BIDASAN BAHASA

Baku, tapi tidak Populer

Ahad, 16 July 2017 04:01 WIB Penulis: Henry Bachtiar/Staf Bahasa Media Indonesia

Wikipedia

PENULIS sering kali menemui kosakata dalam artikel ataupun tayangan televisi yang, setelah dicek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata tidak baku. Namun, kosakata tidak baku itu malah lebih populer. Penulis bahkan cukup kaget dengan beberapa kosakata baku hasil perbandingan dengan kosakata yang tidak baku. Hal itu disebabkan, setelah dibandingkan, kosakata baku tersebut sangat tidak populer atau hampir tidak pernah terdengar di keseharian. Berikut bentuk-bentuk baku tersebut, dimulai dari yang paling tidak terduga, menurut penulis.

Pertama, seriawan. Anda pernah mendengarnya? Seriawan merupakan bentuk baku dari kosakata tidak baku sariawan. Kosakata sariawan yang kerap disebut di sejumlah tayangan iklan ternyata merupakan bentuk tidak baku. Kosakata yang baku ialah seriawan (n penyakit pada gusi, bibir bagian dalam, langit-langit mulut, atau lidah). Penulis sampai saat ini belum pernah menemui kosakata itu dalam penulisan artikel-artikel yang pernah dibaca. Umumnya kosakata yang sering dipakai ialah sariawan.

Kedua, penatu. Anda tahu laundry? Umumnya kosakata dalam bahasa asing itu diterjemahkan binatu. Namun, menurut KBBI, bentuk baku dari kosakata binatu ialah penatu (n usaha atau orang yang bergerak di bidang pencucian [penyetrikaan] pakaian; dobi; benara). Kosakata baku itu cukup asing di telinga kita, bukan?

Ketiga, wihara. Kosakata wihara (n biara yang didiami para biksu umat Buddha) ialah bentuk baku. Namun, bentuk tidak baku, vihara, ternyata lebih populer karena lebih kerap ditemui pada tempat peribadatan umat Buddha dan situs-situs internet.

Keempat, wawas diri. Kosakata wawas diri merupakan bentuk baku. Bentuk tidak bakunya mawas diri. Dalam pengajaran ketatanegaraan atau pendidikan moralitas dulu, penulis lebih sering menjumpai kosakata mawas diri. Padahal, kosakata yang baku ialah wawas diri atau mewawas diri (v melihat [memeriksa, mengoreksi] diri sendiri secara jujur; introspeksi: kita harus wawas diri agar jangan membuat kesalahan yang sama).

Kelima, pendonor. Awalnya penulis, mungkin juga pembaca sekalian, mengira pendonor ialah penderma atau penyumbang. Akan tetapi, nyatanya kosakata itu tidak ada dalam KBBI. Kosakata yang ada ialah donor. Kosakata donor dalam KBBI memiliki tiga arti: 1) n penderma; pemberi sumbangan, 2) n penderm­a darah (yang menyumbangkan da­rah untuk menolong orang lain): donor darah, 3) n Fis unsur kimia yang jika ditambahkan ke dalam semikonduktor murni dapat menambah konsentrasi elektron bebas di dalam semikonduktor itu. Dengan mengacu kepada pengertian yang pertama dan kedua, kosakata donor sudah berarti penderma atau penyumbang. Dengan demikian, kosakata pendonor tidak eksis atau tidak ada karena donor ialah orang yang mendermakan atau orang yang menyumbangkan. Tak terduga, bukan? Selama ini mungkin kita mengira donor ialah verba, sedangkan pendonor ialah nomina yang dibentuk dari donor yang mendapat imbuhan peN-.

Masih banyak kosakata atau bentuk baku lain yang kalah populer jika dibandingkan dengan bentuk tidak bakunya. Lima bentuk baku itu, berdasarkan pengalaman penulis dalam membaca artikel dan menyaksikan tayangan televisi, paling sering muncul dan cukup mengagetkan. Semoga bentuk baku itu akan mulai muncul atau syukur bisa lebih sering tampil dalam penulisan artikel dan tayangan televisi ketimbang bentuk tidak bakunya.

Komentar