Jeda

Inspirasi sang Perintis Koperasi

Ahad, 16 July 2017 09:42 WIB Penulis: MI

Setiadi, Ketua Koperasi Rukun Mekar Desa Cipagalo, Bojongsoang, Kabupaten Bandung---MI/Arya Manggala

DENGAN memakai batik warna hijau, sore itu Hadna Setiadi, 74, Ketua Koperasi Simpan Pinjam Rukun Mekar, memasuki koperasi mendampingi wanita paruh baya yang tampak gelisah. Tangannya membawa buku berwarna kuning yang menjadi buku simpanan uang.

Ia kemudian berdiskusi serius dengan Teguh Tata Atmaja, staf koperasi, untuk dapat melayani dan memberikan solusi terbaik bagi kedua pihak. Suami wanita itu yang berada di Linggau, Sumatra Selatan, mendapat musibah, kecolongan semua harta bendanya hingga tak punya biaya bahkan untuk pulang sekalipun. Menurut rencana, wanita itu akan meminjam uang atas nama suaminya, tetapi terkendala oleh aturan.

"Dalam aturan, pengambilan simpanan ataupun peminjaman harus diambil langsung oleh orang yang bersangkutan, tidak boleh diwakilkan," kata Hadna yang ditemui Media Indonesia, di Kantor Rukum Mekar, di Desa Cipagalo, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Senin (11/7).

Tentu kejadian semacam ini sudah sering dialami Hadna, bahkan alasannya bisa bermacam-macam. Hadna mengaku sangat hati-hati mengambil keputusan meskipun sebenarnya merasa iba dan tak enak hati jika tak membantu anggotanya, apalagi yang sudah dikenalnya dekat.

Namun, mau tak mau Hadna harus mengambil keputusan yang tegas sesuai dengan aturan koperasi yang telah disepakati bersama, tentu dengan perlakuan yang sopan. "Prinsip kerja kami memang mengedepankan pelayanan yang baik, khususnya dalam perlakuan kepada nasabah. Tata krama dan sopan santun menjadi terpenting," lanjut Hadna.

Baginya, sopan santun menjadi pula salah satu faktor penentu usaha apa pun untuk berkembang dan bisa dipercayai orang lain.

Karena paham betul dengan pelayanan, Hadna pun tak mau mengecewakan para nasabahnya. Meskipun di usia lanjutnya, 74, ia tetap semangat turun langsung melayani para nasabahnya menyimpan atau membayar pinjaman sebelum jam koperasi beroperasi. Pukul 6 pagi, ia telah berada di kantornya sendirian untuk melayani nasabah yang datang sambil mengantarkan anak ke sekolah.

"Koperasi itu bagaikan berburu di hutan belantara, susah mencari nasabah. Masak yang susah dikejar-kejar, tapi yang datang sendiri tak dilayani dengan baik," kata Hadna.

Ya, tak hanya berlaku tegas, dalam kepengurusannya ini Hadna menerapkan sistem kekeluargaan seperti yang diaplikasikan saat menagih pinjaman kepada anggotanya. Seseorang kepercayaannya akan datang masing-masing ke rumah peminjam untuk mengetahui keadaan nasabah saat tunggakan pinjaman, mencoba memahami keadaan nasabah sembari silaturahim.

Pemimpin ala Hadna
Lulusan sekolah rakyat itu merintis koperasi Rukun Mekar pada 1983. Saat itu Hadna yang sehari-hari menjadi kuli bangunan melihat tetangga-tetangganya di Cipagalo sengsara akibat terbelit oleh rentenir. Kini, Rukun Mekar terus bertumbuh sejalan dengan bertambahnya keanggotaan. Hingga 2016 tercatat 4.925 orang tergabung sebagai anggota, mulai petani, ibu rumah tangga, yayasan pendidikan, pengusaha mikro dan menengah, hingga karyawan swasta lainnya. Sementara itu, aset yang dimiliki mencapai Rp62 miliar dan jumlah pinjaman yang disalurkan pada 2016 mencapai Rp37 miliar.

Menurutnya, figur pemimpin yang baik dan berhasil itu ialah seseorang yang dapat menjaga reputasi baik pribadi maupun keseluruhan karyawan. Karena itu, tak mengherankan jika koperasi itu sudah mengantongi beberapa penghargaan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), yaitu Koperasi Simpan Pinjam Berprestasi 2011, nomine KSP Award 2016 untuk kategori pelayanan pinjaman ke sektor produktif terbaik dan penumbuhan keanggotaan paling cepat.

Hadna pun mendapatkan beberapa penghargaan atas dedikasi dirinya terhadap koperasi seperti Tokoh Koperasi Tingkat Kabupaten Bandung 2017 serta Setia Lencana Wirakarya dalam Bakti Koperasi 2017.

Tak berkomentar jauh dengan penghargaan atas kepemimpinannya, ia justru mengungkapkan ganjalannya tentang para pemimpin negeri ini. "Orang-orangnya pinter, gajinya juga besar, tapi mengapa karakternya tak baik, masih bisa mencuri. Hal itu tentu memberikan contoh tidak baik kepada para bawahnya. Lalu saat sidang paripurna yang saya tonton di televisi, enggak ada yang patut dicontoh, bertengkar terus," kata Hadna dengan logat Sunda.

Sang pemimpin dari akar rumput itu pun mengatur sistem kontribusi Rukun Mekar pada sekitar. Ada pos dana sosial ke masjid, renovasi posyandu, hingga renovasi halaman Kecamatan Bojongsoang dan renovasi Gedung Dekopinda Kabupaten Bandung. "Total dana sosial yang kami salurkan mencapai Rp100 juta untuk 2016, belum termasuk yang diberikan kepada anggota," kata Hadna. (*/M-1)

Komentar