Jendela Buku

Dunia Politik dan Kisah Cinta

Sabtu, 29 July 2017 00:21 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

RASA kagum menjadi awal mula keterlibatan Sigi dalam lingkungan politik yang semakin hari justru tidak disukainya.

Padahal, sudah tiga tahun Sigi bekerja menjadi salah satu staf anggota DPR idolanya sekaligus kakak angkatannya di perguruan tinggi, Johar Sancoyo.

Hari-harinya hanya diisi dengan memantau berita di media, agenda kerja atasannya, hingga memesan makanan bagi atasan dan dua koleganya.

Sigi merasa dirinya tidak bisa berkembang dan memuluskan cita-citanya untuk bisa berbuat banyak kepada negara.

Ia pernah membicarakan keinginannya bergabung sebagai tenaga ahli kepada sang atasan, tapi belum juga dikabulkan.

Salah satu alasannya ialah dalam peraturan tentang tenaga ahli di DPR/MPR harus berijazah S-2.

Meski ia mendapat penolakan, keinginannya tak surut.

Ia mulai banyak belajar dari buku-buku mengenai kebijakan publik pun dengan program yang sedang digagas atasannya.

Apalagi ketika dirinya kembali menemukan Timur, kakak angkatan sewaktu SMA yang juga pernah dikagumi lantaran keberaniannya untuk memimpin dan memiliki gagasan cerdas, Sigi mulai merasa mendapat banyak pelajaran dan pengetahuan lain seputar perpolitikan, meskipun tetap ia tak menyukai hal tersebut.

Perbincangan tentang politik sering dilakukannya dengan Timur karena teman lama yang baru ditemukannya tersebut akan segera mendeklarasikan partai baru dengan konsep kesetaraan bagi siapapun.

Ketertarikannya terhadap Timur tak juga bisa lepas sejak masih di bangku SMA, ia menganalogikan perihal ekspresi Timur yang berbinar-binar saat menjelaskan kondisi perpolitikan dengan dirinya saat menimbang dan membuat kue.

Kelesuannya untuk menunjukkan kapabilitas di hadapan Johar lantas berubah. Ia memberikan ulasan dan ide tentang konsep koperasi yang digagas atasannya tersebut.

Meskipun tak ada apresiasi yang menggembirakan, Sigi tak menyangka idenya tersebut dipaparkan dalam rapat pertemuan dengan Staf Unit Kepresidenan, Cipta Dirgantara.

Kemampuannya dalam analisis dan riset pun kembali ditunjukkan ketika Cipta meminta pembeda program yang akan dijalankan Johar dengan program pemerintah yang sepekan lagi akan diluncurkan.

Saat semua terdiam, termasuk sang atasan, Sigi memberanikan diri mengungkapkan gagasannya dan hal tersebut diapresiasi baik oleh Cipta.

Rasa senang melingkupi hatinya, ia berpikir dengan bantuannya tadi akan memuluskan langkah pengangkatan dirinya menjadi tenaga ahli.

Namun, lagi-lagi itu hanya khayalannya, serupa dengan pesan sang ayah; Menepati Janji di Jakarta adalah hal yang sulit.

Cinta dan takhta

Sigi semakin tegas mengambil sikap untuk tidak menyukai politik dan terlibat di dalamnya.

Namun, cintanya justru tertambat pada laki-laki yang bercita-cita untuk masuk dalam ranah yang kerap disapa abu-abu.

Ia kerap skeptis menanggapi obrolan tentang perpolitikan dengan Timur, tapi lawan bicaranya tersebut justru merasa mendapat pandangan baru dan tidak menyalahkan atas apa yang dipikirkan perempuan pecinta warna hitam dan putih itu.

Intensitas pertemuan pun dengan obrolan seputar politik dan pekerjaan membawa keduanya asyik dalam hubungan percintaan ala anak muda.

Keduanya merasa sebanding, memiliki teman bercerita dengan kemampuan yang mumpuni.

Karena itu, Sigi dan Timur tak pernah bosan untuk bertemu, berbagi cerita tentang pendirian partai, kebimbangan Sigi untuk bertahan dan menerima tawaran pekerjaan yang membebaskannya dari sengkarut politik, ataupun sekadar berbicara tentang kisah kasih masa lalu.

Berbagi pandangan berbeda dengan balutan rasa cinta menjadikan Timur bisa mengevaluasi atas apa yang sudah dilakukannya untuk terjun ke dunia politik.

Perihal cinta dalam perpolitikan rupanya juga Sigi temui pada atasannya yang memang terbilang kerap tergoda dengan perempuan berparas cantik.

Salah satu yang Sigi temui ketika seorang perempuan berusia di bawahnya datang dan mengatakan sangat ingin bertemu dengan Johar.

Karena tak bisa, ia pun segera mengirimkan surel berisi foto-foto akibat perlakuan atasannya pada diri perempuan bernama Megara tersebut.

Kepalanya semakin pusing, ah politik memang kerap menghalalkan cara apapun demi tetap mempertahankan jabatan.

Hingga di suatu hari ia mengetahui kebenaran, apa yang dilakukan Megara semata untuk mendapatkan perhatian dan uang dari atasannya.

Segar dan apa adanya

Alanda Kariza, sang penulis buku berjudul Sophismata, begitu gamblang mengungkap hal-hal seputar dunia politik dan interaksi di dalamnya, termasuk perempuan dan permainan uang.

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan novel setebal 272 halaman ini karena gaya penulisan yang apa adanya.

Tema politik dan anak muda yang diangkat Alanda dalam novel terbarunya ini juga bisa menjadi bahan bacaan bagi kedua kubu yang kerap berseberangan, anak muda yang gemar berpolitik dan tidak menyukai sama sekali.

Pandangan lain yang diutarakan akan membawa kita pada kemampuan untuk tidak saling membandingkan pilihan, tetapi tetap dapat mengevaluasi.

Ada mimpi, anak muda, politik, serta kisah cinta terkemas apik.

Tak melulu membahas keriuhan politik, tetapi juga aksi kasmaran dua insan yang saling jatuh cinta menjadi kesegaran tersendiri.

Perihal pilihan hitam putih dan abu-abu menjadi representasi dua insan dengan ketertarikan yang berbeda.

Di akhir pun terdapat satu kesimpulan yang dikemas sang penulis dalam sebuah dialog romantis, negara membutuhkan dua orang yang berbeda posisi untuk memberikan perubahan.

Politikus dalam dunia abu-abu yang kerap memberikan banyak ruang dalam ketidakjelasan jika jatuh di tangan orang yang ingin negara maju, hasilnya bisa jadi akan baik, dan seorang teknokrat yang ingin semuanya jelas batasnya, hitam di atas putih.

Semua punya peran dan berhak memilih.

(M-2)

_________________________________

Judul: Sophismata

Penulis: Alanda Kariza

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2017

Tebal: 272 Halaman

Komentar