Ekonomi

Agile Hasilkan Software Bernilai Jual Tinggi

Senin, 17 July 2017 10:43 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi

Digital Banking Solution Head BTPN Alfonso Tambunan -- linkedin

HASIL Penelitian Standish Group pada 2015 menyebutkan sekitar 60% proyek perangkat lunak (software) yang dikembangkan di dunia mengalami kegagalan atau kualitas diragukan. Perkembangan teknologi dan pasar yang ingin perubahan lebih cepat membuat banyak produk perangkat lunak harus mati dilindas laju perubahan.

Dalam kurun 5-10 tahun terakhir, mulai ada penerapan budaya baru di Amerika dan Eropa bernama Agile Software Development. Ini manifesto untuk menjamin keberlangsungan dari pengembangan perangkat lunak di tengah lingkungan yang terus berubah dan semakin banyak tuntutan.

Digital Banking Solution Head BTPN Alfonso Tambunan mengatakan penerapan Agile di Indonesia kini sudah mulai marak dilakukan. Dengan Agile, perusahaan dapat terus berinovasi sembari memastikan investasi yang dilakukan berjalan optimal. Pengembangan produk terus dilakukan dengan solusi dan pengiriman yang lebih singkat ke tangan masyarakat.

“Perusahaan tidak lagi corporate centric, tapi sudah mengarah ke customer centric karena saat ini konsumen ber­anggapan perusahaan harus melakukan perubahan secara bertahap berkesinambungan bukan lagi dalam hitungan jarak bulan bahkan tahun dengan menerapkan fleksibilitas dan penyesuaian terhadap perubahan,” tutur Alfonso di sela Agile Indonesia Conference di Jakarta, Kamis (13/7).

Tujuan penerapan metode Agile ialah menghasilkan perangkat lunak bernilai jual tinggi, berbiaya pembuatan relatif murah, dan bekerja secara optimal. Metode Agile juga menjadi perangkat lunak yang bersifat literatif atau selalu mengalami perubahan dan revolusioner. Pengembangan perangkat lunak pun disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Meskipun biaya pembuatan bisa ditekan dan prosesnya relatif cepat, kualitas perangkat lunak yang dikembangkan tetap terjaga dengan serangkaian tes fungsionalitas yang dilakukan.

Melalui tes tersebut, sejumlah potensi kegagalan dapat diminimalkan. Yang terpenting, pengembang wajib rutin bertemu untuk membahas perkembangan proyek dan umpan balik konsumen yang nanti ditambahkan ke perangkat lunak.

Jenius
BTPN telah menerapkan Agile, terutama dalam pengembangan Jenius sebagai revolusi dalam bidang perbankan dengan proses digitalisasi. Penerapan metode Agile dimulai sejak awal pengembangan di 2015 sampai saat ini. Metode ini sangat sesuai untuk menjawab kebutuhan konsumen yang cepat dan kolaboratif.

Digital Banking Scrum Master BTPN Wijayawati mengatakan sejak diluncurkan pada Agustus 2016, Jenius yang tersedia pada platform Android dan IOS sudah diunduh lebih dari 2,5 juta kali.

Jenius merupakan solusi perbankan dengan menghadirkan layanan digital yang memudahkan nasabah tanpa harus mendatangi kantor cabang untuk melakukan beberapa transaksi. Jenius sudah mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

“Kami selalu melakukan identifikasi terkait dengan keluhan yang disampaikan nasabah terkait dengan aplikasi Jenius. Kami melihat yang dikeluhkan terkait dengan efek produk atau bahkan fitur yang ada. Karena itu, kurang dari 6 bulan, kami sudah melakukan sejumlah perubahan terhadap fitur sesuai dengan kebutuhan konsumen,” kata perempuan yang akrab disapa Wiwi itu kepada Media Indonesia.

Perhelatan Agile Indonesia Conference berlangsung di Menara BTPN Jakarta pada 12-13 Juli lalu. Tujuannya menyebarkan kesadaran, pengetahuan, dan pengalaman tentang Agile untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia. Konferensi ini diselenggarakan tim relawan dan bersifat nonprofit serta dihadiri lebih dari 40 pembicara bertaraf internasional dan nasional.

Melalui pelaksanaan Agile Indonesia Conference 2017, diharapkan para profesional dalam industri teknologi informasi, pelaku wirausaha, sekaligus pemerhati metode Agile dapat saling belajar. Ujungnya, mereka dapat menghadirkan perangkat lunak bermutu tinggi. (Gnr/S-4)

Komentar