Tifa

Pelopor Puisi Nonkonformis Soviet

Sabtu, 29 July 2017 23:16 WIB Penulis: Iwan J Kurniawan/M-2

MI/IWAN J KURNIAWAN

Iwan J Kurniawan *
iwak@mediaindonesia.com

Tokoh sentral puisi klasik Rusia adalah Pushkin. Namun, Kholin dan Sapgir mencuat sebagai dua tokoh penting gerakan puisi
bawah tanah pra hingga pasca-Perang Dunia II.

MANUSKRIP berwarna cokelat sudah pudar. Sampulnya termakan usia dan terpajang rapi di etalase kotak kaca persegi. Dari luar terbaca jelas judulnya Mesyats za Mesyatsem/Bulan demi Bulan) 1962.

Seorang pengunjung perempuan tampak memperhatikan bebait paragraf yang kabur itu. Sesekali dia mengangguk sebelum bergeser ke koleksi berikut. Di sudut lainnya, sekelompok remaja juga asyik mendengar rekaman audio visual.

Buku Mesyats za Mesyatsem ialah sebuah kumpulan puisi terbaik. Penyair Uni Soviet (Rusia) Igor Sergeevich Kholin (11 Januari 1920-15 Juni 1999) yang menulisnya. Dia salah satu tokoh penting realisme sosial.

Di meja lainnya, ada coretan ­ta­ngan Kholin. Berlembar-lembar kertas memang sudah koyak. Itu berupa petilan puisi-puisinya semasa pra hingga pasca-Perang Dunia II. Ada yang tak bertanggal dan ada pula tak bertahun.

Karya dokumen dan arsip itu tersaji lewat pameran seni kontemporer bertajuk Kholin and Sapgir: Manuscripts di Garage Museum of Contemporary Art, Kompleks Gorky Park, Moskow, Federasi Rusia, awal pekan ini.

Di sekitar lokasi pameran, orang-orang ramai beraktivitas di taman. Maklum, di musim panas ini, siang lebih panjang ketimbang malam. Air mancur beraneka warna pun menyembur ke wuwungan langit sebelum jatuh kembali.

Di ruangan pameran, mata saya sesaat tertuju pada petilan-petilan puisi karya Kholin. Tersaji dalam bahasa Rusia. Plus, terjemahannya dalam bahasa Inggris. Salah satu puisinya berjudul Yuzhnoye Solntse/Matahari di Ufuk Selatan.

Liriknya penuh makna. Tentang sebuah pertempuran di selatan. Isinya sebagai berikut, Matahari di ufuk selatan/pada warna, begitu ter­gores,//Matahari di ufuk selatan/pada langit,/laksana semangka...//Jika aku/terbangun di lengkung gunung,/sebelum dia capai// Gapailah.

Helatan pameran manuskrip ini memang unik. Selain Kholin, Garage menghadirkan karya penyair Henry Veniaminovich Sapgir (1928–1999). Sapgir dan Kholin memang dua tokoh andal. Mereka banyak mendapatkan perhatian pengamat sastra setempat.

Proses berkarya mereka memang lain dari penyair semasanya. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di penjara akibat karya-karya yang dinilai radikal. Tak mengherankan, mereka bergerak secara underground (bawah tanah) di era itu.

Kini, karya-karya mereka jadi rujukan. Saya pun sempat berbincang-bincang dengan para sastrawan dan pakar bahasa setempat, seperti Vadim Panov (sastrawan), Tatyana Ustinova (novelis), dan Irina Viktorovna (seorang ahli linguistik).

“Perkembangan puisi di era pra hingga pascaperang memang sangat banyak. Penyair yang bergerak underground sering jadi sasaran penguasa. Puisi Rusia mengalami perkembangan yang kuat. Mulai Pushkin sampai Kholin,” tutur Viktorovna.

Dari barak ke barak

Karya-karya Kholin dan Sapgir begitu menyentuh jiwa. Tak mengherankan, dua tokoh tersebut digadang-gadang kritikus sastra sebagai pelopor sastra nonkonformis Soviet. Ini terbukti lewat pameran yang berlangsung hingga Minggu, 13 Agustus mendatang, itu.

Sisi seni Kholin jelas pada aliran realisme sosial. Fakta bahwa kehidupan itu sendiri adalah subjek dari puisinya, sedangkan manusia mo­dern menunjukkan ironinya. Puisi dia lainnya yang juga terkenal berjudul Zhiteli Baraka/Penduduk Barak.

Itu tidak lain karena semasa kecil, Kholin sudah hidup dari barak ke barak akibat perang. Kholin remaja pun sempat jadi tentara dan ikut berperang pada 1940-1946. Salah satunya, yaitu perang Rusia-Praha.

Pada angkatannya, memang terdapat pula sederet penyair ternama. Sebut saja Yevgeny Yevtushenko, Gleb Gorbovsky, Leonid Gubanov, Anatoly Zhigulin, Nikolay Zabolotsky, Boris Zakhoder, Michael Isakovsky, Viktor Krivulin, Leonid Martynov, dan Novella Matveeva.

Namun, Kholin ialah sosok yang hidupnya paling nahas. Kholin remaja pun sempat menetap di monastri lantaran ditinggal orangtuanya. Hidup dalam sepi dan asing membuatnya lebih banyak berkontemplasi.

Tak ayal, lewat pameran ini, pengunjung bisa lebih mengetahui perkembangan puisi bawah tanah Rusia. Saya sendiri tersentuh oleh kisah-kisah perjalanan hidup Kholin. Dari situasi sulit, dia bangkit meracik puisi-puisi lawas.

Tidak hanya lembaran buku puisi bisa kita lihat di Garage. Namun, ada pula rekaman suara asli Kholin dan Sapgir, film kartun yang diadaptasi dari puisi, dan ilustrasi. Semua rapi tersaji, enak ditonton, dan mudah dipahami.

Salah satu buku Kholin sukses diadaptasikan jadi film kartun. Judulnya Zhadnyy lyagushonok/Katak yang Serakah (1962). Kisahnya tentang dunia anak-anak yang jauh dari persoalan. Saya pun ikut menonton sembari duduk manis di bangku empuk.

Kholin dan Sapgir memang tak sepopuler AS Pushkin (1799-1837), penyair klasik Rusia. Namun, sumbangsih mereka berdua lewat karya puisi telah mendapatkan perhatian khusus peneliti sastra.

Pameran manuskrip ini jadi penting. Pertama, puisi itu abadi ketimbang penyair. Kedua, apresiasi masyarakat terhadap sastra Rusia sangat tinggi. Ketiga, gerakan puisi nonkonformis Soviet hadir sebagai penanda suatu zaman sastra bawah tanah dunia. (M-2)

Komentar