Jendela Buku

Koboi Kecil yang Melaju ke Puncak Tribrata

Sabtu, 29 July 2017 00:11 WIB Penulis: Wnd/M-2

MENJADI calon tunggal untuk posisi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) tidak lantas membuat Tito Karnavian jemawa.

Bahkan menurut keterangan Kapolri saat itu, Jenderal Badrodin Haiti, Tito sempat menolak dengan alasan baru saja menjabat Kepala BNPT dan masih banyak seniornya yang lebih mumpuni.

Ia paham unggah-ungguh sebagai masyarakat Timur, apalagi masih ada empat angkatan senior di atasnya yang bisa berada pada kandidat tersebut.

Akan tetapi, Presiden Joko Widodo dengan kelugasannya justru menyebut satu nama sebagai calon Kapolri, Komjen Tito Karnavian. Kenyataan itu tak bisa ditampiknya.

Ia merasa mendapat tugas negara yang sangat berat karena tantangan yang semakin kompleks baik di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) maupun masyarakat luas.

Pencalonan Tito juga menjadi bukti tradisi 'urut kacang' tak lagi menjadi pertimbangan utama, tetapi justru kecakapan dan prestasi.

Meskipun banyak pihak menyetujui penunjukan Tito yang dianggap bisa membawa reformasi di tubuh polri, tak sedikit juga yang tidak sepakat dan memasukkan catatan-catatan hitam lulusan Akpol terbaik angkatan 1987 itu.

Mulai isu penerimaan aliran dana dari anggota kepolisian di Papua Labora Sitorus hingga cecaran anggota DPR Komusi III tentang Densus 88 yang kerap melanggar HAM.

Perihal pelanggaran, Tito mengatakan hal tersebut tidak benar karena dalam prosesnya polisi ingin membawa tersangka teroris ke pengadilan, tetapi kerap kali justru teroris melakukan sikap yang bisa membahayakan nyawa polisi dan masyarakat.

Ia pun tidak sepakat dengan pembentukan lembaga pengawas khusus untuk Densus karena sudah tercukupi dengan adanya Komisi III, Kompolnas, serta media massa.

Di sisi lain, ia juga sepakat untuk menggunakan pendekatan baru dalam menghadapi terorisme, salah satunya konsep deradikalisasi.

Cita-cita menjadi koboi

Buku setebal 472 halaman ini tak hanya mengungkap prestasi selama menjadi polisi dan proses pencalonannya sebagai Kapolri.

Ada kesegaran lain yang ditawarkan melalui kisah masa kecil Tito Karnavian yang tinggal di sebuah daerah tepian Sungai Musi.

Keahliannya berenang menyeberang Sungai Musi dipaparkan sahabat serta saudara-saudaranya.

Pun dengan kecakapannya menjadi seorang pemimpin sudah dimulai sejak berada di organisasi sekolah, seperti OSIS dan Pramuka.

Tito kecil juga kerap bercita-cita untuk menjadi koboi.

Ia ingin menumpas kejahatan, saat bermain dengan teman-temannya pun ia hanya ingin menjadi koboi seorang diri sementara lainnya menjadi penjahat.

Sifat tidak ingin dikalahkan tecermin saat bermain.

Ia selalu memiliki alasan sehingga dirinya tidak gugur ketika terkena tembak oleh temannya yang berperan sebagai penjahat.

Pun dengan kegemarannya membaca cerita detektif, membuat ia selalu ingin tahu dan menyelisik sebuah persoalan.

Tak hanya cakap memimpin, prestasi di bidang akademik juga sudah ditunjukkan sejak ia masih di bangku sekolah.

Salah satu buktinya, Tito berhasil menembus seleksi masuk empat perguruan tinggi ternama, UGM, Unsri, STAN, dan Akpol.

Pilihannya pun jatuh pada institusi Akpol dengan pertimbangan tak perlu menyiapkan uang indekos, kuliah gratis, serta mewujudkan cita-citanya menjadi koboi pembasmi kejahatan.

Ada cerita saat uji kelayakan yang melibatkan keluarganya, baik istri maupun anak-anaknya yang sedang belajar di Singapura.

Menarik, karena membuka sisi lain dari uji kelayakan yang bersifat santai, ramah dengan pertanyaan sederhana, tetapi tetap memiliki esensi.

Buku ini tak melulu berbahasa formal, tetapi banyak selipan canda yang bisa membuat pembaca sejenak beristirahat dari bahasan seputar dunia kepolisian.

Buku ini bagus untuk menjadi referensi pandangan tentang bagaimana proses seorang polisi bisa mencapai posisi Tribrata dengan kecakapan dan prestasi yang dimiliki.

_____________________________

Judul : Tito Karnavian dalam Pusaran Terorisme, Catatan dari

Tepian Musi ke Puncak Tribrata

Penulis : Syaefurrahman Al-Banjary dan Suryadi

Penerbit: PT Warta Mandiri Multimedia-Pusat Studi Komunikasi

Kepolisian

Terbit : Juli 2017

Tebal : 472 halaman

Komentar