Humaniora

93,5% Warga Kurang Buah dan Sayur

Senin, 17 July 2017 10:55 WIB Penulis: Putri Rosmalia Oktaviyani

Sumber: Kemenkes/Kementan/Foto: Antara/Grafis: Ebet

BERDASARKAN Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas 2013), 93,5% penduduk Indonesia di atas usia 10 tahun kurang mengonsumsi buah dan sayur.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kemantan) pada 2013 mencatat konsumsi sayur penduduk Indonesia hanya 40,35 kg/kapita/tahun dan konsumsi buah hanya 34,55 kg/kapita/tahun.

Angka tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan anjuran Food and Agriculture Organization (FAO) yang mengidealkan konsumsi sayur dan buah di Indonesia minimal 91,25 dan 73 kg/kapita/tahun.

Ahli gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fiastuti Witjaksono, mengatakan kurangnya konsumsi buah merupakan pemicu berbagai penyakit.

Kandungan serat, vitamin, serta cairan dalam buah dapat membantu berbagai organ dan sistem penyerapan tubuh menjadi lebih baik dan bekerja maksimal.

"Kandungan dalam buah salah satunya yang terpenting selain vitamin ialah serat yang membuat penyerapan gula di tubuh menjadi lebih lambat," ujar Fiastuti dalam diskusi peringatan Hari Buah Sedunia yang jatuh setiap 1 Juli, di Taman Teratai Tebet, Jakarta, pekan lalu.

Fiastuti menambahkan, untuk mendapatkan cukup asupan serta dan vitamin, setiap orang paling tidak harus memakan 5 sampai 8 porsi buah dan sayur setiap hari. Hal itu harus dilakukan secara konsisten di setiap waktu makan.

"Setiap warna yang ada pada buah memiliki manfaat sendiri. Ada vitamin dan berbagai zat lain yang berperan berbeda pada tubuh. Jadi, sangat dianjurkan memakan buah dengan bervariasi," ujar Fiastuti.

Meski begitu, Fiastuti mengatakan warga harus tetap selektif dalam memilih jenis buah dan sayur yang akan dikonsumsi. Buah yang terlalu manis seperti sawo dan kelengkeng tidak dianjurkan dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Selain itu, mereka tidak dianjurkan untuk mengonsumsi buah dan sayur yang telah diolah dan melewati banyak proses, seperti minuman jus dalam kemasan dan buah potong di supermarket.

Ketergantungan nasi
Berdasarkan Riskesdas 2013 juga diketahui tren penyakit tidak menular (PTM) sebagai penyebab kematian semakin meningkat. Jumlahnya dari 49,9% pada 2001 menjadi 59,5% pada 2007. Kesalahan pola makan dan kurangnya konsumsi buah ialah salah satu pemicu utama angka tersebut.

Dampak peningkatan PTM juga dapat dilihat dari besarnya beban biaya pengobatan yang ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Sejak 2015, anggaran BPJS Kesehatan sebesar Rp5,462 triliun habis untuk menanggung klaim bagi pasien penyakit jantung, Rp1,6 triliun untuk pasien gagal ginjal, dan Rp1,3 triliun untuk pasien kanker, dengan total mencapai Rp5,85 triliun.

"Memang ada salah kaprah pola makan di kebanyakan orang Indonesia. Umumnya mereka sangat ketergantungan nasi dan mengabaikan buah serta sayur dalam setiap waktu makannya," ujar Direktur Pencegahan dan Penyakit tidak Menular Kemenkes, Lily S Sulistyowati, di kesempatan yang sama.

Lily mengatakan perubahan pola makan harus dilakukan sejak dini. Penanaman kebiasaan untuk mengonsumsi buah dan sayur yang cukup terus dilakukan melalui berbagai pendekatan pada masyarakat, di antaranya kampanye dan edukasi perilaku hidup sehat.(H-5)

Komentar