Internasional

Turki Peringati 1 Tahun Percobaan Kudeta

Senin, 17 July 2017 08:44 WIB Penulis: Anastasia Arvirianty

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (tengah) berpose untuk pengambilan foto saat upacara peresmian monumen untuk memperingati korban upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016, di Ankara, Turki, Minggu (16/7). -- AFP Photo/Handout

TURKI memperingati satu tahun percobaan kudeta yang gagal dengan demonstrasi massal yang berusaha memamerkan persatuan nasional. Saat peringatan itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan ancaman untuk ‘memotong kepala’ para pengkhianat.

Pihak berwenang mengumumkan 15 Juli menjadi sebuah hari raya nasional untuk demokrasi dan persatuan di Turki. Perayaan tersebut terjadi kurang dari sepekan setelah pemimpin Partai Rakyat Republik (CHP) Kemal Kilicdaroglu mengadakan demonstrasi oposisi terbesar di Turki selama bertahun-tahun yang membuat Erdogan kesal.

“Selama setahun terakhir, proses peradilan bergerak ke luar dari kerangka hukum,” ujar Kilicdaroglu.
Dia juga meminta kejelasan penuh atas apa yang terjadi pada 15 Juli 2016 malam dengan pertanyaan yang masih tersisa saat pihak berwenang pertama kali menemukan sebuah kudeta sedang terjadi.

Setelah percobaan kudeta yang gagal, pihak berwenang memulai pembersihan terbesar dalam sejarah Turki, menangkap 50 ribu orang dan memecat hampir tiga kali lebih banyak.

Erdogan juga menopang posisinya dengan memenangi referendum untuk meningkatkan kekuatannya awal tahun ini.

Erdogan mengatakan sebuah keputusan akan dibuat pada Senin (17/7) mengenai apakah akan merekomendasikan memperpanjang keadaan darurat tiga bulan lagi.

Kendati demikian, dalam sebuah prog­ram intens yang bertujuan memastikan pentingnya ulang tahun tersebut, Erdogan meng­hadiri sebuah sesi khusus parlemen di Ankara, berbicara pada sebuah demonstrasi massa di Istanbul, dan kemudian terbang kembali ke ibu kota untuk sebuah demonstrasi di luar parlemen dan sebuah acara khusus di istana kepresidenan pada dini hari.

Hukuman mati
Erdogan memperingatkan dapat memberlakukan kembali hukuman mati saat berbicara di Jembatan Bosphorus, Istanbul.

“Pertama-tama kita akan memenggal kepala para pengkhianat,” seru Erdogan menegaskan kembali bahwa dia akan menandatangani undang-undang yang kemudian akan disahkan parlemen.

Erdogan juga mengatakan para tersangka yang diadili atas kudeta yang gagal tersebut harus mengenakan pakaian seragam seperti pakaian berwarna oranye yang terkenal digunakan di penjara militer Amerika Serikat di Teluk Guantanamo.

“Saat mereka diadili di pengadilan, mari kita membuat mereka tampil dengan pakaian seragam seperti di Guantanamo,” kata Erdogan disambut sorak-sorai.

Para pendukung pun meneriakkan, “Kami adalah tentara Tayyip (Erdogan),” dengan beberapa di antaranya mengacungkan kata-kata dalam simbol dukungan mereka untuk hukuman mati.

Adapun dalam pidatonya ke ribuan orang di luar parlemen di Ankara yang dibom pesawat tempur malam itu, Erdogan menyatakan, “Bangsa kita menunjukkan kepada seluruh dunia, bangsa seperti apakah kita pada 15 Juli.”

Kerumunan orang kemudian berjalan ke istana dengan puluhan di antara mereka telah berkemah di luar, tempat Erdogan meresmikan sebuah monumen kepada para korban yang memiliki kerabat yang menyimpan simbol bulan sabit dan bintang bendera Turki.

Mereka adalah 249 orang, tidak termasuk komplotan, yang terbunuh ketika faksi tentara yang tidak puas mengirim tank ke jalan-jalan dan pesawat tempur ke langit dalam upaya untuk menggulingkan Erdogan setelah satu setengah dasawarsa berkuasa. (AFP/I-2)

Komentar