Tifa

Sepekan Merayakan Budaya

Ahad, 16 July 2017 10:50 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

BERSAMA: Pelukis Australia Jandamarra Cadd melukis bersama dengan seniman Indonesia Jerry Thung di Kedutaan Besar Australia di Jakarta---MI/Abdillah M Marzuqi

KUAS itu sengaja dipegang terbalik. Pasti dan tanpa menghentak, gagang kuas itu ditutulkan ke kanvas. Tangan Jandamarra Cadd dengan terlatih berpindah dari wadah pewarna dan bidang gambar. Satu per satu titik seukuran ujung kayu kuas mulai terbentuk. Bersama, titik-titik itu menjadi pengisi pada ruang gambar.

Jandamarra Cadd tidak sendirian mengisi kanvas berukuran sekitar 2x3 meter. Ia berkolaborasi dengan pelukis Indonesia Jerry Thung.

Berbeda dengan Jandamarra Cadd yang ketika itu membalik kanvasnya, Jerry Thung mengunakan kuas tanpa terbalik. Ia memosisikan kuas dengan saput bergelimang cat. Berbeda dengan Jandamarra Cadd yang cenderung dengan warna-warna kuat dan kukuh, Jerry Thung menggambar dengan warna-warna halus. Sapuan kuas Jerry memberi warna pada bidang gambar sebelah kiri, sedangkan Jandamarra Cadd menabur objek pada kanvas sebelah kanan.

Mereka berdua sedang dalam misi untuk menghasilkan karya bersama. Karya yang bakal menjadi simbol dari pertemuan dan hubungan dua sisi yang berbeda, dua negara, dua budaya, dua tradisi, dan dua karakter lukis yang berbeda. Pelukis Australia Jandamarra Cadd melukis sama dengan seniman Indonesia Jerry Thung di Kedutaan Besar Australia di Jakarta (11/7). Mereka menciptakan karya seni yang mewakili hubungan erat Australia dan Indonesia.

Mereka bertampil dalam Australian-Indonesian Artists Collaboration yang menjadi salah satu dalam rangkaian acara bertajuk National Aborigines and Islanders Day Observance Committee (NAIDOC) Week 2017.

Selama sepekan, terdepat beberapa acara yang berlangsung, yakni Flag Raising Ceremony, Indigenous Art Exhibition, Australian-Indonesian Artists Collaboration, dan Film Screening; Satellite Boy. Sebelumnya, mereka telah bersepakat untuk menafsir tema tentang budaya dan tradisi dalam karya kolaborasi itu. Jadilah Jandamarra membuat gambar dengan teknik dot painting yang merupakan teknik khas masyarakat Aborigin.

Dua kebudayaan melebur
Dalam kanvas itu, dua kebudayaan melebur menjadi satu. Jandamarra melukis kura-kura yang berimpit dengan pola arus berwarna cerah. Sedangkan sisi sebelahnya, Jerry Thung melukis naga dan burung garuda. Naga ialah penanda karya Jerry Thung yang selama ini memang banyak dipengaruhi budaya Tionghoa, sedangkan burung garuda ialah lambang negara Indonesia.

"Lukisan kami menggambarkan nilai-nilai tradisi, saya melukis naga dan garuda sebagai simbol hubungan dua negara lewat laut dan udara," jelas Jerry.

Cadd memakai teknik dotting dengan ujung kuas terbalik. Ia memakai kayu gagang kuas untuk menghasilkan banyak titik. Teknik dot painting merupakan teknik seni Aborigin yang menggambarkan pemandangan topografi lanskap dari atas, jejak binatang, kerumunan orang, dan pola alam lainnya.

Jerry Thung dikenal sebagai pelukis impresionis yang kental dengan pemahaman spirit melalui karya-karyanya, sedangkan Jandamarra Cadd dikenal sebagai pelukis yang menggunakan berbagai gaya dan medium untuk memadukan teknik lukis asli Aborigin dan teknik kontemporer.

Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson mengatakan pembuatan karya bersama Jandamarra Cadd dan Jerry Thung mengikuti sejarah panjang kolaborasi antara warga Australia dan Indonesia.

"Hubungan kedua negara dibangun atas koneksi pribadi yang mendalam dan kukuh antarwarganya. Bahkan sejak 1700-an, para nelayan di Sulawesi Selatan melakukan perjalanan ke bagian utara Australia untuk berdagang, membentuk hubungan-hubungan dan masyarakat baru," terangnya.

Selain melukis bersama, pameran seni digelar sebagai bagian dalam helatan untuk merayakan kekayaan budaya asli penduduk Australia. Selain itu, acara ini menjadi bagian dari kampanye gaya hidup Kedutaan Besar Australia, yang menyoroti keberagaman budaya Australia.

Indigenous Art Exhibition digelar dengan pameran. Untuk pertama kalinya, Kedutaan Besar Australia menghadirkan seluruh koleksi karya seni penduduk asli Australia. Untuk pertama kalinya, sebanyak 50 karya seni dan fotografi dipamerkan di satu tempat. Keragaman karya juga tampak, sebab karya yang dipamerkan mulai karya kontemporer hingga reproduksi seni kulit kayu dari koleksi pameran Old Masters Museum Nasional Australia. Pameran seni itu menunjukkan kekayaan dan kompleksitas budaya asli penduduk Australia.

"Kami beruntung memiliki koleksi yang luar biasa dari seluruh penjuru negeri dan masing-masing memiliki kisah unik untuk diceritakan," pungkas Paul Grigson. (M-2)

Komentar