Humaniora

Lawatan ke Universitas Stanford (1) - Lembah Silikon Pusat Perubahan Dunia

Senin, 17 July 2017 06:15 WIB Penulis: X-5

Universitas Stanford yang terletak di jantung Lembah Silikon, di kota kecil Palo Alto, sekitar 30 km dari San Francisco, Amerika Serikat. Universitas Stanford merupakan salah satu universitas terbaik dan paling bergengsi di dunia. -- stanford.edu

Pengantar Redaksi:
SELAMA tiga minggu, Rizal Malla­rangeng, pendiri Freedom Institute, ber­ada di Palo Alto mengantarkan anaknya, Surya Mallarangeng, mengikuti program sekolah musim pa­nas bagi kaum remaja di Universi­tas Stanford, AS. Sambil menjadi ‘driver dad’, mengantar-jemput Surya setiap hari, Rizal mencoba menelusuri riwayat universitas berpengaruh ini serta sejarah terbentuknya Lembah Silikon yang berada di sekitarnya. Tulisannya disajikan secara bersambung mulai hari ini.

DARI mana sumbernya perubahan du­nia dalam 50 tahun terakhir? Wa­­shington DC, Moskow, London, Paris? Kalau perubahan dalam arti khusus, seperti naik dan turunnya dominasi politik satu atau dua negara, barangkali salah satu dari kota ini akan ma­suk daftar teratas.

Akan tetapi, kalau kita berbicara pada level lebih luas, katakanlah peradaban manusia di awal abad ke-21, sumber transformasi harus kita cari di tempat lain, yakni Silicon Valley, Lembah Silikon, sebuah wilayah yang sebenarnya relatif kecil, membentang 20 km sepanjang Highway 101 California, Pantai Barat Amerika.

Dari tempat inilah, diapit Samud­ra Pasifik dan pegunungan Sierra Ne­va­da, muncul inovasi baru seper­ti mikrocip, komputer personal, internet, Iphone, serta perusahaan global yang melahirkannya, seperti Hawlett-Pa­ckard, Intel, Apple, Facebook, Google.

Beberapa perusahaan itu dipimpin anak-anak muda berusia 25-35 tahun dan tumbuh dalam waktu relatif singkat menjadi perusahan dunia, menyaingi dominasi raksasa AS lainnya seperti GM, Exxon, dan GE.

Transformasi yang mereka hasilkan kadang disebut ‘revolusi’–-re-volusi komunikasi, komputer, internet plus media sosial, dan sebagainya. Semua ini menghasilkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari, baik cara individu berhubungan satu dan lainnya, dalam bekerja, maupun menikmati hiburan, bahkan dalam cara berpikir manusia.

Singkatnya, hampir tidak ada inovasi besar sejak akhir tahun 1960-an yang tidak lahir atau setidaknya difasilitasi di Lembah Silikon. Setelah era mesin uap, kereta api, radio, mobil, dan kapal terbang, kini manusia berada dalam era Iphone.

Setelah ini barangkali kita akan memasuki zaman baru lagi, yaitu era mobil tanpa pengemudi, mobil terbang, robot pintar, atau era transportasi antariksa yang murah dan tepercaya. Kalau semua ini memang terjadi, jejak kaum inovator Lembah Silikon akan lebih dalam lagi di masa depan.

Yang menarik dan perlu dicatat, kalau berbicara tentang Lembah Silikon, kita tidak boleh melupakan peran sebuah institusi penting, yaitu Universitas Stanford. Secara geografis, perguruan tinggi ini terletak persis di jantung Lembah Silikon, di kota kecil Palo Alto, sekitar 30 km dari San Francisco. Secara intelektual dan ekosistem keilmuan, di sinilah episentrum yang memungkinkan perubahan besar tadi terjadi.

Dari segi usia, universitas ini sebenarnya masih tergolong muda, ‘baru’ 132 tahun. Universitas Harvard di Pantai Timur AS sudah mendekati usia 400 tahun. Di Eropa, beberapa perguruan tinggi malah didirikan hampir 1.000 tahun silam (Bolog­na, Sorbonne, Oxford). Meski muda dalam usia, Universitas Stanford kini dianggap salah satu perguruan tinggi terbaik dan paling bergengsi di dunia.

Rahasianya di mana? Bagaimana sejarahnya? Mengapa perguruan ini dan Lembah Silikon, dari tempat semula yang terpencil, hanya berisi perkebun­an buah prune dan aprikot, relatif cepat berubah menjadi pusat ilmu dan teknologi, tempat lahirnya kaum inovator dengan pengaruh begitu dahsyat, tanpa terputus praktis dalam setengah abad terakhir ini? Di mana letak keunikan the Stanford story?

Dalam menjawab dan mene­lusuri pertanyaan ini, walaupun secara cukup singkat, kita akan bertemu beberapa faktor menarik, yaitu kombinasi peran­ pengusaha, akademisi dan pemerintah, perkembangan situasi yang membuka peluang baru, faktor kebetulan, serta tokoh-tokoh visioner, termasuk peran sebuah kelompok yang oleh sejarawan Arnold Toynbee disebut sebagai the creative minority yang berada di balik keajaiban teknologi dan perubahan masyarakat.

Kalau kita lihat sejarahnya, Universitas Stanford lahir dari gabungan faktor yang unik: spekulasi, tragedi, dan kemuliaan jiwa sekaligus.

Pendiri universitas ini, Leyland Stanford, ialah spekulan sukses dari era gold rush yang kemudian membangun kerajaan bisnis rel kereta api di paruh kedua abad ke-19.

Walau tidak sebesar John D Rockefeller dan Andrew Carnegie, dia dianggap salah satu robber barons of the Wild West, sebuah istilah yang terkenal dalam sejarah kapitalisme AS pada periode itu. Karena kekayaannya, dengan mudah dia terpilih menjadi gubernur dan setelah itu menjadi senator yang mewakili California. (X-5)

Komentar