Tifa

Berpaku pada Keintiman

Ahad, 23 July 2017 00:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

MI/ABDILLAH M MARZUQI

SEDARI awal, pertunjukan itu telah memberi tanda. Sekelompok aktor anak-anak masuk berurutan dengan kostum pemain sepak bola. Beberapa adegan pembuka kental dengan nuansa olahraga, mulai kostum, properti, hingga sikap para aktor.

Mereka menghindari penonton berkerut kening. Mungkin kalimat itu yang pas untuk menggambarkan pentas Teater Kami. Tak terkecuali malam itu ketika mereka mementaskan judul Favor of God (FOG) di Bentara Budaya Jakarta pada 11-12 Juli 2017. Pementasan ini didukung Ribka Maulina Salibia, Ummi Endut, Aini, Hanifa, Nene, Rezky Babeh, dan paduan suara Tanjung Barat Advent Academy.

Tema tersebut diilhami kisah nyata legenda sepak bola Indonesia, Ronny Pattinasarany, yang mengalami cobaan berat dalam hidupnya saat dua anak laki-lakinya menjadi pencandu narkoba. Demi menyembuhkan dan memulihkan mereka, Ronny rela berhenti dari kesibukan dan karier sepak bola yang telah membawa keharuman namanya untuk memberikan perhatian dan kesabaran yang sangat luar biasa dalam mendampingi dan merawat kedua anaknya.

Sutradara sekaligus penulis naskah, Harris Priadie Bah, menyatakan meskipun berangkat dari cerita nyata, pertunjukan ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai karya biografi, tapi hanya menjadikan kisah itu sebagai ilham atas karya pemanggungan. “Kami hanya menjadikan kisah sejati ­legenda sepak bola itu sebagai ilham atas karya pemanggungan kami ini, sebagaimana juga beberapa karya terdahulu kami yang didasarkan pada kisah nyata di masyarakatnya,” terang Harris.

Dengan cara ini, menurut Harris, pertunjukan bisa terbebas dari beban keakuratan kisah sejatinya sekaligus membuka peluang lebih terbuka untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan pengucapan lain, baik dalam karya sastra maupun pemanggungan. Misalnya ketika Harris mengganti persona kedua anak laki-laki dalam kisah sejatinya menjadi tokoh atau karakter anak perempuan dan salah satu anak pecandu narkoba diganti dengan anak perempuan yang hidup dalam pergaulan bebas dan terjebak dalam lingkaran LGBT.

Kreativitas dan imajinasi

Sutradara Harris Priadie Bah juga menegaskan arah Teater Kami untuk mengangkat tema-tema tentang kehidupan di masyarakat dan terjadi di lingkungan sehari-hari. Dengan begitu, menurutnya, hal itu akan mendekatkan karya seni dengan masyarakatnya. Selama ini Teater Kami berkeyakinan bahwa peristiwa-peristiwa di sekeliling kita sebenarnya dapat diolah menjadi suatu pertunjukan kreatif. Mereka ingin menerapkan suatu pendekatan yang cair dalam memandang realitas melalui kreativitas dan imajinasi. Tak terkecuali untuk naskah FOG.

“Melalui karya terbaru kami yang berjudul ‘FOG’ kami ingin menegaskan komitmen kami yang fundamental terhadap keberpihak­an kami atas nilai-nilai luhur dan sejati makhluk sosial yang bernama manusia,” terang Harris.

Harris juga menambahkan kadar dramatik pada adegan kecil pertengkaran antara kedua anak perempuan tersebut, pada kisah aslinya tidak ada, serta beberapa ­adegan reka cipta lain, semisal ­adegan Kamar Doa, dan Hujan Bola, sebagai adegan pembuka.

Sepanjang durasi 1 jam pertunjukan, penonton akan dihadapkan pada ciri khas pertunjukan Teater Kami yakni permainan diksi. Selain itu, penonton tidak akan dibiarkan berkerut kening. Begitu pun kala pertunjukan usai. Teater Kami menyajikan keintiman tidak hanya dalam ruang fisik pertunjukan, tapi pula dalam pilihan tema yang diangkat. Dengan mengangkat tema kehidupan masyarakat yang terjadi sehari hari di sekitar lingkungan, teater akan mampu mendekatkan karya seni dengan masyarakat. Teater Kami tidak mengizinkan keberjarakan antara penonton dan pentas. “Aku merasa apa yang aku perbuat harus bermakna bagi penonton. Jadi tidak mengandaikan keberjarakan,” tegas Harris.

“Teater bagaimanapun harus berguna bagi penontonnya, seberapa­ pun kecilnya kebergunaan itu. Bagiku itu,” lanjutnya.

Keintiman merupakan hal paling dituju dalam pementasan Teater Kami. Pertunjukan tidak membiarkan para penonton terlalu jauh dengan panggung. Penonton akan bisa memperhatikan dengan jelas dan detail pertunjukan dengan jarak yang hanya sekitar 2 meter. Di sisi lain, pertunjukan juga membawakan tema yang menolak keberjarakan tema pementasan dengan penonton. Intim dalam pengertian ruang nyata pertunjukan dan ruang imajinasi teater.

Bagi Harris, teater bukan hanya sekedar artistik, estetik. Bukan pula semakin aneh, semakin tidak bisa dimengerti, semakin hebat teater. Lebih dari itu, baginya teater harus bisa dinikmati tanpa berkerut ­kening. “Teater harus bisa dinikmati,” pungkasnya. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar