Eksplorasi

Futbol Amerika dan Risiko Kerusakan Otak

Sabtu, 29 July 2017 00:31 WIB Penulis: AFP/Hnf/L-2

AFP

FUTBOL Amerika merupakan salah satu olahraga terpopuler di Amerika Serikat.

Menambah kepopulerannya, futbol Amerika juga dikenal keras yang berisiko pada kerusakan otak.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada Journal of American Medical Association melaporkan 99% dari otak pemain futbol Amerika yang sudah meninggal menunjukkan tanda penyakit degeneratif.

Penyakit tersebut diyakini diakibatkan pukulan berulang pada kepala.

Para peneliti dalam studi mereka menemukan bukti mencolok tentang ensefalopati traumatik kronis (chronic traumatic encephalopathy/CTE) pada 110 dari 111 otak para pemain olahraga yang dinaungi kompetisi National Football League (NFL) tersebut.

CTE merupakan gejala kerusakan otak yang digambarkan sebagai disfungsi otak. Kerusakan tersebut menyebabkan gejala termasuk kehilangan ingatan, vertigo, depresi, dan demensia. Penyakit tersebut bisa bersifat sementara, permanen, dan kambuhan.

Selain pemain yang berkompetisi di NFL, para peneliti asal Boston University tersebut meneliti otak pemain yang pernah berkompetisi di sekolah menengah atas, perguruan tinggi, semi profesional, dan liga sepak bola Kanada.

Dari total 202 pemain yang diperiksa, peneliti menemukan sekitar 87% pemain menunjukkan tanda-tanda CTE.

Rata-rata usia kematian para permain tersebut ialah 66 tahun.

"Temuan ini menunjukkan CTE bisa saja terkait dengan keikutsertaan sebelumnya dalam permainan sepak bola dan permainan tersebut mungkin terkait dengan risiko penyakit yang besar," ujar peneliti.

NFL sebagai kompetisi yang pemainnya banyak menderita penyakit tersebut bukannya tidak pernah peduli terhadap hal tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengelola NFL telah menyumbangkan dana penelitian terkait dengan gegar otak.

Selain itu, mereka membuat peraturan yang lebih ketat sebagai bentuk upaya meminimalkan dampak fisik yang berpotensi traumatis dalam permainan sepak bola.

Salah satunya pada 2015 pengelola NFL menggelontorkan uang sejumlah US$1 miliar untuk menyelesaikan ribuan tuntutan hukum dari para mantan pemain yang mengalami masalah neurologi.

Meskipun penelitian yang diklaim sebagai studi CTE itu menunjukkan penyakit tersebut mungkin saja terkait dengan keikutsertaan seseorang dalam permainan sepak bola, para peneliti memperingatkan supaya tidak mengekstrapolasi hasil tersebut ke populasi secara umum karena otak yang diteliti dalam studi tersebut bukanlah berasal dari populasi umum.

Otak tersebut sebagian besar disumbangkan keluarga pemain yang bersangkutan.

Selain itu, mereka pun tidak bisa dianggap selalu mewakili orang yang melakukan olahraga dengan kontak fisik yang cukup kasar.

Komentar