Humaniora

Pendidikan dalam Keluarga Benteng Radikalisme

Ahad, 16 July 2017 09:23 WIB Penulis: Indriyani Astuti

MI/BARY FATAHILLAH

PENDIDIKAN dalam keluarga menjadi benteng yang kuat untuk menangkal radikalisme di Indonesia yang akhirakhir ini kian mengkhawatirkan. Keluarga berperan menjadi wahana utama dalam pembangunan karakter bangsa.

"Dengan adanya radikalisme yang sekarang sedang merambah dan semakin meningkat, harus kembali lagi ke agama dan Pancasila. Orangtua bertanggung jawab sebagai pihak yang pertama menanam kan nilainilai itu," ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dalam puncak kegiatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2017, di Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim, Bandar Lampung, Lampung, kemarin (Sabtu, 15/7).

Keluarga, lanjutnya, harus menjadi pihak pertama yang memperkenalkan pendidikan agama dan Pancasila kepada anak-anak mereka. Namun, jangan cuma teori.

"Dalam peringatan Harganas, saya mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk mewujudkan keluarga yang berkumpul, keluarga yang berinteraksi, keluarga yang melindungi, dan keluarga yang peduli. Itu harus dilaksanakan dalam kehidupan seharihari," pungkasnya.

Senada dengan Puan, psikolog Katarina Ira Puspita mengatakan orang tua berperan penting dalam menyo sialisasikan deradikalisasi di rumah. "Keluarga harus peka terhadap kehidupan anak-anak mereka. Contohnya, jika ada seseorang yang mengajak untuk melakukan perbuatan tidak baik, pasti anak-anak itu menolak. Alasannya karena perbuatan itu dilarang oleh orangtua," jelas dosen psikologi di Universitas Bina Nusantara (Binus) itu saat dihubungi secara terpisah.

Selain itu, tambahnya, orangtua wajib membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak mereka. "Jadi, biasakanlah terbuka agar anak mau bercerita apa pun yang terjadi sama dia dalam kehidupannya seharihari," kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu lagi.

Antiradikalisme
Rektor perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta (PTS) se-Sumatra Barat dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTS) Kepulauan Riau dan Jambi mendeklarasikan antiradikalisme dan intolerisme, di Universitas Negeri Padang (UNP).

Acara deklarasi sekaligus peresmian gedung baru UNP dan peluncuran Minang Enterpreneurship itu dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur.

Kalla meminta Menteri Komunikasi dan Informatika untuk mengejar dan menindak tegas penyebaran radikalisme di internet. "Dewasa ini paling ekstrem penyebarannya ialah dengan teknologi. Karena itu, Pak Menkominfo harus mengejar radikalisme di internet, bagaimana kita mengejar bersamasama," ujarnya di Auditorium UNP.

Rektor UNP Ganefri mengatakan deklarasi dalam bentuk 'Dari Padang untuk Indonesia' itu berkomitmen melarang segala bentuk paham dan kegiatan intolerasi, radikalisme, dan terorisme.

Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan deklarasi antiradikalisme merupakan suatu kesepakatan untuk memerangi radikalisme dan terorisme. (Gol/NV/EP/Ant/X-7)

Komentar