Jendela Buku

Bergulat dengan Algoritma dan Kontroversi

Sabtu, 22 July 2017 05:01 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

Ilustrasi -- MI/Seno

GELIAT pro dan kontra atas temuan teknologi rompi antikanker milik Warsito Purwo Taruno sudah dimulai sejak 2013, diawali dengan pelarangan dirinya untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang kanker.

Efektivitas temuannya dianggap belum teruji oleh pihak Kementerian Kesehatan.

Melalui buku berjudul Setrum Warsito, banyak hal menarik yang bisa dijadikan sebagai sisi lain dalam melihat pro dan kontra akan temuan tersebut.

Opini para penyintas dan penderita kanker pun dimasukkan ke buku setebal 288 halaman ini.

Bagaimana upaya mereka bertahan dan mencari pengobatan alternatif dengan tetap memadukan pengobatan secara medis.

Penulis juga tidak hanya menyertakan keberhasilan dan ragam penghargaan luar negeri akan kemampuan sang doktor, tetapi juga menghadirkan persoalan kontroversi yang timbul dari lingkungan kedokteran maupun kementerian meskipun banyak juga dokter yang mendukung temuan Warsito dengan melakukan penelitian yang berhubungan dengan paparan medan listrik energi rendah terhadap kematian sel kanker.

Dalam buku yang dikeluarkan Noura Books ini, satu-satunya alasan yang bisa ditemui atas pelarangan praktik terapi Warsito ialah alat itu belum teruji.

Di bagian lain, data statistik dari penderita yang ikut dalam terapinya diberikan, berapa banyak yang mengalami perkembangan, stagnan, dan bahkan yang mengalami kemunduran.

Ada dukungan dari pihak Kemenristek dan Dikti, tapi belum juga ada aturan tentang tata laksana riset dan insentif yang sifatnya lintas kementerian.

Kekosongan aturan itulah yang dikatakan Warsito menyangkut pada hasil review kedua alatnya belum dapat disimpulkan manfaat serta keamanannya.

Selain persoalan pro dan kontra, dalam buku ini diceritakan gambaran mulai Warsito kecil yang kerap menjadi objek perundungan teman-temannya hingga kesuksesannya menimba ilmu di negeri orang.

Suaranya yang pelan kerap tak didengar pun dengan postur tubuhnya yang kecil menjadi salah satu penyebab ia dijadikan sebagai objek perundungan.

Beberapa kali mengacungkan jari saat guru melemparkan pertanyaan, tak satu pun pernah dirinya diberi kesempatan.

Kata bocah bernama Warsito Purwo Taruno, guru-guru memiliki murid favorit tersendiri yang akan ditunjuk untuk memberikan jawaban.

Masa kecilnya tidak seperti bocah lain yang bisa leluasa bermain. Warsito dan tujuh saudaranya pun mulai bergerak untuk membantu mencari tambahan pendapatan keluarga.

Mulai menanam rumput untuk dijual hingga menganyam tikar yang dilakoni dua kakak perempuannya.

Makanan sehari-harinya pun tak melulu nasi, saat paceklik, keluarga Warsito biasa mengonsumsi ketela pohon ataupun sayur rebung.

Kegigihannya dan kemauan untuk menjadi cerdas membuat jalannya mulus menapaki jenjang pendidikan berikutnya.

Baru saja satu tahun belajar di Fakultas Teknik Kimia UGM, Warsito dinyatakan sebagai salah satu putra bangsa yang berhasil mendapatkan beasiswa dari BPPT untuk melanjutkan belajar ke Jepang.

Temukan rompi antikanker

Kesuksesannya mendalami pendidikan di Jepang membawa dirinya bertemu banyak profesor-profesor mumpuni di bidangnya.

Tawaran untuk menjadi asisten dosen pun banyak menghampiri laki-laki yang merupakan anak keenam pasangan Purwo Taruno dan Rubiyah.

Hingga di April 1992, Warsito berhasil menamatkan pendidikan S-1 dengan predikat mahasiswa terbaik berindeks prestasi 3,82.

Dua tahun kemudian, ia kembali berhasil menamatkan program magister dengan tesis yang menjadi cikal bakal riset tomografi dan berkembang menjadi sebuah karya rompi antikanker.

Sembari terus memberikan bimbingan pada juniornya, Warsito yang telah menikah dan memiliki tiga anak melanjutkan studi strata tiga.

Hingga di suatu hari ia jenuh menunggu kejelasan status pekerjanya di kampus.

Ia pun mulai iseng mengirimkan tulisan pada salah satu konferensi internasional yang banyak dihadiri para profesor ternama serta menjadi kontes dari temuan dan teori-teori baru, di Delft University of Technology.

Tak disangka, tulisannya dipilih dan bahkan dijadikan sebagai satu dari tiga tema pada sesi paripurna.

Ia pun hadir sebagai pembicara kunci termuda yang lantas menarik perhatian tokoh berpengaruh di bidang teknik kimia, Liang Shih Fan.

Warsito ditantang Liang Shih Fan untuk menemukan algoritma membaca bagian pinggir dari gelombang listrik berenergi rendah yang gerakannya liar dan sangat acak.

Waktu tiga tahun yang ia minta untuk menyelesaikan hal tersebut rupanya tidak terpakai. Ia hanya butuh delapan bulan untuk menyelesaikannya.

Namanya yang besar di luar negeri membuat salah satu partai politik berminat untuk menjagokannya sebagai Menristek, tapi ia menolak.

Pada 2006 ECVT dipatenkan, NASA pun memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengembangkan sistem pemindaian dinding pesawat ulang alik.

Hingga temuannya itu ia terapkan pada sebuah pakaian dalam perempuan sebagai usaha untuk membantu sang kakak yang divonis mengidap kanker payudara stadium empat dan harus menjalani kemoterapi. ECVT membunuh sel kanker melalui pancaran listrik statis yang terpancar terus menerus.

Gelombang listrik ini yang dapat mengganggu proses pembelahan sel kanker hingga menghancurkannya.

Keberhasilan pada sang kakak yang dinyatakan kankernya positif hilang membawa berita dan antusiasme yang ramai dari penderita kanker.

Sekitar 3.200 pasien mengikuti terapi di kantornya daerah Alam Sutera, Tangerang.

Tak hanya kutang (pakaian dalam), tetapi juga berkembang pada bentuk lain seperti helm dan rompi.

Kontroversi temuan

Warsito merasa senang, apa yang selama ini dicitakan untuk bisa memberikan manfaat bagi banyak orang dari perjuangan belajarnya tercapai.

Banyak negara lain yang berebut ingin menjajal dan mendatangkan Warsito untuk mentransfer pengetahuannya tersebut.

Namun, rupanya pertentangan justru datang dari negerinya sendiri.

Oktober 2013 ia dilarang tampil sebagai pembicara dalam Workshop Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Menggunakan Metode Nonradiasi di Jakarta.

Penolakan terus-menerus terjadi karena latar belakangnya yang bukan dokter, melainkan mencipta alat untuk dunia kedokteran.

Padahal beragam temuannya telah mendapat hak paten di bidang kimia dan fisika.

Ia pun meyakini sesuatu yang baru pasti akan mengundang kontroversi, tapi kalau tidak ada yang mencoba hal baru, siapa yang akan mengubah nasib kita.

Begitulah secuplik pidato yang disampaikannya ketika menerima BJ Habibie Technology Award 2015.

Sahudi Salim, Kepala Divisi Bedah Kepala/Leher di RSUD Dr Soetomo pun mulai tergerak untuk melakukan penelitian karena melihat polemik ECCT yang jauh dari ilmiah.

Menurut Sahudi, orang yang berada dalam dunia ilmiah seharusnya memberi penjelasan secara ilmiah mengapa menolak suatu hal.

Meskipun banyak orang di bidang kedokteran yang menyambut baik dan mendukung temuan Warsito, pihak penolak pun tak kalah jumlahnya hingga beredar berita di media sosial tentang wacana penutupan praktik Warsito.

Kementerian Kesehatan mengeluarkan peraturan agar klinik tak lagi menerima pasien baru sebelum evaluasi dengan percobaan selesai dilakukan.

Banyak pasien kanker gelisah, dokter mengaku angkat tangan dan mempersilakan untuk mencari alternatif pengobatan lain, tetapi tidak dengan terapi ECCT.

Hingga muncul satu pertanyaan seorang penderita kanker, ketika menggunakan ECCT dianggap sebagai coba-coba, apakah terapi medis yang hasilnya jauh dari melegakan juga coba-coba.

Mengapa ECCT begitu mengusik, sementara pengobatan alternatif lain tidak. Kedua alat ciptaan tersebut diklaim berenergi listrik rendah dan tidak langsung bersentuhan dengan kulit.

Pihak Balitbangkes Kemenkes RI mengatakan ECVT dan ECCT belum bisa disimpulkan soal keamanan dan manfaatnya.

Penelitian terhadap dua karya Warsito pun akan dilanjutkan sesuai dengan kaidah pengembangan alat kesehatan.

ECVT dimasukkan di Kelas II dan ECCT di kelas III (alat kesehatan dengan risiko tinggi) oleh Kemenkes.

Frasa risiko tinggi berdasarkan alasan efektivitas ECCT belum teruji.

Getirnya hidup Warsito telah dimulai sejak kecil, tapi ia pantang menyerah.

Baginya, seseorang harus bisa berguna untuk negaranya.

Sama halnya ketika tawaran berpindah kewarganegaraan datang, ia menolak, pun ketika meminta kata Indonesia dimasukkan sebagai keterangan tempat temuannya.

Ia hanya ingin membuktikan kepada dunia Indonesia tak kalah baik dari negara-negara lain.

(M-2)

____________________________

Judul: Setrum Warsito

Penulis: Fenty Effendy

Penerbit: Noura Books

Terbit: Mei 2017

Komentar