Jeda

Belajar dari Pemimpin Ndeso

Ahad, 16 July 2017 09:33 WIB Penulis: MI

Dingo Markus, sang penjaga tiga sungai yang berhulu di Pengunungan Muller---MI/Aries Munandar

BERJALAN kaki selama lebih dari 5 jam dilakukan Dingo Markus, 40. Ia cekatan naik turun bukit, padahal ada 15 polybag bibit gaharu yang dipanggulnya.

Dingo menjadi bagian dari rombongan yang hendak menghijaukan kawasan Sarai Biang, air terjun di Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Perjalanan itu dilakukan malam hari seusai ia menuntaskan pekerjaan di kantor desa. Padahal, mata kirinya tidak lagi berfungsi karena gangguan kornea.

"Dia itu, kan, kepala desa. Kalau dia mau, bisa saja menyuruh orang lain untuk mengangkut bibit tanaman," kata Manajer WWF Program Kalimantan Barat, Albertus Tjiu, yang ikut dalam rombongan.

Kejadian pada awal tahun ini hanya sekelumit kisah Dingo sebagai kepala desa. Cerita inspiratif kebanyakan diperoleh dari orang lain ketimbang langsung dari mulut Dingo.

Dingo memang berkomitmen penuh buat lingkungan desanya. Berbagai inisiasi dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem, termasuk menggalakkan kembali kearifan lokal.

Suyuk, sungai utama di Desa Tanjung, kini kembali jernih dan tidak pernah mengering. Warga pun memiliki hutan desa seluas 2.520 hektare sebagai kawasan konservasi. Dingo pun diganjar penghargaan tokoh inspiratif dunia 2016 oleh The Paul K Feyerabend Foundation di Finlandia.

Kisah tentang pemimpin sejati di akar rumput juga terjadi di penjuru Kapuas Hulu lainnya, di kawasan Danau Empangau dan Empangau Hilir. Ada Agus, 37 sang Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang tak tamat SMP, tapi memimpin perlindungan bagi danau seluas 124 hektare yang menjadi habitat arwana superred (Scleropages formosus) alias siluk.

Saat panen, alat tangkap, ukuran ikan, hingga teknis pemanen diatur dengan ketat dan tertulis secara detail. Pendapatan Rp250 ribu untuk setiap siluk yang dipanen warga dimanfaatkan secara optimal. Salah satunya ialah untuk mendirikan SMA satu-satunya di perkampungan nelayan tersebut. Dari desa, dalam kerja keras yang tak berisik, mereka menginspirasi. (AR/M-1)

Komentar