Features

Menjadi Keluarga sekaligus Wali Pendidikan bagi Anak-Anak Buruh Migran

Selasa, 18 July 2017 22:53 WIB Penulis: Liliek Dharmawan

Mi/LILIEK DHARMAWAN

RAUT wajah Ahmad Sofie Yudistira, 5, tampak berbinar-binar. Ia bersama anak-anak lainnya siswa Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jati Waluyo di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah, begitu gembira.

Nyanyian demi nyanyian mereka dendangkan, mengikuti para guru atau biasa dipanggil 'bunda' PAUD . Mereka juga membuat gerakan-gerakan menari sambil bertepuk tangan.

Usai mengikuti proses kegiatan bermain dan belajar di PAUD setempat, Sofie-sapaan akrab Ahmad Sofie Yudistira-memanggil Ruminah, 52, neneknya. Dengan manja, Sofie meminta minum. Ia memang tidak ditunggui ibunya, karena sang ibu menjadi buruh migran di Taiwan. Praktis, Sofie pun berada dalam asuhan sang nenek, termasuk untuk mengantarnya ke sekolah.

Karenanya, Sofie memanggil neneknya dengan sebutan 'mama eyang' yang artinya 'ibu nenek'. Sebuah sebutan agar sang anak menganggap neneknya sebagai pengganti ibunya yang sedang merantau di negeri orang.

Saban hari, Ruminah memandikan, memberikan makan, hingga menemani tidur cucunya itu saat malam.

"Saya menjadi pengganti ibunya yang merantau ke luar negeri. Kadang dia memang kangen sama ibunya yang di Taiwan, karena sejak tujuh bulan lalu dia meninggalkan Sofie. Untuk mengobati rasa kangennya, dia sering melakukan panggilan video. Sehingga rasa kangen sedikit terobati," tutur Ruminah.

Tak hanya Ruminah yang berperan sebagai pengganti orangtua yang merantau ke mancanegara, Slamet, 35, warga di Kedungbanteng, Banyumas, juga mampu menjadi semacam 'single parent' bagi anaknya, Micel, 8.

"Karena ditinggal ibunya yang merantau ke luar negeri, mau tidak mau saya harus berperan lebih dalam mengasuh maupun mendidik anak. Pengasuhan itu termasuk memperhatikan menu makanan yang diberikan serta menemani belajar di rumah," katanya.

Dalam riset yang dilakukan oleh Seruni Banyumas, sebuah organisasi nonpemerintah yang konsen terhadap buruh migran, keluarga Slamet merupakan salah satu keluarga yang berhasil dalam mendidik anak ketika sang istri mengadu nasib di luar negeri.

"Micel yang ditinggal oleh ibunya juga aktif berkomunikasi via 'video call' sehingga secara berkala bisa melihat sosok ibunya yang berada di Hong Kong. Sementara, Pak Slamet yang ditinggal merantau cukup sabar dalam mendidik anaknya. Di sisi lain, ibunya memberikan pengertian dan perhatian meski hanya melalui 'video call'. Sehingga secara psikologis, meski jauh, namun Micel cukup merasa ditemani oleh ibunya. Prestasi di sekolahnya bagus," ungkap Ketua Seruni Banyumas, Lily Purwanti, beberapa waktu lalu.

Pegiat Seruni lainnya, Narsidah, mengakui kerap terjadi persoalan dalam keluarga yang ditinggal merantau ke luar negeri, terutama dalam pendidikan dan pengajaran terhadap anak. Secara psikologis dan sosial, keluarga belum disiapkan.

"Seruni, salah satu organisasi yang konsen terhadap persoalan itu, membuat program 'fathering'. Program ini mendidik para bapak yang ditinggal istri-istri mereka merantau ke luar negeri. Mereka harus disiapkan untuk menggantikan peran seorang ibu. Program ini melatih para suami yang ditinggal istrinya merantau untuk mengetahui pola asuh anak. Sebab, tidak jarang kejadian, seorang suami hanya bisa marah-marah kepada anaknya dan tidak sabar dalam mengasuh anaknya. Inilah yang kami lakukan, melatih mereka dalam menghadapi anak. Tidak hanya dalam pendidikan, namun soal pola makan atau menu yang baik untuk anak," jelasnya.

Saat ini, Seruni mengembangkan pola pengasuhan anak berbasis komunitas. Artinya, tidak hanya melibatkan keluarga, melainkan juga memberdayakan organisasi-organisasi yang ada di pedesaan, mulai PKK, Posyandu, organisasi kepemudaan, dan lainnya.

"Sehingga seluruh elemen terlibat dalam memberikan perhatian terhadap anak-anak buruh migran, khususnya dalam bidang pendidikan," ujarnya.

Langkah serupa dilakukan oleh PAUD Jati Waluyo di Paningkaban, Gumelar. PAUD yang berada di salah satu basis buruh migran di Banyumas itu juga menyelengarakan pendidikan tidak hanya bagi anak-anak buruh migran di desanya, melainkan juga para pengasuhnya.

"Kebetulan di Desa Paningkaban ada sekitar 100 buruh migran yang merantau ke luar negeri. Kalau dihitung secara total dengan yang bekas buruh migran, jumlahnya mencapai 500-600 orang. Oleh karena itu, pendidikan anak-anak buruh migran ini harus diperhatikan," kata Kepala PAUD Jati Waluyo, Sri Setiyowati.

Menurut Sri, para pengelola di sini cukup tahu persoalan pendidikan anak-anak buruh migran, karena sebagian besar pengelolanya adalah mantan buruh migran.

"Saya dulu merantau di luar negeri. Ada tiga guru teman di sini yang merantau ke luar negeri. Sehingga kalau ada anak didik PAUD yang ditinggal ibunya menjadi buruh migran, maka kami memiliki jurus-jurus khusus dalam mendidik mereka. Yakni dengan memberikan kasih sayang seorang ibu," ujarnya.

Untuk menguatkan peran keluarga, pihaknya menggelar program 'parenting' bagi seluruh orangtua maupun wali di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar.

"Mereka yang datang tidak hanya suami yang isterinya merantau ke luar negeri, tetapi juga nenek yang biasa mengasuh cucunya lantaran ibunya menjadi buruh migran. Dalam pelatihan 'parenting' ini, kami menekankan bahwa pendidikan dan pengasuhan di dalam lingkungan keluarga harus diperhatikan secara serius. Mulai dari memberikan makan, memberikan teladan, serta memberikan perlindungan kepada mereka. Keluarga sebagai unit sosial terkecil di masyarakat harus mampu mewujudkan fungsi sosial dan fungsi pendidikan sebagai mitra PAUD," jelasnya.

PAUD sebagai lembaga pendidikan memang dituntut tidak hanya sebagai wali pendidikan semata, tetapi para guru juga menjadi bagian keluarga, khususnya anak-anak buruh migran.

"Jangan heran, kalau urusan potong kuku sekali pun juga menjadi bagian dari tugas kami. Anak-anak yang ditinggalkan ibunya merantau ke luar negeri memang membutuhkan perhatian lebih. Mereka kadang juga bermanja dengan para guru di sini. Beruntung, sebagian besar dari kami pernah merasakan juga bagaimana meninggalkan anak di kampung dan ditinggal mencari uang di negeri orang. Alhamdulillah juga, dengan adanya media sosial seperti WhatsApp (WA) dan Facebook (FB) mereka turut aktif dalam memantau perkembangan anak-anak mereka. Sinergi seperti inilah yang harus dipertahankan, sehingga perkembangan anak dapat terpantau."

Sri dan teman-temannya di PAUD Jati Waluyo menjadi bagian penting sebagai wali pendidikan, khususnya anak-anak buruh migran. Bahkan, mereka telah tampil menjadi 'keluarga' dan ibu bagi anak-anak itu. (OL-2)

Komentar