Eksplorasi

Hiu Mulut Besar Langka di Perairan Indonesia

Sabtu, 29 July 2017 00:41 WIB Penulis: National Geographic/dailymail/Grt/L-2

DAILYMAIL

HIU mulut besar (Megachasma pelagios) atau hiu megamouth biasanya hidup di perairan dalam dan sangat jarang dijumpai di lepas pantai.

Namun, kali ini hiu yang memang memiliki mulut berukuran sangat besar itu terlihat berenang di lepas pantai perairan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Dalam video yang berhasil merekam ikan langka itu, tampak jelas hiu mulut besar meluncur di dalam air.

Kepala dan mulutnya yang khas begitu dekat dengan dengan penyelam, hingga kemudian hewan itu berbalik dan menjauh.

Penyelam asal Inggris yang beruntung tersebut ialah Penny Bielich yang saat itu tengah menyelam di perairan Pulau Komodo, Indonesia.

Saat melihat hiu megamouth, Penny mengenalinya dari mulut hiu yang menganga besar.

Ia melihat dan merekam makhluk besar tersebut saat menyelam dari bagian paling utara Pulau Komodo, di kawasan Gili Lawa Laut, Selasa (25/7) lalu.

Sejak penemuan pertamanya pada 1976, hingga saat ini hanya 60 penampakan yang tercatat.

Museum sejarah di Florida menyimpan daftar resmi penampakan hiu tersebut.

International Union for the Conservation of Nature (IUCN), yang tetap aktif mendata populasi spesies di dunia, mencatat 102 spesimen telah diamati.

Pertama kali ditemukan di lepas pantai Hawaii pada 1976, hiu ini terlihat aneh sehingga untuk mengklasifikasikannya para ilmuwan membuat nama genus dan famili yang baru.

Hingga hari ini tak banyak yang diketahui tentang jenis hiu tersebut, kecuali mulut yang sangat besar.

Meski bermulut besar, hiu ini tidak mengancam ataupun menyerang manusia. Hiu mulut besar tidak memiliki gigi tajam meski mereka mempunyai sekitar 50 baris gigi kecil.

Ketiadaan gigi tajam disebabkan hiu ini hidup dengan mengonsumsi jenis plankton dan udang-udangan kecil yang dimasukkan ke rahangnya yang besar.

Hiu mulut besar memiliki tubuh lembek, lembut, dan kemampuan berenang yang buruk.

Dia berenang dengan mulut terbuka untuk memakan plankton dan ubur-ubur.

Ikan besar ini bisa tumbuh hingga 5 meter panjangnya.

Selain mulutnya yang lebar, hiu ini juga bisa dikenali dari kepalanya yang berbentuk moncong.

Hiu mulut besar biasanya ditemukan di perairan dangkal dekat permukaan air dan kedalaman laut hingga 1.600 meter.

Hal ini menunjukkan hiu tersebut merupakan hewan diurnal (binatang yang aktif di siang hari dan tidur di malam hari), dan berpindah-pindah antara laut dalam dan dangkal secara teratur.

Jenis hiu ini diperkirakan dapat bertahan hidup secara alami hingga 100 tahun.

Menurut para ahli, reproduksi hiu ini bersifat ovovivipar, yang berarti janin hiu berkembang di dalam telur yang menetap dalam tubuh induk betina hingga saatnya menetas.

Mereka kerap terlihat di dekat Jepang dan Taiwan, tetapi penampakan mereka pernah pula terjadi di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia.

Karena persebarannya yang luas, dalam daftar International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) tercantum hiu mulut besar sebagai spesies dengan status 'risiko rendah' (least concern).

Hiu mulut besar bukannya tak menghadapi ancaman sama sekali.

IUCN mencatat ada banyak penangkapan tidak disengaja yang dilaporkan para nelayan, terutama di Asia Tenggara.

Baru-baru ini seekor hiu mulut besar tertangkap di lepas pantai Jepang.

Hewan itu diangkat ke dalam kapal nelayan tetapi dilepaskan dan kemudian ditemukan tewas di dasar laut.

Para ilmuwan meyakini hiu tersebut tewas karena masalah kesehatan terkait dengan stres.

Komentar