Olahraga

Kesempatan Terakhir sang Dewi Cinta

Sabtu, 15 July 2017 07:31 WIB Penulis: Budi Ernanto

Sumber: WTA, Wimbledon

DENGAN usia Venus Williams yang sudah menginjak 37 tahun, mungkin hanya sedikit orang yang berani menjagokannya untuk tetap bisa berprestasi di turnamen sekelas Wimbledon, apalagi ketika para petenis segenerasinya sudah gantung raket.

Namun, faktanya, petenis putri Amerika Serikat itu sekali lagi berhasil mengalahkan kerentaan tubuhnya dan berbagai penyakit yang menggerotinya dengan melaju hingga ke final turnamen grand slam tersebut.

Bahkan, selangkah lagi ia akan mencatatkan diri dalam sejarah sebagai petenis putri tertua yang meraih gelar grand slam.

Syaratnya, ia hanya perlu melewati hadangan petenis Spanyol yang berusia 14 tahun lebih muda daripada dia, Garbine Muguruza.

Itu tidak mudah memang.

Muguruza pasti juga berambisi menebus kegagalannya pada 2015 saat dikalahkan Serena Williams di final dan sekaligus menggandakan gelar grand slam-nya yang baru satu.

Kondisi itu disadari betul oleh Venus.

Namun, Venus yang artinya 'sang dewi cinta' sadar betul tahun ini boleh jadi menjadi kesempatan terakhir dia untuk menambah koleksi gelar grand slam di Wimbledon menjadi tujuh, atau sembilan secara keseluruhan.

Apalagi, dia hanya akan menghadapi petenis yang secara peringkat berada di bawahnya.

Di juga bukan menghadapi petenis peringkat lima besar ataupun adiknya yang kerap menjadi batu sandungan dalam kariernya.

"Saya merasa sangat fokus. Saya memiliki satu pertandingan lagi yang saya ingin menjadi pemenangnya," tegas Venus yang kali terakhir maju ke final pada 2009 dan dikalahkan adiknya yang setahun sebelumnya menjadi juara.

"Saya bermain bagus di sejumlah turnamen. Saya pikir saya masih punya kesempatan untuk juara lain. Tentu saja saya akan memanfaatkan semua pengalaman saya," imbuh 'sang dewi cinta'.

"Soal Serena, tentu saya sangat merindukannya sebagai kakak. Meski begitu saya akan mencoba mengadopsi keberaniannya di lapangan. Saya yakin dia akan membantu saya sepenuhnya," tandas Venus yang menderita penyakit autoimun dalam beberapa tahun terakhir sehingga membuatnya kerap kelelahan dan mengancam keriernya.

Patahkan tradisi

Sejak memenangi gelar grand slam pertamanya di Prancis Terbuka tahun lalu, Muguruza mengalami kemerosotan prestasi.

Posisinya bahkan melorot jauh dari peringkat kedua tahun lalu menjadi peringkat ke-14 saat ini.

Namun, pelan tapi pasti, Muguruza mulai menemukan kembali performa terbaik setelah memilih rekan senegaranya Conchita Martinez sebagai pelatih sementara di Wimbledon.

Martinez memang menjadi satu-satunya petenis Spanyol yang memenangi Wimbledon pada 1994.

Ia berharap kesuksesan Martinez bisa menular pada dirinya.

"Saya tahu semua nama para juara. Selama bertahun-tahun terakhir, klan Williams juga selalu ada di podium kehormatan. Jadi, saya berharap bisa memasukkan nama Spanyol sekali lagi di Wimbledon," tegasnya.

Sementara itu, petenis Kroasia, Marin Cilic berpeluang mematahkan tradisi di Wimbledon yang lebih dari satu dasawarsa dikuasai empat peptenis Roger Federer, Novak Djokovic, Rafael Nadal, dan Andy Murray.

Peluang itu didapat Cilic setelah mengalahkan petenis Amerika Serikat, Sam Querrey di semifinal 6-7 (6/8), 6-4, 7-6 (7/3), 7-5, kemarin.

(AFP/AP/R-3)

Komentar