Eksplorasi

Negara Paling Malas Berjalan Kaki

Sabtu, 15 July 2017 01:31 WIB Penulis: Gurit Ady Suryo

SEBUAH penelitian dunia kembali menempatkan Indonesia dalam sorotan. Sayangnya, bukan tentang prestasi.

Penelitian dari Standford University, Amerika Serikat, yang terbit di laman Nature baru-baru ini menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk yang paling malas berjalan kaki.

Posisi buncit (46) itu diduduki karena rata-rata orang Indonesia hanya berjalan kaki sebanyak 3.513 langkah setiap harinya.

Jumlah itu di bawah rata-rata langkah kaki orang di dunia yang mencapai 4.961 langkah per hari.

Jika dibandingkan dengan jumlah langkah kaki warga Hong Kong yang menempati urutan teratas, warga di Tanah Air pantas lebih malu lagi.

Warga Hong Kong rata-rata melakukan 6.880 langkah per hari.

Penelitian ini menggunakan data yang diambil dari smartphone.

Hampir semua smartphone diciptakan sudah dengan alat accelerometer yang bisa mengukur jumlah langkah si pengguna.

Peneliti menganalisis data orang-orang selama 68 juta hari.

Statistik itu menggambarkan masyarakat Indonesia cenderung senang mengendarai kendaraan bermotor dan rendahnya gaya hidup jalan kaki atau berlari.

Berdasarkan temuan lainnya, warga Tiongkok berada di tempat kedua disusul Jepang, Spanyol, dan Inggris.

Bagaimana dengan negara di Asia Tenggara?

Thailand menduduki peringkat ke-31 dari 46 negara dengan 4.764 langkah per hari.

Jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain, Thailand lebih baik karena Filipina berada pada peringkat 43 dengan 4.008 langkah dan Malaysia dengan urutan ke-44 dengan 3.963 langkah.

"Penelitian ini 1.000 kali lebih besar bila dibandingkan dengan kajian sebelumnya tentang pergerakan manusia. Sebelumnya banyak survei kesehatan yang telah dilakukan, tetapi kajian terbaru ini menyediakan data dari lebih banyak negara, lebih banyak subjek, dan melacak aktivitas orang setiap hari," papar Profesor Bioteknik Universitas Stanford Scott Dep, dilansir BBC, kemarin.

"Hal ini membuka pintu untuk cara baru dalam melakukan penelitian sains dalam skala yang lebih besar daripada sebelumnya," tambah Dep.

Bukan sekadar olahraga

Hasil temuan ini pantas menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Sebab gaya hidup minim aktivitas fisik bisa meningkatkan risiko terjadinya obesitas dan berbagai masalah kesehatan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan masyarakat berolahraga minimal 150 menit setiap minggu.

Jalan kaki dapat menjadi olahraga pilihan karena mudah dan murah.

Jalan kaki juga bukan hanya untuk urusan kesehatan semata seperti mencegah terkena penyakit tertentu.

Aktivitas fisik ringan ini bisa mendukung ikatan sosial dan ekonomi serta komunitas yang lebih kuat.

Lebih dari itu, jalan kaki bisa menjadi media mentransformasikan kota untuk menjadi tempat yang lebih baik.

"Kekuatan jalan kaki menjadi lebih jelas sepanjang waktu," ujar Kate Kraft, aktivis jalan kaki, dilansir Huffington Post.

"Jalan kaki mampu mendorong hubungan sosial yang lebih baik, mengembangkan kesempatan bisnis, menjadi olahraga pilihan bagi anak-anak dan manula," ujarnya.

Bahkan, sosiolog ternama AS Robert A Bullard menegaskan jalan kaki adalah hak asasi manusia (HAM).

Pemerintahan yang tidak menyediakan akses bagi pejalan kaki merupakan pelanggaran HAM.

"Semua komunitas memiliki hak yang aman, berkelanjutan, sehat, untuk berjalan kaki," ucapnya.

Jajak pendapat yang digelar National Association of Realtors' Community & Transportation Preference Survey menunjukkan 85% warga AS ingin tinggal di kota yang lebih nyaman untuk berjalan kaki.

Kemudian, banyak generasi milenial juga menginginkan membeli rumah dengan fasilitas bagi pejalan kaki yang lebih banyak dan ramah.

Selain itu, berjalan kaki sebagai langkah mendukung perlindungan lingkungan.

Menurut Andi Kurniawan dan Ari Fahrial Syam, olahraga dengan intensitas ringan seperti berjalan kaki merupakan pilihan tepat untuk menurunkan berat badan bahkan obesitas.

Selain itu, rajin berjalan kaki dapat mencegah konstipasi.

"Dalam Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi di Indonesia 2010 disebutkan, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang menjadikan tidak teraturnya area pencernaan," papar Ari.

(Nature/BBC/Dailymail/L-1/M-3)

Komentar