Nusantara

Memprihatinkan, Siswa Baru SMPIT di Cimahi hanya Enam Orang

Senin, 17 July 2017 18:26 WIB Penulis: Depi Gunawan

ANTARA/MAULANA SURYA

DI saat beberapa sekolah diburu calon siswa dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018, kondisi sebaliknya terjadi di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Budi Luhur, Jalan Kebon Rumput, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Pada PPDB tahun ajaran ini, siswa yang mendaftar di SMPIT Budi Luhur hanya berjumlah tujuh orang. Namun belakangan, hanya enam orang saja yang akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.

SMPIT Budi Luhur berdiri sejak 1976, sebelumnya merupakan sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Pambudi Luhur, dengan produk pendidikan berupa SD, SMP, SMA, dan Stikes Budi Luhur.

Kepala Sekolah SMPIT Budi Luhur, Miftah Salahudin, mengungkapkan, seiring berjalannya waktu, peminat yang mendaftar ke SMPIT Budi Luhur semakin sedikit.

"Secara keseluruhan, siswa di sekolah kami hanya 36 orang yang dibagi siswa Kelas VII berjumlah 6 orang, 15 siswa di Kelas VIII, dan 15 siswa di Kelas IX," ungkap Miftah saat ditemui, Senin (17/7).

Menurut dia, ada sejumlah faktor mengapa sekolahnya itu sepi peminat, seperti kondisi atap bangunan yang kurang terawat, kurangnya prestasi sekolah, lokasi sekolah yang cukup sulit diakses, dan beberapa alasan lainnya.

Meski jumlah siswa baru jauh dari harapan, pihak sekolah tetap melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) didampingi guru yang berjumlah 10 orang.

"Hari pertama sekolah diisi dengan acara silaturahim. Mungkin besok ada kegiatan lagi," katanya.

Karena siswa yang bersekolah jumlahnya sangat sedikit, ruang kelas yang digunakannya pun hanya tiga kelas saja. Sedangkan sisanya sudah mengalami kerusakan di beberapa bagian, meski begitu, pihak sekolah berusaha memperbaiki ruang kelas tersebut dengan sekadarnya.

"Untuk menunjang kebutuhan siswa dalam mata pelajaran tertentu, seperti Teknik Ilmu Komputer (TIK) dan biologi, disediakan beberapa ruangan yang berfungsi sebagai laboratorium komputer dan laboratorium IPA," bebernya.

Sempat ada wacana penutupan sekolah oleh pihak yayasan jika tidak ada yang bersedia mengelola. Namun, hal itu urung dilakukan karena dirinya mengaku bersedia memangku jabatan sebagai kepala sekolah.

"Sebelumnya, memang sempat akan ditutup sama pihak yayasan, tapi tidak jadi. Mungkin melihat sejarahnya sebagai sekolah pertama yang dibangun yayasan," tuturnya.

Miftah optimistis pada tahun depan kondisi sekolah bisa lebih baik lagi karena konsep sekolah diubah jadi Islamic Terpadu (IT). Agar hal itu terwujud, pihaknya kini terus berusaha mempromosikan dan mengenalkan perubahan konsep sekolah dari sekolah biasa menjadi sekolah IT.

"Perlu ada transformasi dari kami pengelola sekolah yang baru, mulai perbaikan sarana prasarana, dan yang terpenting adalah konsepnya. Belum banyak sekolah berkonsep IT di Kota Cimahi, bisa dibilang saya optimis tahun depan akan lebih banyak pendaftar ke sekolah kami," ujarnya. (OL-2)

Komentar