias tawaran mengundang keluarga Generasi Jaguar, melainkan juga sekolah dan lembaga pemerintah daerah. Di TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Sumber Ilmu Desa Ujung Ujung, Kecamatan Pabelan, contohnya, pesertanya ialah guru-guru SD. Usai pelatihan menulis puisi, dihasilkan draf buku puisi. Kepala dinas pendidikan di sana berencana mendukung penerbitan buku puisinya.

Memberdayakan Masyarakat dan Keluarga

Manfaat yang diberikan pasangan suami istri Gol A Gong dan Tias Tatanka bagi masyarakat, khususnya di bidang literasi, memang tidak diragukan lagi. Perjuangan mereka menggunakan literasi untuk mengubah hidup sudah terbukti. Di lingkungan tempat tinggalnya, ada anak yang dulunya berjualan kerupuk, kini mampu mengubah nasib dengan menulis, teater, lalu mengajar. Ada pula mantan penjual gorengan yang kemudian jadi penulis. Namun, apakah manfaat yang sama juga dirasakan keluarga mereka, khususnya dampaknya bagi keempat anak? Ternyata meski Rumah Dunia berada di sebelah rumahnya dan ada banyak relawan dari berbagai daerah yang suka berkegiatan di sana, tidak ada satu pun dari keempat anak mereka yang disuruh menjadi relawan pula.

Hal ini diakui oleh Nabila Nurkhalishah yang sedang berkuliah di Tiongkok. "Papah-Mamah tuh tidak pernah menyuruh anaknya buat jadi relawan," ungkapnya ketika dihubungi Media Indonesia Jumat (28/7). Bahkan dulunya dia termasuk tipe yang tidak berani buat berbagi ilmu ke orang lain karena merasa masih kurang layak dan tidak pantas untuk membagi ilmu ke orang lain. Dalam kondisi yang demikian, orang tuanya tidak memaksanya. Kalaupun kini keempat anak itu suka membagi ilmu atau pengalaman apa pun yang mereka miliki, itu bukan karena terpaksa. Hal sama diutarakan Gabriel yang masih duduk di kelas 10 SMA Al Mahad Al Islamy Al Ain, UAE, "Saya tidak tahu ini terpaksa atau bukan karena sudah merasa ini bagian dari hidup saya," akunya.

Pun dalam tur gempa literasi ke Jawa kali ini, Gol A Gong dan Tias Tatanka tidak pernah memaksakan bila anaknya sedang jenuh dan tidak mau dilibatkan. Azka si bungsu contohnya, bisa dengan terbuka berkata, "Nggak mau, capek." Atau Odie kakaknya beralasan, "Suaranya lagi jelek, serak." Biasanya itu terjadi ketika anak-anak merasa kurang percaya diri lantaran melihat jumlah penontonnya. Soal itu Gong berkata memaklumi, "Mereka tidak sedang berlomba. Kami sedang melatih anak-anak kami berani karena benar, percaya diri karena berwawasan, bukan untuk jadi juara puisi atau juara lainnya."Bagi Tias, penting bagi mereka untuk tidak mengharuskan anak untuk berani, percaya diri, dan mengalahkan ketakutan untuk maju di depan orang banyak. "Kami tidak mengharuskan, tapi memotivasi agar keberanian itu muncul. Ketika mereka bersedia atau malah mengajukan diri tampil, itu sudah cukup buat saya. Soal pencapaian kan butuh jam terbang," jelasnya.

Kekuatan contoh

Meski tidak pernah disuruh menjadi relawan dan kini berada jauh dari pantauan orang tuanya, Nabila yang sedang berkuliah di Tiongkok kini justru menunjukkan bahwa jiwa sosial dan relawan sudah melekat dalam dirinya. Di masa liburan kuliah ini, dia memilih mengisi waktu dengan mengajar bahasa Inggris dan mengaji di suatu masjid yang terdapat di sana.

Contoh menjadi ajaran yang paling mengena bagi dirinya, "Lebih ke pribadi papah-mamah yang menurut Bela (nama panggilannya) 'selfless' banget (tidak mementingkan diri sendiri). Menurutnya, tidak seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, ibunya jarang sekali membeli baju, perhiasan, ataupun kemewahan lainnya. Hal itu membuatnya belajar menghargai uang daripada menghabiskannya untuk jajan, lebih baik untuk yang lain.

Kepekaan sosial yang dimiliki anak-anaknya, bagi Gol A Gong dan Tias Tatanka, menjadi parameter kesuksesan anak dan keluarga. Saat Nabila masih kecil, mereka membuat 'care box' yang secara rutin diisi uang. Jika di akhir bulan terkumpul Rp50 ribu, uangnya dibelikan sembako. "Dia punya daftar orang miskin untuk dibantu."Lalu dalam tur gempa literasi kali ini, Natasha sebenarnya berjualan slime, aktivitas dagang sama yang dilakukannya di Serang. Namun, di suatu kota, putri bungsunya itu memilih membagikannya secara cuma-cuma. "Karena menurut dia, anak-anak itu tidak mungkin membelinya. Bagi saya (kepekaan) itu membahagiakan," kisah Gong.

Bagi Tias, kesuksesan mereka sebagai keluarga yang sesungguhnya adalah pada hari penghitungan amal baik dan buruk kelak. Namun, tahapan menuju ke sana, ditandai dengan pencapaian target-target kecil seperti keluarga rukun harmonis, anak-anak berakhlak baik dan menemukan bakat juga kemampuan di bidangnya.

Menjaga kewarasan

Sejak awal menikah, Tias Tatanka dan Gol A Gong sepakat, di mana pun mereka harus jadi manfaat bagi sekitar. Hal itu menjadi visi misi rumah tangga keduanya. Makanya sesibuk apa pun, kalau ada urusan sosial, terutama literasi, mereka selalu berusaha untuk meluangkan waktu. Karena sudah sepakat di awal pula, kesibukan ekstra pun tidak menimbulkan keberatan bagi pasangan.

Lantas apakah keluarga mereka tergolong bentuk keluarga ideal? Bagi Tias tidak. Dia mengaku dirinya bukanlah gambaran ideal ibu rumah tangga apalagi 'supermom'. Membagi waktu antara kesibukan di rumah dengan aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat, memang bukanlah perkara mudah. "Saya mendelegasikan urusan masak, beres-beres, cuci dan gosok ke pembantu, karena fokus ke anak, suami, dan Rumah Dunia. Tugas domestik hanya di hari Ahad," ungkapnya.

Tias pun tidak menyarankan agar setiap keluarga berusaha menjadi seperti kelurga mereka dalam kaitannya dengan kegiatan sosial dan memberdayakan masyarakat. "Bergerak saja langsung sesuai kemampuan karena berbagi tidak harus menunggu momen, itu harus jadi kebiasaan," cetusnya. (M-1)

Komentar