KICK ANDY

Yoseph Blikololong Pemulung yang Mendirikan Sekolah

Sabtu, 22 July 2017 02:01 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Sumaryanto Bronto

PEKERJAAN apa pun yang halal pasti akan mendatangkan berkah tersendiri.

Seperti yang dilakoni Yoseph Blikololong, warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengumpulkan berbagai macam sampah kemudian memilahnya untuk dijual kembali kepada pengepul.

Sebagian besar waktu yang dihabiskan di jalanan membuat dirinya banyak mengenal bocah-bocah kecil yang berkeliaran dan menjajakan sesuatu demi mendapatkan uang.

Hingga suatu ketika, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada bocah-bocah tersebut yang selalu berada di jalanan.

Satu kesimpulan yang didapat, keinginan mereka untuk sekolah harus pupus karena orangtua tak memiliki biaya.

Hatinya tergerak, keinginannya untuk mendirikan sekolah sempat ditentang sang istri.

Namun, ia dengan sabar terus menjelaskan kepada belahan jiwanya tersebut, apa yang dilakukan semata untuk menolong banyak orang.

"Bapak mau buka sekolah nih ada uang, tidak? Mau gaji guru-guru dengan apa? Kasih kita makan dengan apa?" ujar Terfina menirukan ucapannya ketika mengetahui rencana sang suami mendirikan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Kekerasan tekad sang suami membuat Terfina luluh dan kini menjadi salah satu pengajar di PAUD yang didirikan sejak 2008.

Yoseph menyulap ruang tamunya berukuran 4,5 x 3 meter menjadi dua kelas PAUD.

Baik Terfina maupun Yoseph memang tidak beroleh apa-apa dari pendirian dua sekolah, PAUD dan SMP pada 2012.

Bagi mereka, semua akan indah pada waktunya dan mendapatkan upah di surga.

Sarjana hukum

Dulu hanya ada satu guru yang mengajar dengan gaji Rp200 ribu per bulan dengan durasi mengajar maksimal 2 jam.

Kini, Yoseph memiliki dua guru untuk PAUD dan delapan guru untuk tingkat SMP yang semuanya dibayar seadanya dari hasil memulung.

Namun, guru-guru tersebut mengaku tidak mempersoalkan gaji, tetapi kecintaan pada pekerjaan dan anak-anak membuat mereka tetap betah mengajar di sekolah milik Yoseph.

Bapak enam anak itu pun sempat dipandang sebelah mata dengan pekerjaan dan keinginannya mendirikan sekolah oleh tetangga sekitar.

Dengan berbekal menggadaikan sertifikat rumah, Yoseph pun bisa membeli perlengkapan operasional dan menyewa satu gudang untuk ruang belajar SMP.

Rupanya keinginan untuk belajar juga masih dimiliki Yoseph, yang kembali merayu sang istri agar diperbolehkan melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan hukum di Universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada 2009.

Tahun ini, Yoseph diwisuda dan berhasil menyandang gelar sarjana hukum.

Pilihan belajarnya itu kembali didedikasikan untuk anak-anak agar apabila mereka mengalami persoalan secara hukum, bisa dibantu dirinya.

Yoseph memang tak pernah mau menyerah.

Anak dan istrinya pun terus membantu tanpa pernah merasa malu atas pekerjaan yang digeluti sang kepala keluarga.

Putra sulungnya pun kini sudah menamatkan jenjang pendidikan tinggi.

Pun kedua sekolah yang didirikan sudah memiliki izin operasional sehingga ijazah diakui.

"Tantangannya belum punya gedung sendiri, harus menyewa setiap tahun seharga Rp12 juta. Kalau sampai saya tak mampu bayar, sudahlah, saya ikhlas untuk merombak rumah saya menjadi tempat sekolah, sisakan satu-dua kamar saja untuk keluarga," tukas Yoseph.

(M-4)

Komentar