Megapolitan

Pihak Rektorat Gunardarma akan Beri Sanksi Pelaku Bully

Senin, 17 July 2017 19:52 WIB Penulis: Kisar Rajaguguk

ANTARA/ISMAR PATRIZKI

DIREKTUR rehabilitasi sosial anak Kementerian Sosial, Nahar, mendatangi Universitas Gunadarma di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Jawa Barat. Hal ini sebagai tindak lanjut kasus perundungan (bullying) yang menimpa Muhammad Farhan, salah satu mahasiswa kampus tersebut.

"Kita ingin memastikan duduk persoalan serta mengambil langkah penanganan. Sehingga persoalan semacam ini tidak terulang di masa akan datang. Karena hal ini dapat membuat banyak pihak terluka," kata Nahar di Depok, Senin (17/7).

Menurutnya, dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 sudah dijelaskan bahwa unit pelayanan difabel harus ada. Dalam Pasal 145 UU No 8/2016, kata dia, disebutkan bahwa ada sanksi pidana pada pelanggar yang tidak menghormati kaum difabel atau disabilitas.

Bahkan, Nahar menyebut Universitas Gunadarma belum ramah terhadap kaum difabel. Padahal, UU telah mengatur hal itu.

"UU ini dikeluarkan tahun 2016. Diharapkan dua tahun setelah dikeluarkan, semua harus sudah memenuhi target," ujarnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Gunadarma, Irwan Bastian, mengatakan pihaknya sudah melakukan investigasi internal dan Selasa (18/7) besok pihaknya akan melaksanakan pemanggilan bagi sejumlah mahasiswa yang melakukan tindakan bully tersebut sekaligus memanggil orangtua mereka sehingga kasus ini dapat tertangani dengan baik sesuai dengan Tata Tertib Kehidupan Kampus.

"Kami juga meminta maaf atas kejadian itu. Universitas Gunadarma menyesali dan prihatin atas kejadian ini, di mana seorang mahasiswa berkebutuhan khusus diganggu atau diperlakukan sangat tidak baik oleh teman sekelasnya," ujarnya.

Sejauh ini, menurut dia, civitas akademika Universitas Gunadarma sangat mendukung dengan baik terhadap studi mahasiswa berkebutuhan khusus, seperti autis dan disabilitas. Terbukti, banyak mahasiswa yang berkebutuhan khusus tersebut mampu menyelesaikan studi dengan baik dan dilantik khusus pada saat wisuda Universitas Gunadarma.

Irwan menambahkan, mahasiswa yang melakukan tindakan bully juga sudah mendatangi rumah korban dan meminta maaf.

"Namun, kampus tetap menerapkan sanksi sesuai Tata Tartib Kehidupan Kampus," tandasnya.

Pihak kampus akan menjatuhkan sanksi bagi para terduga pelaku. Namun, soal bentuk sanksi yang diberikan belum dijelaskan.

"Sesuai dengan aturan, ada sanksi yang diberikan. Bentuknya apa belum bisa diputuskan sebelum selesai (investigasi)," kata Irwan.

Pihaknya masih terus mendalami semua keterangan dari saksi, pelaku dan korban. Pihaknya juga akan mencari tahu soal kebenarannya. Sejauh ini, jumlah pelaku bully terhadap Farhan diketahui sebanyak tiga orang.

"Namanya saya kurang detail, tapi sudah ada tiga orang," kilahnya.

Ditegaskan, pihaknya tidak main-main terhadap perilaku yang mencemarkan nama baik kampus. Oleh karenanya, sampai saat ini proses investigasi masih dilakukan.

"Sedang diinvestigasi. Pelaku sudah datang ke rumah korban dan teman sekelas sudah menyampaikan penyesalan dan minta maaf," paparnya.

Sebagaimana diberitakan, kasus bullying mahasiswa berkebutuhan khusus oleh sekelompok temannya heboh di media sosial. Dalam video berdurasi sekitar 15 detik itu, Farhan di-bully sekitar tiga temannya yang berjenis kelamin laki-laki.

Tas Farhan ditarik-tarik seorang rekannya ketika hendak berjalan dan sejumlah mahasiswa lainnya menertawakan. Farhan berupaya melawan, tapi salah satu temannya yang berkemeja hitam terus menariknya.

Sedangkan dua mahasiswa lainnya hanya tertawa-tawa melihat Farhan. Bahkan, sejumlah mahasiswa lain yang ada di sekitarnya hanya bertepuk tangan melihat kejadian itu. Setelah lepas dari cengraman temannya, Farhan pun pergi. Namun dia sempat melempar tong sampah ke arah pelaku bully.

Video ini pertama kali diunggah di Instagram (IG) dengan akun @julliocrazy. Kemudian banyak orang ikut mengunggah dan kini menjadi viral. (OL-2)

Komentar