Humaniora

Khofifah Waspadai Ancaman Radikalisme Bagi Anak dan Pelajar

Ahad, 16 July 2017 18:13 WIB Penulis: Syarief Oebaidillah

ANTARA/M Agung Rajasa

KETUA Umum PP Muslimat Nahdatul Ulamat (NU) Khofifah Indar Parawansa mewanti-wanti bahaya gerakan radikalisme yang merebak di kalangan anak dan pelajar. Dia berpesan agar perlindungan terhadap anak dalam keluarga, sekolah dan masyarakat mesti ditingkatkan.

Khofifah mengemukakan hal itu di sela sela acara halal bihalal keluarga besar Pimpunan Pusat Muslimat NU di gedung Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Minggu (16/7).

Dalam kesempatan itu, PP Muslimat NU sekaligus menggelar Peringatan Hari Anak Nasional yang dihadiri tokoh anak anak Indonesia, Kak Seto Mulyadi dan Ketua Komisi Perlindngan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Saleh.

Khofifah yang juga Menteri Sosial ini mengemukakan keprihatinannya itu terkait peringatan Hari Anak Nasional berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga yang kompeten yang menurut dia cukup mencengangkan.

Salah satunya ialah survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Menurut Khofifah survei menyebutkan benih radikalisme di kalangan anak remaja Indonesia dalam tahap mengkhawatirkan.

Sebanyak 6,12% menyatakan setuju bahwa pengeboman yang dilakukan Amrozi cs merupakan perintah agama. Sebanyak 40,82% responden menjawab 'bersedia', dan 8,16% responden menjawab 'sangat bersedia' melakukan penyerangan terhadap orang atau kelompok yang dianggap menghina Islam.

"Umumnya mereka itu terdapat anak dan pelajar jenjang siswa SMA dan mahasiwa atau di kalangan perguruan tinggi. Saya kira hal ini sangat memprihatinkan yang harus kita waspadai bersama,” kata Khofifah.

SMRC juga menyebut ada 9,2% responden yang setuju NKRI diganti menjadi negara khilafah atau negara Islam.

Khofifah juga mengungkap lembaga survey Wahid Foundation, yang menyebutkan, sebanyak 7,7% responden bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4% justru pernah melakukan tindakan radikal.

“Angka yang disebutkan ini mungkin terbilang kecil akan tetapi merupakan suatu ancaman. Karena bukan tidak mungkin jumlahnya semakin besar dan menganggu stabilitas keamanan dan politik bangsa. Kita patut khawatir yang disasar adalah anak pelajar dan remaja yang masih dalam tahap perkembangan, maka bisa jadi benih-benih radikalisme yang tertanam menjadi bom waktu di masa mendatang, “ tambah dia.

Ia menambahak dengan masuknya radikalisme yang menyasar kaum pelajar. Yang dapat disebabkan justru disebarkan antara lain oleh guru atau pengajar yang berafiliasi atau bersimpati terhadap organisasi yang berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideologi transnasional. Arahnya adalah doktrinisasi anak-anak untuk mendukung khilafah.

"Pergerakan mereka tidak statis. Penyebaran pengaruh juga dilakukan dengan serangkaian perekrutan anggota baru, pelatihan dan pendidikan kader yang dilakukan secara masif," imbuhnya.

Oleh karena itu, tambah Khofifah, evaluasi atau uji kompetensi terhadap pengajar atau guru harus diperketat. Dengan begitu, deteksi terhadap pengajar yang berpaham radikal tidak terjadi belakangan, melainkan sejak awal.

Dikatakan selain karena pengaruh pengajar atau guru bahaya, radikalisme juga terjadi akibat derasnya arus informasi yang beredar di media sosial dan intermet. Lantaran tidak ada filter, informasi yang beredar pun menjadii tidak terkendali.

Menurut Khofifah, perspektif kemaslahatan umum harus ditata kembali. Termasuk dalam hal berguru dan mencari ilmu. Saat ini, tambah dia, mayoritas orang mencari ilmu lewat gadget. Alhasil, banyak yang menjadi sesat karena tidak mengetahui asal muasal dalil dan sumber informasi tersebut.

"Sanadnya tidak jelas. Jadi kalau mau berguru atau mencari ilmu harus jelas siapa yang menjadi jujugan sehingga tidak salah ajar" tuturnya. (OL-6)

Komentar