PIGURA

Belajar dari Sengkuni

Sabtu, 15 July 2017 23:01 WIB Penulis: Ono Sarwono

TIDAK sedikit rakyat yang tidak respek terhadap para wakil mereka di parlemen. Penyebabnya, selain menahunnya perilaku korup, gerak langkah dewan kerap geseh (tidak nyambung) dengan aspirasi rakyat. Pada sisi lain, politik mereka selalu beragenda setting. Ada tujuan yang disembunyikan dari wajah politik yang dipertontonkan kepada publik.

Inilah yang mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap anggota dewan pun terus tergerus. Misalnya, pada pansus angket KPK yang digulirkan DPR. Meski dewan menarasikan pansus guna memperkuat KPK, rakyat melengos. Sejumlah elemen masyarakat malah mencurigai pansus sebagai kuda troya dewan untuk menggelandang lembaga antirasywah tersebut.

Maknanya, di mata rakyat, ada watak tidak jujur anggota dewan. Antara hati dan apa yang diomongkan serta tindakan berbeda. Dengan kata lain, karakter mereka tak jelas sehingga menimbulkan perasaan waswas.

Mengadu domba

Dalam konteks ini, ada setitik nilai yang bisa dipelajari dari contoh buruk politikus culas dalam cerita wayang. Ia Trigantalpati, elite Astina pada rezim Kurawa, yang kondang dengan nama Sengkuni.

Poinnya bukan pada mazhab pragmatisme yang ia usung, melainkan pada ‘kejujurannya’ dalam berpolitik. Sengkuni tidak pernah tedheng aling-aling memperlihatkan wajah politiknya yang diakuinya tidak beradab. Ia bukan tipe politikus yang menyembunyikan sesuatu atau munafik dan berani pasang badan menghadapi nistaan.

Kisahnya, asa politik Sengkuni bersemai ketika pada suatu hari kakaknya, Gendari, yang dinikahi Drestarastra, memintanya mencari cara agar salah satu dari 100 anaknya menjadi raja. Kala itu tampuk kekuasaan Astina dipegang Pandu Dewanata, adik kandung Drestarastra.

Drestarastra ialah putra sulung raja sebelumnya, Kresnadwipayana. Berdasarkan paugeran, ia berhak menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun, ia menolaknya karena alasan matanya tidak bisa melihat (buta). Ia legawa tidak duduk di singgasana dan mempersilakan adiknya, Pandu, meneruskan estafet kepemimpinan di Astina.

Dalam sejarah Astina, praktik politik di negara ini dipenuhi keadaban. Pada gilirannya, negara stabil, rakyat hidup rukun, dan sejahtera. Tidak mengherankan bila Astina menjadi agung nan kuncara.

Pamor bersih perpolitikan Astina berubah keruh ketika Sengkuni mulai bermain. Itu diawali ketika terjadi kesalahpahaman antara Pandu dan muridnya, Tremboko, pemimpin Negara Pringgondani.

Sengkuni berhasil mengadu domba kedua pemimpin tersebut sehingga terjadilah peperangan. Baik Pandu maupun Tremboko akhirnya gugur. Sebelumnya, ia memfitnah patih Astina, Gandamana, sehingga terjungkal dari kursinya. Jabatan orang kedua di Astina itu pun jatuh dalam genggamannya.

Bukan tanpa ongkos, Sengkuni menjadi patih dengan membayar mahal. Seluruh raganya rusak akibat digebuki Gandamana. Ia yang semula gagah dan tampan menjadi penuh bopeng. Ini risiko yang telah diperhitungkan dan ia nyaman menanggungnya selama hayat dikandung badan.

Sepeninggal Pandu, Drestarastra menjadi raja ad-interim. Pada era itulah Sengkuni mengeluarkan jurus politiknya. Dengan kecerdikan akal dan kelihaiannya bicara, ia memperdaya Drestarastra sehingga bersedia menobatkan putranya, Jaka Pitana, menjadi Raja Astina.

Kala itu Drestarastra masih eling sesungguhnya yang berhak menjadi raja ialah Pandawa, anak-anak Pandu. Namun, karena keponakannya--Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten--itu masih kecil-kecil alias belum dewasa, untuk sementara kekuasaan Astina ia serahkan kepada Jaka Pitana.

Namun, bagi Sengkuni, ini sudah final. Garis politiknya bahwa kekuasaan Jaka Pitana yang bergelar Prabu Duryudana harus selamanya. Tidak ada periode sementara. Maka, perjuangannya mengamankan kekuasaan Duryudana sekaligus menjamin kehidupan Kurawa, keturunan Drestarastra-Gendari.

Pada titik inilah awal munculnya perselisihan abadi antara Kurawa dan Pandawa. Dua keluarga yang adalah saudara sepupu dan sesama trah Abiyasa ini menjadi berseteru.

Sengkuni mengerahkan segala kemampuan, bahkan mempertaruhkan jiwa raganya. Apa pun ditempuh untuk melenyapkan Pandawa. Itulah satu-satunya cara agar Duryudana (Kurawa) langgeng menguasai Astina.

Di antara rangkaian upaya busuk itu terceritakan dalam peristiwa Bale Sigala-gala. Ini skenario gila, membakar Pandawa hidup-hidup yang dikemas dalam acara rencana pengembalian takhta Astina kepada putra Pandu. Namun, upaya yang sangat menggiriskan itu akhirnya gagal. Pandawa selamat tanpa cacat.

Pada lain waktu, Sengkuni mulus memaksa paranpara Astina Resi Durna memperdaya Pandawa, khususnya Bratasena. Pilar Pandawa itu diskenariokan mati konyol. Ini dapat disimak dalam lakon Bima Suci. Namun, Bratasena tidak sirna, justru mendapatkan ilmu rahasia hidup yang diimpikan, yakni ilmu sangkan paraning dumadi.

Cara licik lain tersua dalam kisah Main Dadu. Sengkuni sukses menjebloskan Pandawa ke ‘penjara’ di hutan Kamyaka selama 12 tahun. Namun, upaya menyirnakan ahli waris sejati Astina itu kembali tanpa hasil. Malah, para putra Pandu mendapat anugerah dari Sanghyang Manon berkat kepasrahan menjalani pengasingan dengan laku prihatin.

Manuver Sengkuni akhirnya pungkas dalam Bharatayuda. Ia tewas di tangan Werkudara di hari-hari terakhir perang besar di Kurusetra tersebut. Pada detik-detik menjelang ajal menjemput, Sengkuni menyatakan tidak menyesali atas semua yang telah ia perbuat.

Bukan hipokrit

Jelas Sengkuni merupakan contoh busuk dalam berpolitik. Ia tokoh tengik yang menghalalkan segala cara. Dalam kamusnya, tidak ada norma dan etika. Siapa pun yang bertentangan dengan garis politiknya, Sengkuni tidak segan menyatakan berseberangan, sekalipun mereka pepunden Astina semisal Resi Bhisma dan Prabu Salya, mertua Duryudana.

Namun, dalam kebusukannya itu masih ada nilai karakternya yang bisa direnungkan. Sengkuni bukan politikus hipokrit. Ia apa adanya, tidak ada yang disembunyikan. Ia pun anggap enteng cap yang disematkan pada dirinya sebagai leletheking jagat panuksmaning jajalanat, yang artinya penjelmaan iblis yang paling jahat di jagat.

Sengkuni tidak mau menjadi pribadi palsu. Antara hati, pikiran, ucapan, dan perilakunya klop. Ibarat musang, ia tampil apa adanya sebagai musang, bukan musang yang bergaya dengan bulu domba. Aspek ‘kejujuran’ inilah yang masih sulit ditemukan pada politisi negeri ini. (M-4)

Komentar