MI Muda

Wakacao, Sajian Kacau tapi Enak

Ahad, 30 July 2017 00:31 WIB Penulis: Grace Kolin, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara

Dok. Pribadi

AISYAH alias Echa tidak pernah menyangka tugas akhir kampus membawa ia dan empat kawannya memiliki 10 cabang Wakacao, wa­rung tenda yang dengan menu andalan, aneka sajian ala beef pepper rice.

Kini, Wakacao sudah ada di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Yogya, Gresik, dan Ban­dung. Mau tahu apa rahasia sukses Echa berbisnis kuliner? Simak obrolan Muda dengan pebisnis yang merintis usaha dari tugas kuliah itu!

Dari mana kamu memperoleh ide untuk memulai bisnis ini?

Jadi, intinya, ini tugas kampus akhir kami di Universitas Prasetiya Mulya. Kami mengerjakannya berlima. Interest kami itu di food and beverage, bakalan tahu kalau nantinya bakal buka bisnis dan makanan.

Udah gitu, modal kami enggak banyak? Startnya itu pakai duit sendiri. Jadi enggak mungkin buka restoran gede. Di antara banyak ide, pilihannya berujung pada dua opsi, jualan makanan online, buka booth-booth di bazar atau bikin warung tenda. Kami memutuskan buka tenda!

Inspirasinya dari mana?

Restoran steak yang hingga sekarang masih happening. Dia kan jualannya wagyu? Namun, dulunya juga jualan di tenda. Value-nya juga sama. Dia lihat wagyu mahal di hotel, tapi dia bisa bikin itu murah, terjangkau buat banyak kalangan.

Terus kita nemu resto lain yang berkonsep masak di meja makan, tapi mahal banget dan ada di mal. Jadi kita mikir, cocok nih, keduanya dikombinasikan di konsep tenda sehingga harganya juga bisa dibuat terjangkau.

Kenapa namanya Wakacao?

Karena Wakacao pertama ear catchy saja, gampang diingat. Yang kedua, Wakacao itu kan kacau. Kacau itu diaduk. Kacau-kacau. Terus, Wakacao itu kayak, Wah! Kacau nih! Wah! Enak banget. Gila! Jadi ya kayak gaul gitu.

Kamu riset pasar dulu dong?

Iya, misalnya kuesioner, terus pas lagi bikin produk, kita ada tes alfa gitu. Jadi, teman-teman suruh coba, kayak apa kurangnya, sampai akhirnya jadi produk.

Kalau yang ala mal, konsumen masak di meja itu kan Jepang banget. Sebenarnya kita lebih mau ke arah yang Indonesian food-nya. Jadi makanya rasanya ada rendang, kari, gulai, terus di Bandung sudah keluar matah. Akhirnya kita memang maunya arahnya ke situ terus. Makanya kita itu jualan Indonesian beef pepper rice.

Tanggapan konsumen?

Pada bilang kreatif, enak, murah. Nggak nyangka banget, antusiasme pasar tinggi banget. Itu kunci banget sih. Kami terus melakukan perbaikan, salah satunya dengan menambah varian rasa.

Alasan lain pilih konsep kuliner ini?

Soalnya ada experience. Jadi mixperience, nyebutnya. Orang itu bisa bikin makanan mereka sendiri. Kadang-kadang bisa dicampurin honey, garlic, sambel, garam, lada. Jadi sesuai sama selera mereka.

Dagingnya juga sama, kalau nggak mau matang banget, bisa diangkat ke atas dulu, jadi setengah matang, telur juga gitu.
Bisa pilih, dapat makanan yang mereka benar-benar suka gitu.

Tantangan yang harus kami hadapi dalam merintis bisnis?

Kalau awal-awalnya, bikin semuanya berjalan lancar itu kan enggak gampang, harus dijaga banget. Nah, sekarang itu, problemnya, mulai banyak yang ngikutin, kayak kompetitor.

Jadi, kita harus tahu gimana caranya itu tetap jadi top of mind. Jadi yang orang ingat pertama kali. Karena itu kita terus berinovasi, perbanyak cabang. Jadi orang itu ingatnya Wakacao kalau mikirin beef pepper rice.

Pendapat kamu soal eksistensi kuliner Indonesia versus asing?

Menurutku, Indonesia lebih laku. Karena lidah orang Indonesia itu sebenarnya, walaupun ada makan makanan Western, Jepang, tapi at the end, sebenarnya yang lebih dikenal tuh yang kena di lidah Indonesia. Iya, kalau menurutku sih, makanan Indonesia tetap longlast, prospek ke depannya masih ada.

Suka duka dalam menjalani bisnis ini?

Sukanya karena emang passion di bisnis sih, senang bisa jualan, makanan kami disukai. Kami juga bisa membuat lowong­an pekerjaan, kalau pegawai bisa hidup sejahtera, kami juga senang. Terus dukanya, hardwork-nya, pulang malem. Terus ada saja nih, kayak mau liburan, ditelepon ada masalah ini dan itu, jadi emang nggak ada waktu untuk libur.

Kiat sukses berbisnis yang bisa kamu bagikan untuk Muda?

Yang paling penting, peka sih. Temukan problem di sekitar kita, apa sih yang enggak ada, lalu bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan atau permasalahan itu.

Nah kalau sudah peka, baru kreatif. Ciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan itu. Jangan pantang menyerah, kalau memang belum laku, pikirin terus gimana caranya memasarkan produk kita. Yang paling penting di awal, marketing-nya, dan harus gencar banget. (M-1)

Komentar