Nusantara

Bupati Banyuwangi Cabut Aturan Siswa Non-muslim Wajib Berjilbab

Senin, 17 July 2017 18:56 WIB Penulis: Abdus Syukur

MI/ABDUS SYUKUR

ATURAN siswi wajib berjilbab meski non-muslim, yang diterapkan oleh Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Genteng Banyuwangi, mendatangkan keprihatinan Bupati Abdullah Azwar Anas. Bahkan, kepala daerah di ujung paling timur Pulau Jawa tersebut akhirnya mencoret dan menggugurkan aturan itu.

Hal itu disampaikan Bupati Banyuwangi saat mengundang siswi bersangkutan, Yenima Swandina Alfa, bersama orangtuanya Timotius Purno Ribowo, untuk sarapan bareng di kantornya, Selasa (17/7) pagi.

Menurut Anas, aturan yang diterapkan SMPN 3 Genteng Banyuwangi itu, menunjukkan adanya diskriminasi dan berpotensi menimbulkan masalah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang mengoyak kehidupan dan kerukunan beragama serta anti-Pancasila.

"Saya sampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah daerah (pemda), karena SMPN adalah lembaga di bawah pemda. Aturan seperti itu dibatalkan dan saya berharap ini yang terakhir, jangan sampai ada lagi aturan seperti itu di sekolah yang lain. Mari bersama-sama kita jaga kerukunan umat beragama di Banyuwangi dengan saling menghargai," ujarnya.

Anas menambahkan, masalah itu harus menjadi pelajaran. Bukan hanya para pendidik, tapi juga bagi seluruh aparatur sipil negara (ASN) di seluruh bidang yang lain. Karena aturan yang bersifat diskriminatif, menurutnya, akan mendatangkan perpecahan, sehingga membuat pembangunan di Banyuwangi menjadi terhambat.

"Berjilbab untuk pelajar muslim tentu tidak masalah, tapi tidak boleh dipaksakan kepada pelajar yang beragama selain Islam. Aturan sekolah tidak boleh mendiskriminasi, harus memberi ruang yang sama tanpa memandang perbedaan SARA," kata Anas.

Menurutnya, masyarakat dan semua pihak yang terkait di Banyuwangi, harus saling menghormati perbedaan. Karena perbedaan itu justru menunjukkan adanya keberagaman yang menjadi keunggulan untuk membangun daerah. Keberagaman, lanjut dia, jangan sampai menjadi penghambat pembangunan daerah.

Sedangkan terkait pimpinan sekolah yang membuat aturan diskriminatif, Anas memerintahkan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi untuk mengambil langkah-langkah pembinaan.

"Dinas Pendidikan mengkaji model peringatan dan pembinaannya, minimal peringatan keras. Selain itu, saya juga perintahkan Dinas Pendidikan untuk mengkaji ulang semua aturan sekolah. Jangan sampai ditemukan lagi aturan yang keluar dari norma kebangsaan," tegasnya.

Sementara, orangtua Yenima, Timotius, menyampaikan terima kasihnya atas respons Bupati Banyuwangi itu. Dia mengaku terharu dengan respons Abdullah Azwar Anas, yang sangat menghormati perbedaan agama dan selalu menjaga kerukunan kehidupan bermasyarakat.

"Sebenarnya saya sudah tidak mempermasalahkan lagi hal itu, tapi saya terharu dengan perhatian Pak Anas yang menunjukkan sikapnya dalam menghargai perbedaan serta menjunjung keberagaman dalam kehidupan masyarakat," ujar Timotius.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yenima Swandina Alfa, siswi lulusan SDN 5 Genteng yang lolos dalam seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMPN 3 Genteng, ditolak oleh pihak sekolah. Lantaran sekolah telah menetapkan aturan bagi seluruh siswa untuk wajib berjilbab. Peristiwa itu menimbulkan protes keras di masyarakat. Dinas Pendidikan Banyuwangi akhirnya merekomendasikan agar bocah yang bercita-cita menjadi bidan tersebut untuk diterima di SMPN 1 Genteng. (OL-2)

Komentar