PIGURA

Mirong Kampuh Jingga

Ahad, 30 July 2017 00:01 WIB Penulis: Ono Sarwono

NEGARA Mandura pernah mengalami peristiwa politik yang menggiriskan. Yaitu, upaya pedongkelan kekuasaan dengan cara kekerasan yang terjadi pada era kepemimpinan Prabu Basudewa. Akan tetapi, kodratnya gerakan inkonstitusional yang dikomandani Kangsa tersebut kandas.

Pergolakan ini pecah bukan karena isu ketidakadilan, melainkan justru akibat kebijakan negara yang akomodatif terhadap Kangsa. Sikap raja yang menjunjung tinggi asas ‘praduga tak berkhianat’ yang dimaksudkan untuk meredam gejolak malah menghadirkan ‘goro-goro’ politik.

Inilah elegi politik yang membuat Basudewa depresi berlarut-larut sehingga tidak mampu mengemban amanah rakyat. Berdasar paugeran negara, ia kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada putra sulungnya, Kakrasana, yang sebelumnya ‘disekolahkan’ di Dusun Widarakandang.

Diakui sebagai anak

Kisahnya, pada suatu ketika saat pasewakan agung berlangsung, Prabu Basudewa kedatangan anak remaja bersama pendampingnya yang berwujud buta. Setelah kedua tamu itu menghaturkan sembah dan duduk bersimpuh, Basudewa bertanya siapa gerangan yang menghadapnya.

Laki-laki muda berwajah setengah yaksa itu mengaku bernama Kangsa alias Kangsadewa, sedangkan yang mengawalnya ialah Suratimantra yang tidak lain pamannya sendiri. Kepentingannya datang ke istana mengonfirmasi status dirinya sebagai anak Basudewa.

Basudewa terperanjat mendengarnya. Ia tampak bingung dengan pengakuan anak tersebut. Seingatnya, dirinya tidak pernah memiliki putra yang tampangnya demikian. Basudewa sadar betul tentang putra-putrinya yang semuanya berada di Dusun Widarakandang.

Ketika belum rampung menjelajahi memorinya, Kangsa menyela. Dengan nada tinggi ia menjelaskan bahwa dirinya lahir dari rahim Dewi Maerah yang tinggal di tengah hutan.

Mendengar nama Maerah, Basudewa merasa dadanya seperti tersodok. Ia menerawang, kemudian ingat peristiwa lebih dari satu setengah dasawarsa lalu. Kala itu ia memerintahkan nayaka praja mengasingkan Maerah, satu dari tiga istrinya, ke hutan karena dianggap serong.

Ceritanya, saat Basudewa bebedhat (berburu) ke hutan, Maerah ditinggal di istana. Setelah beberapa hari, pulanglah ‘Basudewa’ dan langsung menemui Maerah di puri tempat tinggalnya. Karena sama-sama dibalut rasa rindu, keduanya lalu melepas kangen hingga sampai berulang kali saremsi, melakukan hubungan suami-istri.

Maerah tidak ngeh (tahu) jika pria yang bersamanya sejatinya bukan suaminya, Basudewa. Sesungguhnya, laki-laki yang menidurinya berkali-kali itu jelmaan Gorawangsa, raksasa dari Negara Gowabarong.

Itulah latar belakang Basudewa mengasingkan Maerah ke tempat yang jauh dari istana. Ia tidak ingin harga diri dan kewibawaannya serta keluarga besarnya terganggu oleh kasus Gorawangsa.

Peristiwa pahit itu membuat Basudewa lalu berpikir dalam-dalam. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan mengakui Kangsa sebagai putranya meskipun hatinya berontak bahwa Kangsa bukan benihnya.

Arya Prabu, adik Basudewa, mengingatkan sang raja untuk memikirkan kembali keputusannya tersebut. Saran serupa juga dihaturkan adiknya yang lain, Oegroseno. Alasannya, secara biologis, Kangsa bukan anak Basudewa. Ini akan menghadirkan masalah di kelak kemudian hari.

Skenario adu jago

Basudewa kukuh pada keputusannnya yang sudah diambil, sabda pandhita ratu tan kena wola-wali. Bahkan, Kangsa diberi lahan subur yang masih bagian wilayah Mandura untuk bermukim. Tempat itu lalu dinamakan Kesatrian Sengkapura.

Waktu terus berjalan. Di bawah asuhan Suratimantra, Kangsa tumbuh besar, menjadi dewasa dan sakti mandraguna. Wataknya berangasan dan ugal-ugalan. Apa yang dikehendaki mesti tercapai seketika, tidak peduli apa pun caranya. Ia menjadi sosok yang ditakuti warga.

Kangsa diam-diam merekrut anak-anak muda bermental preman. Ia menginjeksikan virus busuk kepada mereka. Juga ia sebarkan fitnah bahwa penguasa Mandura korup. Kangsa juga melancarkan propaganda, bila negara masih dikelola Basudewa, rakyat tidak akan sejahtera. Solusinya, kepemimpinan nasional harus diganti.

Untuk mengawali gerakannya, Kangsa memerintahkan para pendukungnya membuat keonaran di seluruh pelosok negeri. Maka, kejahatan dengan segala bentuknya merebak setiap saat. Rakyat dihantui kecemasan dan ketakutan yang luar biasa.

Terganggunya keamanan negara membuat Basudewa prihatin. Ia menggelar pertemuan terbatas bersama sentana dalem dan nayaka praja untuk mencari penyelesaiannya. Ketika para elite dengan sedang berdiskusi, tiba-tiba datanglah Kangsa.

Kangsa mengatakan kehadirannya untuk memohon izin raja memulihkan kondisi negara seperti sedia kala. Sarananya dengan menggelar tontonan adu manusia, yakni jago Mandura melawan jago Sengkapura. Semua rakyat Mandura diharuskan menonton. Ini sebagai cara Kangsa menangkap para begundal, pengacau negara.

Sesungguhnya itu merupakan taktik Kangsa mencari putra Basudewa, Kakrasana dan Narayana. Bila sudah ditemukan akan langsung disirnakan. Keduanya dianggap penghalang utama nafsunya menguasai Mandura. Setelah itu giliran Basudewa dieksekusi.

Singkat cerita, gerakan makar Kangsa gagal total. Jago dari Sengkapura, Suratimantra, mati diganyang Bratasena, jago Mandura. Kangsa tewas di tangan Kakrasana dan Narayana.

Dibasmi sejak dini

Dalam kearifan lokal kita, gerakan Kangsa itu disebut mirong kampuh jingga. Ini contoh bagaimana anak bangsa yang tidak tahu diri akan kebaikan negara. Ia diakui, diterima, dan difasilitasi walau sesungguhnya bukan ‘produk asli’ Mandura.

Sejak awal, Arya Prabu dan Oegrosena telah memperingatkan Badusewa. Sejatinya Kangsa adalah musuh karena keturunan Gorawangsa. Maka, ketika dibiarkan tumbuh dan berkembang, pada akhirnya membangkang.

Hikmah kisah ini ialah negara mesti tahu dan sadar terhadap segala bibit yang akan membahayakan negara. Jangan sampai benih-benih pengkhianat seperti itu dibiarkan hidup dan tumbuh menjadi besar.

Bangsa ini sudah punya pengalamam buruk terkait dengan pengkhianatan terhadap negara. Tentu kita tidak ingin hal itu terulang. Oleh karena itu, setiap embrio yang berpontensi mengancam eksistensi bangsa dan negara mesti dibasmi sejak dini. (M-4)

Komentar