Humaniora

Radikalisme juga Menyasar Anak

Senin, 17 July 2017 11:10 WIB Penulis: Syarief Oebaidillah

MI/BARY FATAHILLAH

KETUA Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gerakan radikal yang merebak di kalangan anak-anak dan pelajar. Dia berpesan agar perlindungan terhadap anak dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat mesti ditingkatkan.

Khofifah mengemukakan hal itu di sela acara halalbihalal keluarga besar PP Muslimat NU di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, kemarin (Minggu, 16/7). Dalam kesempatan itu, PP Muslimat NU sekaligus menggelar Peringatan Hari Anak Nasional yang dihadiri pemerhati anak Seto Mulyadi dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Saleh.

Khofifah yang juga Menteri Sosial itu mengemukakan itu berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga kompeten yang menurut dia cukup mencengangkan, antara lain hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terhadap kalangan anak dan remaja.

Menurut survei tersebut, 6,12% anak dan remaja menyatakan setuju pengeboman yang dilakukan Amrozi (kasus bom Bali) merupakan perintah agama. Lalu, 40,82% responden menjawab 'bersedia' dan 8,16% menjawab 'sangat bersedia' menyerang orang atau kelompok yang dianggap menghina Islam. "Umumnya mereka itu terdapat anak dan pelajar jenjang SMA dan mahasiswa. Saya kira hal ini sangat memprihatinkan yang harus kita waspadai bersama," kata Khofifah.

SMRC juga menyebut 9,2% responden setuju NKRI diganti menjadi negara khilafah atau negara Islam. Survei lain yang dilakukan Wahid Foundation menyebutkan 7,7% responden bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan 0,4% justru pernah melakukan tindakan radikal.

"Angka yang disebutkan mungkin terbilang kecil, tetapi suatu ancaman. Kita patut khawatir yang disasar pelajar dan remaja yang masih dalam tahap perkembangan. Bisa jadi benih-benih radikalisme yang tertanam menjadi bom waktu di masa mendatang," tandas dia.

Evaluasi guru
Ia menambahkan merasuknya radikalisme di kalangan pelajar antara lain dipengaruhi guru atau pengajar yang berafiliasi atau bersimpati terhadap organisasi yang berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideologi transnasional. Arahnya pendoktrinan anak-anak untuk mendukung khilafah.

Sebab itu, kata Khofifah, evaluasi atau uji kompetensi terhadap guru harus diperketat. Dengan begitu, deteksi terhadap guru yang berpaham radikal tidak terjadi belakangan, tapi sejak awal.

Selain pengaruh guru, menurut Khofifah, radikalisme juga terjadi akibat derasnya arus informasi yang beredar di media sosial dan internet. "Saat ini banyak orang mencari ilmu lewat gadget. Alhasil, banyak yang menjadi sesat karena tidak mengetahui asal-muasal, dalil, dan sumber informasi tersebut."

Pemerhati anak Seto Mulyadi menyarankan, dalam mendeteksi ancaman radikalisme dan narkoba terhadap anak, selain pembinaan keluarga yang baik, pelibatan masyarakat, khususnya di tingkat RT dan RW sangat diperlukan.

"Dengan begitu, pelajar atau remaja di lingkungan akan terdeteksi jika dia sering pulang malam, ikut geng motor, ancaman narkoba yang masuk di wilayah RT, dan RW bahkan ancaman yang menyusup terhadap ajaran radikalisme di wilayah itu," ujarnya.(H-3)

Komentar