Tifa

Wayang Bocor, Wajah Islam, dan Jawa

Ahad, 16 July 2017 10:44 WIB Penulis: Ardi Teristi

Cerita tentang kisah hidup Sunan Kalijaga bertajuk Semelah ditampilkan Wayang Bocor di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 7 dan 8 Juli 2017---MI/Ardi Teristi

SESOSOK maling Aguna berkerudung sarung berkelebat laiknya ninja di dalam kegelapan malam. Ia mendatangi rumah-rumah si kaya dan mencuri sebagian harta benda untuk dibagi-bagikan kepada si miskin. Sontak, si miskin pun senang bukan kepalang di pagi buta. Mereka menemukan bungkusan barang-barang berharga di depan rumah mereka.

Sosok dermawan layaknya Robin Hood tersebut tidak tinggal di Inggris, tetapi di Pulau jawa, pada masa keruntuhan Kerajaan Majapahit dan mulai berdirinya Kerajaan Demak. Maling Aguna tersebut ialah Raden Said, Putra Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Cara berderma seperti Robin Hood tersebut terus dilakukan sampai Maling Aguna bertemu dengan seorang ulama sakti. Ulama tersebut mampu mengubah sebongkah tanah menjadi emas.

Maling Aguna bersujud kepada ulama tersebut. Lelaki yang nantinya mendapat julukan Sunan Kalijaga ini rela bertapa menunggu tongkat sang ulama di tepi kali untuk membersihkan diri dari kejahatan-kejahatan di masa lalunya. Ia dikenal sebagai sosok wali yang menyebarkan agama Islam dengan menggunakan tradisi Jawa, seperti melalui wayang dan selawat.

Sepintas cerita tentang kisah hidup Sunan Kalijaga dengan judul Semelah ('God Bliss') ditampilkan Wayang Bocor di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 7 dan 8 Juli 2017. Pementasan wayang yang memasukkan unsur musik elektronik ini sudah dipentaskan pula di tiga kota di Amerika, yaitu New York, North Carolina, dan Los Angelas pada Januari 2017.

Islam dan Jawa
Gunawan Maryanto, selaku Sutradara sekaligus penulis naskah, menjelaskan lakon kali ini menceritakan proses kehadiran Islam di Jawa yang melalui proses asimilasi budaya Jawa dan ajaran Islam. Semelah yang berarti bismillah, bagi orang Jawa, merupakan symbol yang kuat atas asimilasi budaya yang terjadi tersebut.

"Isu ini diangkat sebagai salah satu cara menunjukkan pada publik bahwa agama merupakan alat untuk menyatukan umat, bukan alat untuk memecah umat," kata Gunawan seusai pementasan, 7 Juli 2017. Di sisi lain, penonton juga dapat melihat bahwa Islam itu penuh kelembutan, bukan kekerasan.

Lakon ini ditampilkan sesuai dengan permintaan dari Asian Society, yang meminta lakon baru yang berkaitan dengan Islam dan Jawa. Cerita Sunan Kalijaga, nilai Gunawan, sangat menarik dan masih relevan dengan situasi saat ini, yaitu memperlihatkan wajah lain Islam. Sebabnya, kemenangan Donald Trump dalam pilpres di Amerika beberapa waktu lalu sedikit banyak membawa fobia terhadap Islam bagi warga Amerika.

Cerita Sunan Kalijaga memperlihatkan wajah lain Islam. Dalam cerita tersebut, kesenian dan kebudayaan bisa menjadi medium untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat. Lewat kesenian dan kebudayaan pula, ruang untuk mempercakapkan hal-hal tentang Islam secara lebih tenang bisa terwujud.

Eko Nugroho, selaku penggagas ide dan visual Wayang Bocor mengatakan, lakon Semelah merupakan lakon ketujuh dari Wayang Bocor. Lakon-lakon lainnya yang sudah pernah dipentaskan, antara lain Bungkusan Hati di dalam Kulkas, Dimiscall Leluhur, dan Hikayat Agar-Agar Bertanduk. "Tema yang kami pentaskan adalah fenomena-fenomena yang ada di masyarakat yang kita angkat di dalam cerita.

Wayang Bocor, lanjut Eko, merupakan media pertunjukan yang dibuat sebagai tempat untuk berkolaborasi seniman dari berbagai genre, baik seni rupa teater, musik, dan lain-lain. Dipilih wayang karena wayang merupakan kesenian yang paling dekat dan familiar di Jogja.

"Media ini juga sangat dekat dengan masyarakat. Pesan-pesan yang disampaikan melalui wayang tidak langsung menghardik, tetapi cerita wayang bisa memunculkan emosi dan imajinasi yang luas bagi penonton," kata dia. Setelah di Amerika dan Yogyakarta, pertunjukan ini juga akan digelar di Riau (11 dan 12 Juli) dan Jakarta (14 Juli). (M-2)

Komentar