Internasional

WNI IS akan Diserahkan ke BNPT dan Polri

Senin, 17 July 2017 09:08 WIB Penulis: Ire/news.co.au/Mal/I-2

Ilustrasi

PEMERINTAH Turki mengungkapkan telah menangkap 435 warga negara Indonesia (WNI) yang terlibat dalam kelompok Islamic State (IS), beberapa waktu lalu. Itu merupakan kali kedua setelah 152 WNI dideportasi pada bulan lalu.

Mereka yang dipulangkan telah melalui program deradikalisasi yang diusung Kementerian Sosial. Namun, dunia masih khawatir akan ketidakefektifan program itu.

Karena itu, Indonesia bersama kontraterorisme Australia sedang menggodok undang-undang baru yang memberi hukuman maksimal 15 tahun bagi WNI yang bergabung dengan kelompok radikal.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Lalu M Iqbal mengungkapkan deportasi memang harus dilakukan.

Menurutnya, undang-undang Indonesia tidak membolehkan WNI menjadi stateless. Karena itu, Kementerian Luar Negeri tetap harus memberikan dokumen perjalanan sampai akhirnya memulangkan mereka.

“Setibanya di Jakarta, mereka akan kita serahkan kepada BNPT dan Polri untuk dilakukan asessment dan ditindak sesuai hasil assessment tersebut,” tuturnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Mabes Polri akan berkoordinasi dengan Kemenlu untuk rencana pemulangan 435 WNI yang ditangkap Otoritas Turki lantaran diduga terlibat kelompok IS.

“Kami akan berkoordinasi lagi dengan Kemenlu soal akan ditempatkan di mana, untuk assessment, dan teknis penjemput­annya,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto.

Dia menambahkan, assesment akan dilakukan oleh Densus 88 dan Bareskrim.

Sebelumnya, Turki mengungkapkan jumlah WNI yang ditangkap karena terlibat IS jumlahnya merupakan kedua terbesar di dunia. Dari total 4.957 milisi IS yang ditangkap, sebanyak 435 berasal dari Indonesia. Yang terbanyak berasal dari Rusia dengan jumlah 804 orang.

WNI yang bergabung dengan IS juga memiliki keunikan karena mayoritas adalah keluarga yang mencakup sejumlah perempuan dan anak-anak.

Pengamat terorisme dan radikalisme dari Insitute for Policy Analysis of Conflict Sidney Jones mengatakan hal itu terjadi karena para milisi asal Indonesia itu pergi membawa keluarga mereka dengan mimpi membesarkan anak mereka di negara Islam murni.

“Dari 137 orang yang telah dipulangkan awal 2017, 79,2% ialah perempuan dan anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun,” ungkapnya. (Ire/news.co.au/Mal/I-2)

Komentar