Travelista

Berjumpa Fu, Lu, dan Shou di Singapura

Ahad, 16 July 2017 00:46 WIB Penulis: Fario Untung

MI/FARIO UNTUNG

SEPERTI biasa, cuaca di Singapura pagi jelang siang, Selasa (13/6), sangatlah terik. Matahari begitu tampak bersemangat memancarkan sinar tanpa sedikit pun awan menghalangi. Terik sinar matahari yang begitu menyengat tak menghalangi langkah saya untuk menuju tempat yang katanya menceritakan mitos, legenda, sejarah, serta cerita rakyat dari ‘Negeri Singa’ ini. Nama tempatnya ialah Haw Par Villa.

Jika sepintas diucapkan, tempat wisata yang satu ini memang sedikit agak asing di telinga para wisatawan, apalagi turis Indonesia yang lebih memilih berbelanja di kawasan Orchard Road, China Town, Bugis Street atau menikmati wahana permainan di Sentosa Island serta berfoto di patung Merlion.

Namun, karena penasaran ingin melihat sesuatu yang berbeda dari Singapura, saya pun memutuskan menuju Haw Par Villa dengan menggunakan MRT. Menuju tempat yang didirikan pada 1937 itu cukuplah mudah. Saya tinggal menuju persimpangan jalur MRT berwarna kuning (circle line) dan turun di Stasiun Haw Par Villa.

Karena menginap di jalur berwarna merah (north south line), saya pun harus berganti dua jalur untuk bisa mencapai jalur warna kuning. Perjalanan siang itu terasa lumayan jauh karena harus melewati sebanyak 15 stasiun untuk bisa tiba di tempat yang dulu bernama Tiger Balm Gardens itu.

Meski cukup jauh, perjalanan menuju Haw Par Villa dengan menggunakan MRT cukup nyaman karena jalur yang dilewati bukanlah area utama perkantoran atau tempat wisata. Dengan demikian, tempat duduk yang tersedia cukup banyak dan terlihat lowong.

Akhirnya kereta yang saya tum­pangi berhenti di Stasiun Haw Par Villa. Setelah keluar dari kereta, menuju Haw Par Villa sangatlah mudah. Papan petunjuk Haw Par Villa (Tiger Balm Gardens) terlihat jelas di sudut-sudut stasiun tersebut.

Saya tak butuh waktu lama untuk melangkah jauh demi bisa mencapai Haw Par Villa seusai keluar dari stasiun. Hanya sekitar 50 meter, pemandangan yang cukup eksentrik sudah langsung terlihat dari tampak depan tempat wisata tersebut.

Tak berbayar

Tulisan Haw Par Villa berwarna kuning dengan latar bebatuan yang dicat merah dan putih menjadi pemandangan utama pintu masuk di kawasan ini. Tidak sedikit pun terlihat antrean di loket karcis. Ya, pengunjung tidak dipungut biaya apa pun untuk berkunjung.

Siang hari itu, tak banyak terlihat turis atau masyarakat lokal yang berkunjung. Hanya, banyak terlihat rombongan anak sekolah dasar yang sedang berkunjung bersama dengan guru-gurunya.

Penampakan lain yang terlihat ialah gerbang abu-abu bertuliskan Haw Par Villa dengan gambar macan di atasnya. Ini menjadi semacam penanda pintu masuk. Lantai yang penuh berwarna merah meng­arahkan kita untuk menuju patung-patung yang menjadi ciri khas Haw Par Villa.

Patung dewa

Puluhan bahkan ratusan jenis patung tertata rapi di setiap sudut Haw Par Villa. Bukan sembarang patung yang diukir dan diletakan begitu saja, ada penjelasan, makna, serta arti setiap patung tersebut.

Makna patung-patung itu, ajaran kebaikan dan arti kehidupan. Salah satunya, patung Laughing Buddha atau Buddha Tertawa.

Pemandu wisata setempat bernama Li Yuan menjelaskan patung Buddha Tertawa yang berperawak­an perut buncit, memakai kain berwarna putih, dan membawa tongkat itu sangatlah banyak ditemukan di wihara atau rumah-rumah orang Tiongkok. “Perut buncitnya itu melambangkan hati yang terbuka, kegembiraan, dan kemurahan hati. Maka banyak masyarakat yang percaya jika mengusap perut Buddha Tertawa ini akan membawa nasib baik dan kemakmuran,” tutur Yuan.

Ada juga tiga buah patung yang merupakan Dewa Kegembiraan, Kemakmuran, dan Panjang Umur yang berdiri bersebelahan. Ketiga dewa itu diyakini masyarakat Tiongkok sebagai dewa yang sangat dihormati dan dipercaya bisa membawa berkah.

“Dewa Kegembiraan namanya Fu, Dewa Kemakmuran bernama Lu, sedangkan Dewa Panjang Umur ialah Shou. Ketiganya mewakili keinginan utama manusia, yakni kemakmuran, panjang umur, dan kebahagiaan,” terangnya.

Selain kedua patung itu, masih banyak lagi patung serta ukiran yang menjadi legenda, mitos, atau sejarah budaya masyarakat Tiongkok, seperti legenda ular putih atau yang lebih dikenal dengan white snake legend, dewa monyet, dan kuda putih. (M-1)

Komentar