Hiburan

Kemenangan dalam Kekalahan Perang

Ahad, 30 July 2017 02:01 WIB Penulis: Hera Khaerani

DOK.WARNER BROS

DENGAN langkah lunglai, beberapa prajurit berjalan menyusuri kota yang tampak mati. Namun, keheningan itu terusik oleh desingan peluru yang memburu mereka dari berbagai arah.

Tommy (Fionn Whitehead) termasuk di antaranya. Prajurit muda itu berlari, berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi, ketika lepas dari kungkungan kota yang dihujani serangan peluru itu, dia malah menemukan pantai yang dipenuhi ratusan ribu prajurit berbaris, terdampar menanti untuk dievakuasi.

Mereka berada di Dunkirk, bagian utara Prancis, di masa awal Perang Dunia II, tepatnya 27 Mei hingga 4 Juni 1940. Kala itu Jerman mendesak Inggris, Prancis, dan negara-negara sekutu mereka. Menyadari kondisi itu, Inggris memutuskan menarik mundur pasukan mereka yang berada di Dunkirk. Evakuasi tersebut diberi nama Operasi Dinamo.

Sayangnya, lokasi yang terbuka membuat para tentara ibarat sasaran empuk bagi pasukan Jerman. Tentara yang berbaris di pelabuhan untuk naik kapal evakuasi dihujani bom serangan udara.

Bagitu pun tentara yang berada di atas kapal, banyak yang tewas akibat torpedo. Tentara yang semula penuh harapan untuk pulang dengan selamat akhirnya dilanda frustrasi dalam upaya menyelamatkan diri.

Mengikuti jejak Tommy yang berjuang menyelamatkan diri, kita diajak bersimpati kepada tentara yang teramat muda yang terseret ke dalam perang dunia tanpa pengalaman. Seperti kebanyakan tentara di masa itu, dia mungkin tidak tahu dirinya mendaftar untuk apa. Meski begitu, Tommy berusaha sebisa mungkin untuk selamat. Tanpa banyak mengekspose potongan tubuh berlumur darah ataupun aksi baku tembak antarpasukan, film Dunkirk berhasil menyajikan film perang yang tidak klise. Film yang mulai tayang di Indonesia 21 Juli 2017 itu disutradarai dan ditulis Christopher Nolan.

Tiga sudut pandang

Sukses di film sebelumnya, Memento, Inception, The Dark Knight, dan Interstellar, film Dunkirk menjadi karya pertama Nolan yang berangkat dari kisah nyata berlatar sejarah. Tidak mengherankan jika film itu menjadi salah satu yang paling diantisipasi tahun ini. "Seperti kebanyakan orang Inggris, saya tumbuh dengan cerita tentang evakuasi Dunkirk dan kemenangan yang diambil di ambang kekalahan," ujar Christopher Nolan. Karena itu, sudah sejak lama dia ingin mengangkat kisahnya ke dalam film. Tanpa banyak dialog, Nolan memilih mengajak penonton masuk ke tiga sudut pandang. Selain perjuangan intens tentara di darat dalam proses evakuasi, ada sudut pandang pasukan di laut dan udara.

Di udara, kita masuk ke kokpit pesawat tempur Inggris yang menembaki pesawa Jerman yang berupaya menenggelamkan kapal yang mengevakuasi tentara. Dari sudut pandang laut, kita dibawa masuk ke kengerian ancaman keselamatan bertubi-tubi lantaran sekalipun sudah di kapal evakuasi, mereka masih belum aman. Layaknya para prajurit, kita dibawa larut dalam kondisi seperti tanpa jalan keluar.

Sayangnya, film ini kurang konteks sejarah Dunkrik. Film yang banyak melibatkan aktor pendatang baru itu akan lebih optimal bila paham akan sejarahnya. Selebihnya mungkin akan bertanya-tanya tentang seberapa signifikannya peristiwa Dunkirk di masa Perang Dunia II. Malah tidaklah aneh jika ada penonton pulang dengan bertanya-tanya, "Di mana itu Dunkirk?

"Kendati berlangsung di awal PD II, evakuasi Dunkirk diyakini para sejarawan berdampak besar bagi hasil akhir perang masa itu. Andai tidak berhasil menyelamatkan sekitar 340 ribu tentara dari Dunkirk, Inggris mungkin saja kalah perang lantas Jerman di bawah kepemimpinan Hitler berjaya. Ketika kapal-kapal evakuasi berhasil berlayar ke tempat aman, muncul harapan bagi dunia untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam perang tersebut. Untuk mengumpulkan kekuatan, lantas menyerang balik. Jika Anda berniat menonton film ini, ada baiknya membaca dulu berbagai literatur terkait dengan Dunkirk dan sejarahnya dalam Perang Dunia II.

Menghidupkan Dunkirk

Guna membuat setting yang senyata mungkin dengan kondisi aslinya, Nolan memilih pengambilan gambar di lokasi yang sesungguhnya yakni Dunkirk. Bagi mereka, kondisi pantai itu sangat unik, tidak bisa digantikan lokasi lain.

Tak berhenti sampai di situ, syuting pun dilakukan di masa-masa yang sama ketika proses evakuasi itu berlangsung, yakni 27 Mei-4 Juni. Meski syuting di sana di kurun yang sama, nyatanya mereka justru menghadapi tantangan cuaca yang jauh berbeda. Ketika peristiwa aslinya, cuaca dan air relatif tenang. Namun, kru film mereka justru mendapati cuaca buruk hingga badai merusak set.

Di sisi lain, menyiapkan pantai historis itu untuk syuting bukan perkara mudah. Kru mesti memeriksa area itu untuk mengantisipasi mortir atau sisa-sisa perang yang mungkin belum meledak.

"Kami tahu tim efek khusus kami pasti akan mengatur ledakan-ledakan terkontrol di sana, jadi kami harus melakukan survei yang sangat hati-hati dan memeriksa apa pun, bahkan sebutir peluru," jelas Executive Producer Jake Myers.

Kepuasan lain ialah dari sisi visual, Nolan melakukan pengambilan gambarnya dengan mengombinasikan IMAX dan film 65 mm. Teknik itu belum pernah dilakukannya sebelumnya. "Namun, Dunkirk itu cerita yang besar dan menuntut kanvas yang sangat besar pula," jelasnya.

Ketika setting dibuat semirip mungkin dengan aslinya, Nolan menghindari menghidupkan karakter di filmnya berdasarkan tokoh sejarah yang nyata. Dia justru memilih menciptakan karakter fiktif yang cukup mewakili untuk menghidupkan peristiwa sejarah itu. Seperti karakter Tuan Dawson (Mark Rylance) pemilik kapal Moonstone yang salah seorang putranya tewas dalam perang. Dia secara sukarela membawa kapalnya ke Dunkirk untuk menjemput pulang tentara dalam evakuasi. Sosoknya mengajarkan betapa pentingnya mengedepankan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri.

Tuan Dawson juga menekankan pentingnya tidak menghakimi orang lain. Seperti ketika tentara pertama yang mereka selamatkan tidak mau dibawa ke Dunkirk untuk menyelamatkan tentara lain. Baginya itu wajar, tentara itu trauma dan telah merasakan kengerian perang lantas menganggap Dunkirk sebagai neraka.

Layak menjadi catatan, peristiwa Dunkirk menjadi sangat fenomenal dan dianggap keajaiban karena Operasi Dinamo turut melibatkan warga sipil dalam proses evakuasi tentara. Inggris menyerukan ajakan untuk pemilik kapal, menjemput tentara yang terdampar di Dunkirk, sebelum mereka habis dibantai Jerman. Termasuk di antaranya kapal-kapal nelayan dan kapal pribadi. Seruan itu disambut sukarela oleh banyak warga sipil. Meski mulanya tidak terlalu diharapkan, warga sipil itulah yang menjadi pahlawan sesungguhnya dalam peristiwa Dunkirk. (M-4)

Komentar