Internasional

Salah Pilih Font, Korupsi Putri PM Terbongkar

Senin, 17 July 2017 09:08 WIB Penulis: AFP/Haufan Hasyim Salengke/I-3

Putri Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, Maryam Nawaz, saat akan diperiksa komisi antikorupsi di Islamabad, Pakistan, Rabu (5/7). Nawaz diduga melakukan pemalsuan dokumen terkait dengan tuduhan Panama Papers. -- AFP PHOTO / Aamir Qureshi

JANGAN abaikan hal yang sepele. Keteledoran akibat hal yang simpel itu telah menimpa petinggi Pakistan, Perdana Menteri (PM) Nawaz Sharif. Kejadiannya bermula dari pemilihan huruf atau font. Kini kekuasaan Sharif berada di ujung tanduk.

Skandal huruf dengan sebutan #Fontgate berawal dari nama putri PM Sharif, Maryam Nawaz Sharif, tercantum dalam bocoran dokumen Panama Papers 2016.

Pengadilan tinggi setempat pun mulai menyelidiki putri penguasa Pakistan, Maryam, yang berusia 43 tahun. Anak-anak Sharif yang lainnya juga dikaitkan dengan perusahaan cangkang milik Maryam di British Virgin Islands.

Dengan perusahaan itu, keluarga Sharif diduga kuat membeli properti mahal di sekitar Kota London, Inggris. Badan Penyelidik Federal Pakistan meyakini properti dibeli dengan uang hasil pencucian.

Di sisi lain, tokoh oposisi dan rival politik beramai-ramai menuding Sharif. Pasalnya Sharif dinilai tidak dapat menjelaskan bagaimana dia dapat menghimpun kekayaannya.

Badan Investigasi Federal Pakistan mengungkapkan bahwa putri PM Sharif, Maryam, ialah satu-satunya pemegang saham di antara dua perusahaan British Virgin Island. Perusahaan itu berinvestasi di bidang properti papan atas di London.

Namun, perusahaan milik Maryam diduga mendapat ‘kekayaan dengan cara tidak sehat melalui praktik korupsi’. Salah satu aset yang diduga dibeli dengan uang haram itu ialah apartemen Avenfield House.
Akan tetapi, kepada tim investigasi federal, Maryam berkeras bahwa apartemen itu bukan miliknya ataupun anggota keluarga PM Sharif lainnya. Maryam berdalih dirinya hanya sebagai penyewa apartemen mewah tersebut.

Sebagai bukti, Maryam lantas memberikan dokumen yang menyatakan dirinya sebagai penyewa apartemen itu. Di sana tertulis keterangan surat keterangan penyewa dibuat pada 2006.

Namun, tim penyidik yang tidak memercayai begitu saja malah menemukan kejanggalan dalam dokumen tersebut. Pasalnya, jenis huruf yang dipakai ialah calibri. Padahal, jenis huruf itu baru ada dalam pilihan font Microsoft Word setahun setelahnya atau pada 2007.

Karena itu, penyelidik menduga dokumen Maryam palsu. Dia dengan sengaja melakukan itu untuk melindungi aset-aset yang dibelinya dengan uang korupsi.

Kesalahan konyol dalam dokumen Maryam membuat warga Pakistan marah. Mereka juga mengejek PM Sharif dan putrinya yang disiapkan untuk menggatikan jabatan ayahnya sebagai perdana menteri. Publik Pakistan pun menyindir skandal pencucian uang dan korupsi yang melibatkan Sharif dan putrinya melalui media sosial. Mereka menggunakan meme dan candaan dengan tanda pagar #Fontgate atau #calibri.

“Hari ini #calibri menjadi kata yang paling banyak dicari jika dibandingkan dengan kata ‘porno’ di Pakistan,” kata seorang pengguna Twitter, Sherry. (AFP/Haufan Hasyim Salengke/I-3)

Komentar