MI Anak

Suara dari Dapur

Ahad, 23 July 2017 03:01 WIB Penulis: Abinaya Ghina Jamela/M-1

MI/Duta

IBU dirundung ketakutan karena sering mendengar suara-suara aneh dari dapur. Setiap menuangkan rebusan air ke teko atau ketika mengaduk adonan kue, dia selalu mendengar bunyi seperti anak-anak yang menangis kesakitan.

Pada mulanya sang ibu sangat ketakutan hingga enggan menjejakkan kaki ke dapur lagi. Namun, jika ia tidak memasak air atau membuat kue, ia akan kehausan dan kelaparan. Akhirnya si ibu memberanikan diri mencari tahu asal suara tersebut.

Suatu hari, ketika si ibu menuang air yang telah mendidih ke teko keramik miliknya, Ia kembali mendengar suara, 'Hu...huuuuu...huuuu'.

"Siapa itu? Tunjukkan wajahmu, aku tidak takut!" teriak si ibu sambil mengambil sendok nasi di meja untuk dijadikan senjata.

"Ibu, ini aku..., Teki, Bu!"

Si ibu kaget dan mencari asal suara.

"Aku di sini, Bu. Aku kepanasan!" ucap suara itu.

Si ibu semakin kaget ketika mengetahui bahwa suara tersebut berasal dari teko keramik miliknya yang biasa ia gunakan menyimpan teh panas kesukaannya.

"Ibu, ini aku, Ringa," tiba-tiba ibu mendengar suara yang lain dari lemari penyimpan piring.

Si ibu bergegas mengambil teko dan piring yang bisa bersuara tersebut. Ia bahagia karena akhirnya dua anaknya: Teki dan Ringa yang dikutuk penyihir jahat kembali lagi ke rumah, tapi ia juga sedih karena anaknya Teki menjadi teko teh yang tiap hari diisi air panas dan Ringa, sebuah piring porselen tempat ia biasa menyusun banyak kue bagi para tamu.

"Kami kesakitan, bu, karena setiap hari selalu diisi air panas dan dipenuhi kue-kue yang enak itu," ucap mereka bersamaan.

"Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan lagi mengisimu, Teki, dengan air panas dan tidak lagi menyusun banyak kue di tubuhmu, Ringa," jawab si ibu. "Tapi kalian harus berjanji, kalian tidak boleh bersuara ketika ada tamu. Nanti mereka semua lari ketakutan."

"Baik, bu," jawab Teki dan Ringa.

Mulai hari itu, Teki dan Ringa dipindahkan si ibu ke ruang tengah. Dan ibu tidak lagi mendengar suara-suara dari dapur.

Pagi itu, si ibu sangat gelisah. Ia mondar-mandir di ruang tengah tempat Teki dan Ringa disimpan. Sudah dua hari Teki dan Ringa tidak bersuara, tidak seperti biasanya. Ibu berpikir barangkali mereka hanya bercanda, tapi pagi ini si Ibu sangat cemas.

Ia mencuci piring dan teko tersebut, mengelap, hingga mengajaknya bicara berkali-kali. Namun, Teki dan Ringa tetap bungkam. Si ibu juga mengisi teko dengan air mendidih atau menumpuk banyak kue di piring agar mereka berteriak seperti biasa, tetapi tidak terdengar sedikit pun suara.

Tiba-tiba si ibu mendengar bisikan di telinganya.

"Ibu, undanglah teman-teman Ibu ke rumah. Ceritakan pada mereka mengenai kami yang telah disihir menjadi piring dan teko. Jika tamu Ibu percaya, kutukan kami akan hilang." Siang itu, ibu memasak banyak makanan. Ia mengundang banyak tamu untuk minum teh dan makan kue buatannya yang terkenal sangat lezat. Namun, si ibu khawatir sebab jika tidak ada yang memercayai ucapannya, kedua anaknya akan menjadi piring dan teko selamanya.

Tamu sudah berdatangan. Mereka memakan dan memuji kue buatan ibu. Ibu berdiri, lalu bicara sambil memegang Teki dan Ringa di tangannya. Ibu mulai bercerita mengenai penyihir yang mengubah Teki dan Ringa yang sekarang sedang dipegang si ibu.

Semua tamu kaget. Mereka saling berbisik. Beberapa orang meninggalkan rumah si ibu dan mengatakan bahwa si ibu sudah gila karena kewalahan menghadapi anak-anaknya. Si ibu sangat kecewa. Ibu cemas anaknya tidak akan pernah berubah menjadi manusia lagi.

Tiba-tiba empat tamu menghampiri si ibu.

"Kasihan sekali, semoga Teki dan Ringa bisa cepat terlepas dari sihir. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?"

Si ibu menggeleng. Ia menangis sedih membayangkan anak-anaknya yang tidak akan pernah berubah menjadi manusia lagi. Tiba terdengar suara.

Blooop, bloooop, bloooooop. Muncul sepasang tangan di teko yang dipegang Ibu, juga pada piring porselen. Lalu muncul sepasang mata, hidung, mulut. Ibu dan empat tamu menanti dengan cemas.

Teki dan Ringa akhirnya kembali menjadi manusia berkat bantuan empat tamu, teman ibu, yang memercayai cerita ibu. (M-1)

Komentar