Internasional

ASEAN Berperan Besar Atasi Konflik LCS

Sabtu, 15 July 2017 10:30 WIB Penulis:

Ist

KONFLIK Laut China Selatan (LCS) masih menjadi salah satu tantangan yang paling beragam dan mendesak bagi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Konflik yang melibatkan beberapa negara anggota ASEAN ini pun harus menjadi agenda organisasi di masa yang akan datang.

"Sangat krusial menekankan peran ASEAN. Banyak isu yang dihadapi ASEAN dan salah satunya ialah LCS. Jika melihat sejarah, ASEAN telah berperan dalam penyelesaian isu ini sejak 1992," ujar Tan Sri Rastam Mohd Isa, Kepala Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Pihak-pihak yang bersengketa dengan klaim sebagai pemilik sah seluruh atau sebagian kedaulatan di kawasan ini ialah Tiongkok, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Taiwan.

Beijing mengaku memiliki 'hak kesejarahan' dan mempunyai ambisi untuk mengendalikan lebih 80% dari wilayah yang termasuk jalur penting perdagangan dunia itu.

Saat ini, menurut Tan, ASEAN tengah berada dalam situasi krusial, terutama setelah Kerangka Kerja Kode Etik LCS (Code of Conduct atau CoC) disepakati dengan Tiongkok pada Mei lalu.

"Upaya ASEAN dalam mengelola situasi di LCS sekarang mencapai titik perubahan yang penting karena membuat kemajuan dalam negosiasi dengan Tiongkok terkait CoC," ujarnya.

"Perlu tujuh tahun bagi ASEAN dan Tiongkok untuk mencapai kesepakatan mengenai Deklarasi tentang Perilaku Para Pihak di LCS (DOC) pada 2002. Hampir satu dekade berlalu sampai kedua belah pihak menyimpulkan Pedoman Pelaksanaan DOC pada 2011. Sekarang antisipasi berpusat pada Kerangka CoC, yang akan didukung oleh para menteri luar negeri pada Agustus 2017," tambahnya.

Tan mengatakan terdapat kebutuhan yang mendesak agar kerangka CoC ini segera menuju kode etik yang komprehensif dan mengikat secara hukum.

"Pada akhirnya, CoC memang harus dilihat sebagai kendaraan untuk mendamaikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan di LCS. Namun, CoC tidak akan menjadi 'peluru perak' yang akan menjamin ketenangan di LCS. Namun, ini harus meletakkan aturan dan norma penting untuk semua pihak di daerah tersebut," papar Tan.

"ASEAN harus memastikan bahwa ia memainkan peran kunci dalam mengelola perselisihan melalui kerangka multilateral sambil memastikan bahwa ia dapat menyelesaikan perbedaan internal untuk mempertahankan posisi terpadu dalam perselisihan yang dapat diterima oleh semua negara anggota," tambahnya.

"ASEAN juga harus proaktif melibatkan Tiongkok dalam membangun kepercayaan dan meningkatkan stabilitas di LCS," tambahnya. (Ihs/I-1)

Komentar