BIDASAN BAHASA

Garuda

Sabtu, 29 July 2017 23:31 WIB Penulis: Ridha Kusuma Perdana, Staf Bahasa Media Indonesia

ANTARA/Bhakti Pundhowo

AKHIR-AKHIR ini, banyak sekali ajang olah­raga yang dipertandingkan, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa dari cabang olahraga itu ialah bulu tangkis (Indonesia Terbuka dan Audisi Djarum), sepak bola (kualifikasi Piala Asia U-22 dan Piala Konfe­derasi), dan renang. Tentu, perkembangan informasi mengenai olahraga tersebut selalu diamati dari berbagai media, terutama media daring yang selalu up-to-date dalam memberitakannya.

Contoh bunyi beritanya ialah Ujian Kualitas Garuda Muda (Media Indonesia, Kamis [22/6]), Garuda Asia Maksimalkan Stamina (Media Indonesia, Minggu [9/7]), dan Tontowi/Butet Raih Medali Emas Olimpiade (Detik.com).

Isinya tentu macam-macam, mulai kritik, optimisme atlet, harapan atlet, analisis para pakar soal prediksi, jalannya pertandingan, hingga hasilnya, bahkan dukungan dari rakyat untuk mereka semua. Setidaknya begitulah secara umum pewarta menuliskan dan menyebarkan berita itu.

Namun, adakah dari pembaca yang menyadari satu keganjilan berita olahraga itu? Coba sesekali cermati berita-berita mengenai cabang olahraga di Indonesia, mulai renang hingga sepak bola.

Jika teliti, Anda akan menemukan sebuah kata simbolis yang hanya ditemukan dalam satu olahraga tertentu. Kata itu ialah garuda, bisa saja Garuda Muda, timnas Garuda, atau Garuda Asia.

Namun, pertanyaannya, mengapa kata simbolis garuda hanya digunakan dalam cabang olahraga sepak bola? Kenapa pewarta tak menggunakan kata itu untuk cabang olahraga lain?

Agar pertanyaan itu terjawab, dasar penggunaan kata garuda dalam konteks itu harus jelas, misalnya, kenapa menggunakan kata garuda dan kepada siapa kata garuda itu dapat ditujukan.

Garuda ialah lambang negara, sejalan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, yaitu “lambang negara Indonesia (berupa gambar burung garuda dengan bulu sayap berjumlah 17, bulu ekor 8, bulu leher 45, cakar mencengkeram pita bertuliskan ‘Bhinneka Tunggal Ika’, dan berperisai lambang Pancasila di dadanya)”.

Karena dasar itu, pewarta mengibaratkan atlet seperti garuda yang sedang berusaha memperjuangkan negara.

Namun, kenapa dalam praktiknya kata itu hanya digunakan pada berita sepak bola? Di situlah penulis merasa tidak sepaham.

Seharusnya simbol garuda bisa digunakan bukan hanya untuk atlet sepak bola, melainkan juga untuk atlet lain, seperti bulu tangkis, tenis, dan renang.

Tentu, setiap atlet juga berhak untuk menyandang kata garuda karena mereka bagian dari NKRI dan berjuang untuk Tanah Air.

Bahkan, sebenarnya dalam arti yang lebih luas, garuda juga bisa ditujukan bukan hanya untuk atlet, melainkan juga untuk mereka yang sudah berjuang untuk Nusantara, tak peduli sebesar dan sekecil apa pun perjuangan mereka.

Perlu juga diketahui, bukankah garuda selalu membawa panji Bhinneka Tunggal Ika di cakarnya dan menjadikan Pancasila sebagai perisainya? Karena itu, tak masalah siapa dia, entah itu atlet, pelajar, diaspora, pakar pendidikan, pekerja seni, entah guru, entah dia beragama Islam, Kristen, Hindu, entah Buddha, dari suku Jawa, Sunda, Batak, atau yang lainnya, selama dia memegang teguh Pancasila dan memperjuangkan NKRI, dia ialah simbol garuda, garuda yang berbeda dalam ranah dan warna.

Komentar