Tifa

Beragama dengan Rileks

Ahad, 23 July 2017 00:16 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KALI ini pameran seni rupa itu memang unik. Dua penanda kegiatan bercokol gagah di antara dua daun pintu masuk kaca. Letaknya yang berada di tengah membuat pengunjung harus lebih menghindar dengan memilih celah sebelah kanan atau kiri.

Karya seni instalasi yang dipajang di depan pintu masuk galeri itu berjudul Tragedi Jumat Siang. Instalasi itu menggunakan dua papan permohonan maaf bertulis Mohon Maaf Ada Sholat Jum’at. Satu lagi papan larangan bertulis Ada Sholat Jum’at Dilarang Melintas.

Karya itu merupakan salah satu dari pameran Bukan Perawan Maria di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta 15-25 Juli 2017. Pameran itu merupakan tafsir visual dari buku kumpulan cerita pendek (cerpen) berjudul Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani. Terdapat 19 karya dari 7 seniman yang menanggapi 19 cerita dalam Bukan Perawan Maria. Selain itu, diselenggarakan festival mini yang terdiri atas acara Pelatihan Relaksasi Beragama. Ke-19 cerita dalam buku ini ialah tawaran untuk lebih santai, semacam relaksasi, melalui pendekatan yang empatik terhadap berbagai kepercayaan yang hidup dalam keberagamaan di sekitar kita.

Selain karya berjudul Tragedi Jumat Siang, karya lain punya judul yang cukup menggelitik seperti Lafaz 411 pada ... (Saya tidak tega menyebutnya), Percakapan Sepasang Tangan, Poligami dengan Peri, Tanda Bekas Sujud (1), Tanda Bekas Sujud (2), dan Rencana Pembunuhan sang Muazin. Selain itu, masih ada dua gambar karya Serrum yang berjudul Malaikat Cuti dan Iblis Pensiun Dini.

Karya Hamba Allah berjudul Rencana Pembunuhan sang Muazin. Dalam deskripsi karya tertulis; ada yang mendekam dalam speaker, ada yang menggeliat dalam telinga. Karya itu memakai instalasi speaker, daun telinga buatan, dan headset yang digantung. Ketika menempelkan telinga pada headset dan mendengarkan suara yang keluar, Anda akan paham dengan judul itu. Suara yang terdengar sangat tidak jelas, bahkan cenderung menyakiti telinga, ketika warga merencanakan keinginan untuk membunuh muazin.

Dua karya lain yang cukup mengetes kerileksan beragama ialah Tanda Bekas Sujud. Dua seri karya itu seolah menyampaikan pesan terdalam tentang cinta kasih. Seri pertama karya Tanda Bekas Sujud (1); Apakah Tanda Hati Ada di Dahi? menggambarkan dua topeng yang salah satunya punya tanda hitam di dahi, sedangkan Tanda Bekas Sujud (2); Di dalam Persembunyian, Ia ­Belajar Menghargai Makhluk Tuhan; menampilkan video perempuan berkerudung yang merawat anjing.

Selain itu, masih ada karya Ana Al-Hubb, Bukan Perawan Maria. Ruang Tunggu, Pertanyaan Malaikat, dan Typo. Ditambah lagi karya instalasi berjudul Perempuan yang Kehilangan Wajahnya dan Baby Ingin Masuk Islam, Anda?

Relaksasi beragama

Pameran ini juga menjadi bagian kampanye Relaksasi Beragama dengan slogan Rileks, it’s just religion. Gerakan Relaksasi Beragama ialah gerakan kampanye agar semua pihak berhenti sejenak dari pusaran rutinitas dalam beragama untuk menjadi lebih rileks dan berempati dalam menanggapi pihak lain yang berbeda pemahaman.

“Sebenarnya, ini bagian dari langkah pertama untuk menggulirkan kampanye relaksasi beragama. Jadi memang awalnya buku. Buku itu kemudian kami lihat punya tema Islam dan juga gerakan untuk berempati, serta melihat humor dalam segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Tapi tidak mengolok-olok,” terang kurator pameran.

Lebih jauh, pameran ini juga ­ingin menciptakan ruang dialog bagi keragaman, seni berpeluang besar menciptakan ruang itu. Sebab seni punya sifat multitafsir. Pastilah pemahaman atau tafsir setiap orang bisa berbeda dan beragam. Yang terpenting ada ruang untuk bercakap dan berdialog.

“Menjadi penting untuk kampanye ini agar kita bisa mengembalikan suasana untuk hal-hal yang lebih substansial. Ini kan sekarang, ketegangan terbangun oleh pendekatan yang emosional terhadap politik identitas misalnya,” tambah Hikmat.

Menurut Hikmat, saat ini terdapat dua kategori kelompok yang tegang. Pertama, kelompok yang beragamanya tegang. Yang satu lagi berkebalikan, kelompok ini tegang kalau ada agama. “Dua pihak berseberangan sama-sama tegang. Makanya slogannya Rileks, its just religion,” tegasnya.

Ada tiga prinsip dalam kampanye relaksasi beragama. Pertama, agama itu jalan, bukan tujuan. Kedua, welas asih itu lebih utama daripada bersikap benar. Ketiga, persamaan hakikat manusia.

“Karena kita pengin semua bisa hidup bersama dengan baik-baik,” pungkas Hikmat. (M-2)

Komentar