KICK ANDY

I Made Arga, Dr Ferihana, dan Julianto Eka Putra: Berbagi itu Mengasah Hati

Jum'at, 28 July 2017 23:46 WIB Penulis: M-4

MI/Sumaryanto Bronto

LAYAKNYA klinik pada umumnya, terdapat papan petunjuk praktik dokter di halaman depan.

Perbedaannya, saat berkunjung untuk berobat, pasien tidak diberi setruk tagihan pembayaran atas biaya jasa medis dan obat-obatan yang didapat.

Perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dr Ferihana, sudah membuka klinik gratis itu sejak 2012, dengan nama Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa Yogyakarta di Dusun Sumberan Nomor 297 Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Jiwa sosialnya terpanggil untuk berkontribusi pada lingkungan bermula saat sering diajak menjenguk orang sakit oleh sang kakek ataupun ayahnya.

Ketika itu ia selalu mendengar keluhan utang dari orang-orang yang ditemuinya.

Kejadian tersebut terus membekas dan kembali terulang saat dirinya berkecimpung di dunia kedokteran, bertemu dengan orang sakit yang kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu.

Perempuan yang kini berusia 36 tahun itu menegaskan siapa pun bisa datang berobat kepadanya tanpa pandang agama, suku, etnik, pun jenis kelamin. Hanya tersedia kotak infak yang diisi seikhlasnya oleh pasien.

"Menolong orang itu tidak bisa dilakukan dengan memilah golongan, ras, agama, ataupun jenis kelamin. Suami pun mendukung saya untuk bersikap profesional sebagai seorang dokter dan tidak boleh membedakan siapa pun," kata perempuan yang karib disapa dr Hana.

Meskipun yang dicita-citakannya sedang berjalan, dr Hana sempat mengalami masa terberat ketika kotak infak terkadang tidak terisi sama sekali.

Apalagi ia tidak ingin membebani ayahnya yang telah memberikan bantuan materiil besar saat mendirikan klinik gratis itu.

Ia memutar otak dan terus berdoa agar apa yang sudah dilakukannya tidak berhenti begitu saja.

Ia lantas mendirikan klinik kecantikan berbekal dari pengalamannya bekerja dahulu.

Sejak itulah klinik kecantikan dengan tarif berbayar menjadi salah satu penyokong biaya operasional klinik gratis.

Selain bekerja pada klinik pengobatan umum dan kecantikan, dr Hana bersama rekan-rekan dari Komunitas Muslim Medical melakukan layanan kesehatan keliling ke daerah pelosok Yogyakarta seperti Magelang, Gunung Kidul, dan Kulon Progo.

Kini Hana juga sedang membangun rumah singgah untuk para janda setelah ia mendengar banyak cerita buruk dari para janda yang datang untuk pengobatan secara psikis di Bekam Ruqyah Center.

"Bukan menolak donasi, saya berjanji menjalankannya sendiri. Karena takut ada kepentingan lain yang hadir dari donatur yang tidak bisa saya kabulkan," ucapnya.

Tantangan lainnya ialah pandangan orang yang menilai dirinya sebagai dokter abal-abal karena mau saja dipanggil untuk memberikan pengobatan di mana pun.

Apalagi gaya busananya yang bercadar dan rumah sangat sederhana sebagai tempat tinggalnya membuat beberapa orang tidak percaya jika dirinya memang dokter.

Bagi Hana, yang terpenting bukan dilihat dari cara berbusana, melainkan cara berinteraksi dengan sesama.

Bahkan, ia tak pernah menerima cibiran dari pasien-pasiennya yang beragama nasrani maupun etnik tionghoa.

"Contoh kami Nabi Muhammad, beliau punya keponakan Yahudi, beliau juga berteman dengan nasrani. Seharusnya muslim harus lebih baik dan ramah pada kelompok lain. Karena muslim ialah duta Islam, rahmatanlil alamin," pungkasnya.

Sego bungkus

Menolong tidak harus menjadi dokter, tapi juga dengan berbagi nasi bungkus. Meski sederhana, itu bukan perkara mudah.

Inilah yang dikerjakan I Made Arga bersama teman-temannya sejak 2012 dalam Komunitas Sego Bungkus (Sebung).

Jika dahulu sebarannya bersifat sporadis, saat ini Sebung sudah memiliki tujuan jelas siapa yang berhak menerima, seperti orang-orang dengan penghasilan di bawah Rp50 ribu-70ribu dan orang-orang yang tidur di jalanan (tidak memiliki rumah).

Satu kali dalam sepekan, Arga bersama Komunitas Sebung mulai bergerilya di malam hari membagikan nasi bungkus beserta dengan air mineral.

Di waktu lain, setiap satu kali dalam sebulan, mereka pun mengunjungi Panti Asuhan atau Panti Jompo untuk melakukan aksi bakti sosial.

Ia ingin apa yang sedang dikerjakan bersama teman-temannya dapat menular kepada muda-mudi lainnya sehingga menjadikan kegiatan berbagi sebagai gaya hidup.

"Dulu kami itu mementingkan kuantitas, pokoknya ingin menumpas kelaparan. Bisa kami bawa hingga 1.000 bungkus. Kemudian kami evaluasi, bisa berbagi dengan pihak-pihak lain seperti panti asuhan dan panti jompo," tukas pria yang kini berusia 26 tahun itu.

Aktivitas berbagi pada malam hari menghadirkan kisah menarik bagi ia dan teman-temannya.

Mereka sempat dikejar-kejar preman yang meminta jatah nasi bungkus, tapi akhirnya berhasil menghindar dari kejaran tersebut.

Pun dengan dukungan orangtua yang semula tidak didapat lantaran bekerja sosial tidak menghasilkan uang.

Namun, kata Arga, kini orangtuanya mulai mengerti dan mendukung apa yang sedang dikerjakan anaknya tersebut.

Keinginannya untuk menularkan hal baik rupanya sedikit demi sedikit membuahkan hasil.

Komunitas serupa sudah berdiri di kota lain, seperti Bandung, Samarinda, dan Aceh.

Kendati misinya sudah sedikit tercapai, Arga tetap memiliki harapan lain, yaitu membuat sebuah acara yang bisa mengakomodasi kemampuan anak-anak di panti asuhan ataupun mereka yang tinggal di panti jompo supaya manfaat berbagi tak hanya bisa dirasakan si penerima, tetapi juga pemberi.

Berbagi

MENOLONG juga bisa dengan mendirikan sekolah gratis, seperti dilakukan Julianto Eka Putra yang mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak yatim piatu dan tidak mampu dan berasal dari berbagai daerah, seperti Papua, Sumatra, juga Pulau Jawa.

Semuanya berawal dari ucapannya dalam sebuah pertemuan perusahaan pada 2000.

Kala itu ia mengatakan akan mendirikan sekolah gratis pada 2010 untuk anak-anak tidak mampu.

Bukannya mendapat apresiasi baik, seusai turun panggung, pria yang akrab disapa Koh Jul justru dibombardir pertanyaan dan diminta untuk berpikir dahulu sebelum berbicara.

Ia bingung, merasa dirinya 'dijebak Tuhan' dengan janji pendirian sekolah gratis yang bahkan tidak termuat dalam teks sambutannya.

Tak hanya pemimpin-pemimpin di perusahaannya, Jul juga kembali kena omelan sang istri lantaran dianggap tidak berpikir sebelum berujar.

Meskipun ia dimarahi, rekan-rekannya mau membantu dengan menyisihkan 5% dari pendapatan per bulan sebagai modal pendirian sekolah.

Sang pemilik perusahaan di tempat Jul bekerja pun mendengar rencana tersebut dan membantunya untuk membeli lahan.

Lahan seluas 3,3 hektare akhirnya didapat pada 2003 dengan bantuan modal dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Kini, bangunan di dalamnya sudah memiliki tujuh tingkat dan dilengkapi dengan theme park yang biasa digunakan sebagai sarana belajar anak-anak didik.

SMA Selamat Pagi Indonesia yang berada di Kota Batu memiliki prioritas dalam memilih peserta didik, pertama diutamakan bagi anak yatim piatu, kedua anak yatim, ketiga anak piatu, dan terakhir anak-anak yang masih memiliki orangtua tetapi tidak mampu.

"Titik balik saya untuk fokus pada sekolah ini ketika salah seorang murid bertanya, apakah ia bisa tetap tinggal di sana karena tidak lagi memiliki orangtua sebagai tempat tinggal. Saya merasa sedih dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan fokus mengurus pendidikan dan keterampilan hidup bagi anak-anak," tukasnya.

Kini, apa yang diperjuangkan Jul hingga mundur dari perusahaan tidak sia-sia.

Sembari menahan tangis dengan suara yang bergetar, Jul mengenalkan beberapa produk wirausaha dari para alumnus SMA Selamat Pagi Indonesia, mulai keripik, soft pastry, hingga saus kemasan botol.

Pun ketika dirinya mengetahui, para alumnus yang kini memiliki usaha menyisihkan 10% penghasilannya untuk berbagi kepada orang lain.

Ia tidak pernah berpikir apa yang dilakukannya bisa ditiru dan diterapkan anak murid.

Dua tahun lalu, akta pendirian perusahaan wirausaha alumnus SMA Selamat Pagi Indonesia sudah didapat.

Sejak itu juga mereka mulai menyisihkan pendapatan dan berbagi dua kali dalam satu tahun, yaitu saat menjelang Idul Fitri dan mengundang anak-anak panti dari lima agama untuk merayakan hari jadi perusahaan mereka.

"Rasanya enak sekali, senang melihat mereka bisa menyekolahkan adik-adiknya yang hampir putus sekolah. Satu yang pasti, mereka mau berbagi padahal masih membutuhkan. Membahagiakan orangtua juga sudah mereka lakukan, dengan mengajak berlibur ke luar kota, dan rencananya mereka akan mengajar berlibur ke luar negeri," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

(M-4)

Komentar