Tifa

Menggabungkan Seni dengan Fesyen

Sabtu, 29 July 2017 23:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KETIKA Anda memejamkan mata, sejenak istirahat dari segala macam aktivitas dan rutinitas, akan ada banyak hal yang berseliweran dalam pikiran. Bisa jadi tentang kerjaan yang belum kelar, masalah keuangan, bayar cicilan mobil, biaya pendidikan anak, cekcok dengan pasangan, sampai teringat kenangan mantan. Apa pun seliweran masalahnya, itu bunga rampai kehidupan. Justru di situlah menariknya. Itu pula yang menjadi jamak dalam kehidupan modern, kehidupan urban perkotaan.

Ketika itu terjadi, ada baiknya luangkan waktu sejenak untuk menengok instalasi berjudul Me and My Monkey Mind karya Indieguerillas di Pacific Place Jakarta pada 10-30 Juli 2017. Instalasi itu menjadi bagian dari rangkaian Art Jakarta 2017 pada 27-30 Juli di Grand Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta.

Seolah merespons kondisi tersebut, Indieguerillas menggantung karya instalasi serupa tiang berbalut kain putih bergambar. Karya seni instalasi tersebut berbentuk lima tiang dari bahan kain. Di bagian kain, terdapat beragam simbol yang digambarkan sebagai visual monkey mind, seperti seorang pria berkepala babi atau pria dengan kepala jam.

“Pikiran-pikiran ini kemudian menjadi kegundahan yang kita ciptakan sendiri. Kumpulan pemikiran ini disebut monkey mind--datang dan pergi, memenuhi kepala kita,” begitu yang tertulis dalam deskripsi karya.

Ketika berdiri di karpet di bawah tiang itu, seraya mendongak ke atas, akan ada sensasi dan pengalaman tentang kehidupan yang tidak mulus. Sebab tiang-tiang itu punya bagan dalam yang tidak rata, penuh gelombang. Namun, ketika menarik napas dan memfokuskan pandangan, sekaligus menenangkan pikiran, yang timbul perasaan tenang.

Karya itu menggambarkan usaha untuk mengatasi berbagai kegelisahan pikiran. Memang bukan hal mudah, melainkan ketenangan pikiran, sikap positif, dan pasrah.

Indieguerillas menyajikan sebuah konsep yang begitu dekat dengan kehidupan urban di kota-kota besar. Masalah itu tentunya sesekali pernah dialami. Karya itu seolah memberikan sebuah harapan. Sebuah pesan tentang kegelisahan dapat diatasi dan jika berhasil, kehidupan pun akan menjadi lebih menyenangkan.

Mendunia

Art Jakarta 2017 ialah perhelatan seni Indonesia yang telah mendunia dengan ciri tersendiri, yaitu menggabungkan seni dengan komponen fesyen dan lifestyle. Bertemakan Unity in diversity, pameran seni rupa yang sebelumnya dikenal dengan nama Bazar Art Jakarta ini secara konsisten menghadirkan tidak hanya galeri seni lokal, tapi juga galeri-galeri seni mancanegara. Tak kurang dari 53 galeri berturut dalam helatan ini terdiri atas 20 ­galeri seni dalam negeri dan 33 galeri luar negeri.

Selain Mal Art karya ­Indieguerillas, Art Jakarta 2017 juga banyak ­menggelar program interaktif dan edukatif seperti Mal Art, creative workshop, art performance, creative talk, lelang seni untuk amal, pop up restaurant, dan art bar. Selain itu, masih ada video art competitions dan area khusus pameran karya seniman muda oleh Bekraf.

Video art competition pada Art ­Jakarta 2017 mengambil tema Unity in diversity. Sejumlah 10 video terbaik karya anak bangsa dapat dinikmati di ruangan video art screening.

Setelah mendulang kesuksesan di tahun lalu, Art Bar tahun ini juga menyajikan merchandise spesial Art Jakarta 2017 yang mengolah karya seni Hendra Hehe Harsono, Indra Dodi, Radi Arwinda, dan Ugo Untoro. Koleksi merchandise diwujudkan dalam bentuk scarf, clutch, tas, dan buku sketsa.

“Kami memilih benda-benda fungsional untuk direspons para seniman. Hal ini menjadi relevan dan mudah diterima komunitas gaya hidup di Indonesia, apalagi dengan semangat amal yang tumbuh di komunitas tersebut,” ujar Deputi Head of Committee Art Jakarta 2017 Lia Lirungan.

Sebagai bentuk perhatian untuk seniman muda Indonesia, Art Jakarta 2017 mempunyai program Bekraf Emerging Artists. Dalam program itu, Bekraf memberikan ruang kepada para seniman muda untuk menampilkan karya mereka yang berupa lukisan, fotografi, dan instalasi. Sebanyak 45 karya yang terpilih ditampilkan di area khusus selama Art Jakarta 2017 berlangsung.

Sebelumnya, Bekraf mengadakan open call selama satu bulan yang diikuti 427 seniman dari hampir semua wilayah di Indonesia. Karya tersebut lalu dikurasi Rifki Effendi (Goro) dan Asmudjo hingga berakhir dengan hasil 45 seniman.

Bekraf ingin menunjukkan kebe­ragaman bukanlah sebuah kekurang­an bagi Indonesia, melain­kan kekuatan Indonesia sebenarnya. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar