Nusantara

Setelah Direvitalisasi, Pasar Buah Lembang Sepi Pembeli

Senin, 17 July 2017 20:34 WIB Penulis: Depi Gunawan

MI/DEPI GUNAWAN

SEJUMLAH pedagang Pasar Buah Lembang merasa dikecewakan dengan Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pasalnya, revitalisasi pasar yang dilakukan pemerintah pada tahun lalu dianggap gagal karena membuat omset pedagang turun hingga 80%. Dari 59 kios, yang masih eksis hingga kini tidak mencapai setengahnya atau sekitar 20 kios pedagang.

Selain itu, para pedangang mengeluhkan ukuran kios yang tidak sama dengan sebelum direvitalisasi. Bahkan, hak kepemilikan Izin Pemakaian Kios (IPK) diubah sepihak oleh pemerintah menjadi izin sewa.

"Sebelum direvitalisasi, kami hanya bayar Rp20 ribu per minggu untuk biaya sampah, tapi sekarang naik dua kali lipat jadi Rp40 ribu per minggu. Bayar kios juga lebih mahal, dulu hanya Rp100 ribu kini naik jadi Rp180 ribu per tahun," kata Ade, 63, salah seorang pedagang, saat ditemui, Senin (17/7).

Ia menyatakan, para pedagang tidak akan menuntut apa-apa kepada pemerintah. Namun, mereka berharap pembeli kembali bergairah untuk datang ke Pasar Buah.

"Nama Pasar Buah itu sebelum direvitalisasi, setelah pasar terbangun, pemerintah malah merubah nama jadi Pasar Cermat Lembang. Pembeli luar kota jadi bertanya-tanya pindah ke mana Pasar Buah, padahal masih tetap di sini. Cuma namanya saja yang diubah," bebernya.

Bukan itu saja, dari 59 kios di pasar tersebut, empat kios di antaranya merupakan pesanan sebuah organisasi masyarakat (ormas) dan titipan anak Bupati Bandung Barat yang bukan merupakan pedagang sebelumnya.

Kendati demikian, Ade bersama pedagang lainnya tak terlalu mempersoalkan itu, asalkan para pembeli yang rata-rata wisatawan luar kota mau kembali datang ke pasar yang pada awalnya dibangun pada 1971 tersebut.

"Sejak kembali dioperasikan pada April (2017) lalu, kondisinya masih tetap sepi seperti ini. Katanya nanti mau diresmikan kalau semua kios sudah buka, tapi mau buka gimana, pembelinya juga enggak ada," tuturnya.

Sementara Kepala Dinas Disperindag Bandung Barat, Weti Lembanawati, menyatakan, perubahan status Pasar Buah dari IPK jadi izin sewa merupakan aturan langsung dari pusat.

"Namanya dibedakan, tapi fungsinya masih sama. Pokoknya enggak ada yang dibedakan," ungkapnya.

Terkait keluhan pedagang yang mengaku terjadi penurunan omset hingga 80%, Weti merasa hal itu sangat aneh. Karena dengan telah direvitalisasi, semestinya pasar menjadi lebih ramai pengunjung, bukan sebaliknya.

"Enggak masuk akal, aneh, masak kiosnya sudah bagus tapi katanya jadi sepi," ucap Weti.

Agar pasar bisa lebih hidup, Disperindag telah meminta kepada 59 pedagang kembali membuka kios mereka dengan menyebarkan surat. Termasuk empat kios yang menurut isu pedagang merupakan jatah ormas dan titipan anak Bupati Bandung Barat.

"Produk-produk unggulan Bandung Barat akan dipromosikan di sana, sekarang kiosnya lagi di-display dulu. Kalau pedagang bilangnya ada kios titipan, itu ngaco, itu buat produk unggulan yang pengelolanya sudah dibentuk," pungkasnya. (OL-2)

Komentar