Film

Bertahan di Kompas Moralitas

Sabtu, 22 July 2017 23:31 WIB Penulis: Hera Khaerani

DOK. TWENTIETH CENTURY FOX

Para kera ini mampu menunjukkan moralitas yang tak jauh berbeda dengan sifat dasar manusia.
JAUH di dalam hutan, Caesar (Andy Serkis) telah membawa sekawanan kera. Tak ada niat berperang melawan manusia yang merasa keberadaannya terancam semenjak merebaknya virus yang membuat manusia kehilangan kemampuan dasarnya, sementara kera semakin pintar. Caesar dan ke­lompoknya hanya ingin hidup dengan damai, tanpa perang.

Caesar sebelumnya telah membunuh Koba (Toby Kebbell), seekor kera yang ingin membalas dendam pada manusia yang dulu pernah menyiksanya. Namun, konflik antara manusia dan kera kadung memanas dan tidak bisa dipadamkan. Bahkan di dalam hutan yang demikian tersembunyi, Caesar dan kelompoknya terus diburu pasukan yang dipimpin seorang kolonel kejam (Woody Harrelson).

Di dalam perburuan itu, istri dan anak Caesar tewas mengenaskan. Hanya tersisa anak bungsunya yang masih sangat kecil.

Dia pun terbakar oleh dendam. Tanpa disadarinya, Caesar berubah menjadi sosok yang tidak jauh berbeda dari Koba. Dia tidak bisa menanggalkan kemarahannya. Padahal, alasan kenapa dia dipercaya memimpin kawanan kera itu mulanya adalah moralitas yang dijunjungnya. Caesar selalu ingin membuktikan mereka makhluk yang beradab, tak berbeda dengan sifat dasar manusia.

Itulah sekelumit kisah yang diangkat dalam film War for the Planet of the Apes yang merupakan bagian ketiga dari franchise blockbuster Planet of the Apes. Jika Anda mengikuti film-film sebelumnya, akan sangat terasa bagaimana latar ruangnya kini menjadi lebih luas.

Jika mulanya berawal dari ruang-ruang penelitian yang sempit, kini penonton diajak memasuki medan perang yang luas antara kera dan manusia. Mulai hutan yang rimbun, pegunungan bersalju, hingga tempat karantina yang diubah menjadi penjara dan benteng pertahanan. Bahkan Caesar beserta kelompoknya akan menyadari, bukan hanya mereka yang terkena dampak virus yang merebak dan perang yang terjadi. Masih ada kera-kera lain yang tidak mereka tahu sebelumnya.

Menyelami rasa

Mengajak penonton turut menyelami perasaan karakter manusia dalam film itu sudah biasa. Namun, bagaimana bila karakternya bukan manusia, melainkan kera?

Secara menakjubkan, keunggulan War for the Planet of the Apes ialah kemampuannya menarik penonton untuk turut berempati terhadap para kera yang diperankan aktor-aktor seperti Andy Serkis, Steve Zahn, Karin Konoval, dan Terry Notary. Wujud luar yang berbalut bulu sebagaimana kera tidak menghalangi ekspresi wajah dan gestur yang penuh penghayatan.

Sebagaimana Rise and Dawn, War for the Planet of the Apes dibuat dengan menggunakan teknologi performance capture. Teknologi itu memungkinkan untuk merekam gerakan dan emosi sekecil apa pun dari aktor manusia menjadi karakter animasi.

“Performance capture tidak ada bedanya dengan akting dengan kostum dan make-up. Aktor bukan mewakili karakter yang diperankan, melainkan menjadi karakter tersebut,” jelas Andy Serkis yang memerankan Caesar.

Berkat teknologi itu, gurat kesedih­an dan rasa frustrasi kawanan kera menjadi sangat kuat terasa. Demikian pula dengan amarah dan pergulatan batin lainnya. Ketika Media Indonesia menonton film itu dalam press screening di Jakarta, Rabu (12/7), kelelahan dan rasa lunglai di tubuh Caesar beserta kelompoknya seolah bisa turut saya rasakan.

Karena memerankan tokoh berbagai jenis kera, para aktor memang dituntut untuk akting secara fisik. Gerakan mereka mesti menyesuaikan gerakan kera, jadi tubuh pun banyak berbicara.

Meski banyak kepedihan yang diangkat dalam film ini, tidak berarti War for the Planet of the Apes bernuansa suram dari awal hingga akhirnya. Hadirnya karakter baru bernama Bad Ape yang diperankan Steve Zahn cukup signifikan mengundang tawa.

Bad Ape ialah seekor kera yang agak ceroboh. Dia mendapatkan namanya karena manusia sering menyebut dirinya sebagai ‘bad ape’ alias kera nakal. Menyaksikan banyak hal mengerikan menimpa kaumnya membuat dirinya cenderung penakut. Makanya keikutsertaannya dalam perjuangan Caesar beserta kawan-kawannya bukanlah berdasar insting atau inisiatif. Dialog dan pembawaan Bad Ape menjadi angin segar di tengah konflik yang diangkat dalam filmnya.

Meski kera menjadi tokoh utama dalam film yang disutradarai Matt Reeves ini, sejatinya War for the Planet of the Apes justru mengajak kita untuk mengingat kembali nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin mengikis dari waktu ke waktu. Moralitas yang menjadi salah satu pembeda utama manusia dengan hewan, memerlukan kompas untuk kembali ke arah yang benar. Film yang baru akan tayang di bioskop Tanah Air mulai 26 Juli 2017 ini layak masuk daftar tontonan pilihan. (M-4)

Komentar