PIGURA

Ana Batang Nyimpang Ana Catur Mungkur

Ahad, 23 July 2017 01:01 WIB Penulis: Ono Sarwono

MESKIPUN golongan rakyat kecil, berprofesi sebagai abdi dalem, dan ekonominya cekak, Cangik bersama anaknya, Limbuk, hidup tenteram. Impian mereka pun tidak neka-neka. Seperti syair dalam tembang Jawa, butuhe mung sabar lan narima, butuhnya hanya sabar dan bersyukur.

Paradigma hidup yang semeleh inilah yang membuat Cangik selalu bahagia walaupun tak punya apa-apa. Karena laku itu pulalah ia memiliki kepekaan terhadap apa pun yang terjadi di sekitarnya. Bukan hanya isu yang bersentuhan langsung dengan kepentingannya, melainkan juga masalah kebangsaan. Seperti sekarang ini, ideologi Pancasila yang sedang semangat-semangatnya diaktualisasikan.

Namun, sesuai dengan tingkat intelektualitasnya, Cangik menyadari bahwa dirinya tak banyak pengetahuan untuk bicara tentang Pancasila. Ia pun paham posisinya sebagai ‘kaum sudra’ sehingga apa pun yang ia omongkan tidak akan memberikan makna atau pengaruh apa-apa.

Perilaku berbudaya

“Mak, kenapa hari-hari ini Pancasila sering dibicarakan, ya?” tanya Limbuk yang duduk di atas dingklik sambil merapikan sapu lidi yang baru saja ia gunakan membersihkan halaman belakang rumah.

Limbuk lahir dari generasi ‘kencur’. Ia tak terlalu banyak tahu sejarah bangsa dan negaranya, pun tentang Pancasila. Bukan karena ia mengemohi, itu semata memang karena pendidikan formal di sekolahnya tidak cukup memberikan pembelajaran soal materi tersebut.

Cangik, yang sore itu sedang menanak nasi, menjawab, “Barangkali karena sudah lama Pancasila seperti hilang, nduk. Berbagai masalah kebangsaan saat ini ditengarai akibat praktik berbangsa dan bernegara yang tidak ber-Pancasila.”

“Aku sendiri merasakan lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam bermasyarakat. Banyak sesama warga tidak akur, tidak rukun,” kilahnya.
“Apakah karena itu lalu Presiden membentuk UKP-PIP itu, ya, mak?” tanya Limbuk. “UKP-PIP itu apa sih mak?” lanjutnya.

“Iya nduk. UKP-PIP itu kalau tidak salah kepanjangannya Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila,” jawab Cangik.

Tugas dan tanggung jawab mereka, lanjutnya, mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan melakukan pembinaan ideologi Pancasila terhadap seluruh penyelenggara negara secara terencana, sistematis, dan terpadu.

Mendengar itu, dahi Limbuk sedikit mengerut. Benaknya mencoba mengorelasikan jawaban mak-nya itu dengan situasi yang serbatidak enak yang ia dengar, ketahui, dan lihat sehari-hari, semisal banyaknya kasus kekerasan, kebencian, sampai korupsi yang terus marak.

“Jelasnya Pancasila itu apa sih, mak?” tanyanya.

“Pancasila itu ideologi, dasar negara, falsafah hidup bangsa,” jawab Cangik sedikit bergetar dengan vokalnya yang agak pelo karena ompong. “Itu jati diri kita. Jadi kita semua wajib hidup yang berdasarkan Pancasila,” tambahnya penuh gelora.

Sedikit kaget Limbuk mendengar gaya bicara mak-nya yang tidak biasa, nada suaranya yang agak meninggi. “Lalu, hidup ber-Pancasila itu yang bagaimana?” rajuknya.

Norma dan keadaban

Cangik tak langsung menjawab. Sesaat kemudian ia mendekati anaknya yang tampak bersemangat. Sebatas pengetahuannya, Cangik menjelaskan bahwa Pancasila adalah falsafah hidup yang bersumber dari nilai-nilai budaya bangsa yang digali dari segenap wilayah Nusantara.

“Jadi hidup ber-Pancasila itu, ya, sebenarnya sederhana saja, nduk. Bila kamu berperilaku sesuai dengan budaya kita, itu sudah bisa disebut juga ber-Pancasila,” jelasnya.

“Gitu, ya, mak.... Akan tetapi, budaya yang dimaksud itu yang mana?” desak Limbuk.

“Yang mak maksud budaya ini, ya, misalnya seperti norma-norma dan keadaban yang ada di masyarakat kita,” ujar Cangik.

“La iya, tapi jelasnya apa?” kejar Limbuk.

Dengan sabar Cangik lalu menerangkan bahwa norma dan keadaban itu misalnya seperti tindak-tanduk atau perilaku yang sopan, santun, toleran, jujur, tahu diri, tahu malu, rendah hati, saling mengormati, rukun, dan bergotong royong.

“Masih banyak nilai budaya kita yang luhur, nduk, nah inilah yang terabaikan dari praktik kehidupan kita.”

Semalaman Limbuk masih memikirkan omongan mak-nya itu. Keesokan harinya, seusai membereskan pekerjaan rumah, Limbuk menanyakan lagi kepada mak-nya sekitar perilaku yang tidak sesuai dengan budaya demi memuaskan rasa penasarannya.

“Mak, kalau menjelek-jelekkan orang lain, memfitnah, menistakan liyan, menyebarkan kabar bohong, apakah itu juga tidak sesuai dengan Pancasila?” tanya Limbuk.

“Ya jelas to, itu kan bukan budaya kita to, nduk!” tukas Cangik.

“Lalu saya harus bagaimana mak, padahal lingkungan di luar rumah sana kan banyak yang seperti itu,” keluh Limbuk.

Cangik manasihatinya bahwa sikap yang harus dilakukan ialah menghindarinya. Itu bertujuan agar tidak terpengaruh atau terseret lalu ikut-ikutan melakukan hal serupa.

Menurutnya, ada pitutur Jawa yang pantas direnungkan terkait dengan lingkungan yang keruh seperti itu, yaitu ana batang nyimpang, ana catur mungkur. Arti harfiahnya ialah ada terkaan dihindari, ada pembicaraan (buruk) dibelakangi. Maknanya, sikap menghindari setiap ada pembicaraan yang tidak baik tentang orang lain.

Ajaran utama

Semua wejangan Cangik terhadap anaknya ini dalam konteks kebangsaan sudah termasuk dalam pembinaan idiologi Pancasila. Karena pada dasarnya ajarannya itu merupakan internalisasi nilai-nilai Pancasila. Inilah yang kini jarang diterapkan atau terabaikan dalam lingkup keluarga.

Sesungguhnya bila ajaran utama yang demikian ini menjadi basis perilaku setiap warga, dampaknya bukan hanya memperkukuh eksistensi bangsa dan negara, melainkan juga menjadi sarana mencapai kehidupan berbangsa yang damai dan bahagia.

Dalihnya kebahagiaan itu bukan semata-mata karena berkecukupannya rakyat dalam aspek ekonomi semata. Hal yang mendasar ialah budi dan perilaku luhur yang hidup subur dan berkembang pada suatu bangsa.

Praktik inilah yang telah diinisiasi keluarga Cangik. Tanpa berkelebihan harta benda, ia bisa bahagia karena kehidupannya yang bergelimang keutamaan. Inilah yang menjadikan hidupnya senantisa ayem tenteram sepanjang hayat. (M-4)

Komentar