Eksplorasi

Hasil tidakTerduga Pencarian MH 370

Sabtu, 22 July 2017 00:46 WIB Penulis: Zico Rizki

Sumber: Geoscience Australia/ATSB/Foto: Reuters/Grafis: Caksono/AFP

PENCARIAN panjang pesawat MH 370 belum juga berakhir indah.

Selain tiga bagian patahan sayap yang ditemukan pada 2015 dan 2016, belum ada lagi bagian yang ditemukan dari pesawat yang mengalami nahas pada 8 Maret 2014 itu.

Namun, pencarian oleh tim peneliti dari Australia, yang telah mencakup 120 ribu kilometer persegi laut, atau sekitar 10%-15% bagian Samudra Hindia, tersebut bukan pula kesia-siaan.

Saat misi tersebut dinyatakan berakhir pada Januari 2017, para peneliti telah mengumpulkan banyak sekali data soal topografi dasar laut.

Data yang dipublikasikan Geoscience Australia secara daring dikatakan akan menjadi akan memberi wawasan lebih besar kepada masyarakat tentang lautan.

Stuart Minchin, Kepala Geoscience Australia, mengatakan wilayah yang mereka survei mencakup pula bagian terpencil dari lautan dalam Samudra Hindia.

Dari situ mereka dapat membuat peta wilayah laut.

Identifikasi badan laut itu sendiri dilakukan dalam dua tahap.

Tahap pertama ialah survei pengukuran kedalaman laut (batimetri) untuk mengetahui detail topografi dasar laut.

Dengan pengukuran melalui kekuatan sonar, para peneliti dapat membedakan antara sedimen keras dan lunak.

Selain itu, para peneliti mengidentifikasi anomali di dasar laut secara lebih rinci.

Tahap kedua ialah penelusuran bawah laut dan dasar laut menggunakan peralatan sonar yang dipasang pada kendaraan bawah air untuk mengumpulkan sonar images berkualitas tinggi.

Menurut pemerintah Australia, kedua tahap survei itu membuat proyek tersebut menjadi salah satu kegiatan survei kelautan terbesar yang pernah dilakukan.

Produk peta yang dihasilkannya pun memiliki kualitas setidaknya 15 kali lebih baik daripada yang sebelumnya ada.

Di dalam wilayah terpencil di lautan dalam itu, peneliti menemukan beberapa struktur baru. Di antaranya ialah gunung laut setinggi 1.500 meter.

Di sekitarnya terdapat longsor sedimen seluas beberapa kilometer.

Baik gunung laut maupun longsor sedimen itu berlokasi di dekat Broken Ridge, yang merupakan struktur dasar laut tertua yang terbentuk lebih dari 40 juta tahun yang lalu.

Selain struktur batuan dasar laut, survei itu juga menemukan dua bangkai kapal dan tulang ikan paus.

Potensi besar temuan

Tidak hanya struktur baru, berdasarkan detail data-data survei yang dirilis terdapat informasi penting bagi sektor perikanan.

Profesor bidang oseanografi pesisir University of Western Australia, Charitha Pattiaratchi, mengatakan lokasi yang memiliki beberapa gunung laut ini akan menarik perhatian nelayan laut dalam.

Gunung laut diketahui sebagai tempat plankton berputar dalam arus.

Selain itu, gunung laut merupakan lokasi hotspot (surga memancing) karena tempat berkumpulnya ikan bernilai tinggi.

Beberapa di antaranya tuna, kuwe gerong (Trevally), toothfish, orange roughy, dan alfonsino.

Potensi lainnya ialah pemahaman wawasan pergerakan prasejarah benua.

Keberadaan gunung laut yang ditemukan mungkin dapat mengubah pemahaman tentang teori pecahnya benua super Gondwana.

Pattiaratchi juga menambahkan, keberadaan gunung laut dapat mengurangi energi tsunami dan dapat digunakan dalam memperkirakan dampak tsunami.

Selain ketiga potensi yang muncul, para peneliti percaya peta wilayah terpencil itu berguna untuk penelitian ilmiah masa depan, terutama dalam bidang oseanografi dan penelitian habitat bawah laut.

(Reuters/L-1/M-3)

Komentar