KICK ANDY

Susana Somali Jalan Hidup Pilihan

Jum'at, 14 July 2017 23:21 WIB Penulis: Sumaryanto Bronto

MI/Sumaryanto Bronto

GONGGONGAN anjing terdengar nyaring saat host Kick Andy Andy F Noya bertandang ke sebuah rumah dengan pekarangan luas di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Penghuni rumah itu tidak lain ratusan ekor anjing dan kucing.

Namun, mereka bukan hewan sembarangan.

Mereka hewan telantar yang dirawat dokter Susana Somali.

Dokter spesialis patologi klinik itu mengaku mengurus anjing dan kucing telantar seperti jalan hidup.

"Saya percaya nasib. Kalau Tuhan kasih kesempatan saya untuk menolong anjing, ya, berarti memang nasib anjing itu bisa hidup lebih lama. Kalau enggak, ya, meninggal. Saya pikir meninggal itu kan lebih baik, bisa lepas dari penderitaan hidup," kata Susan.

Banyaknya anjing dan kucing telantar tidak lepas dari minimnya edukasi masyarakat memelihara binatang tersebut.

Kucing jalanan biasanya bernasib lebih baik.

Kultur masyarakat di Indonesia masih memungkinkan kucing hidup di jalanan dengan relatif aman.

"Kalau kucing, biasanya setelah saya sterilkan, saya lepaskan lagi. Masyarakat kita bisa menerima," kata dia.

Sementara itu, anjing liar di jalanan cenderung rentan disiksa manusia, mulai dipukuli, dilempari batu, sampai diracun.

Sehari sekali, sebelum atau sesuah pulang kantor, almunus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu menyempatkan diri datang ke Pejaten Shelter.

Sejak kecil Susan dan keluarga di Bandung suka memelihara hewan dan menolong anjing dan kucing yang tertabrak atau telantar. Anjing dan kucing itu ditampung di daerah Lembang, Bandung.

Saat kuliah dan kemudian berkeluarga dan menetap di Jakarta, kepedulian Susan pada anjing dan kucing telantar terus berlanjut.

Pada 31 Agustus 2009, Susan membangun Pejaten Shelter di atas tanah keluarganya.

Ia mendirikan kandang kecil untuk 70 anjing yang berkeliaran di jalanan.

Dia merawat anjing-anjing itu mulai dari memandikan, memberi makan, memberi ruangan untuk mereka, memvaksinasi, dan memberikan perawatan kesehatan lainnya agar anjing selalu sehat.

Tak lama setelah menampung anjing, ia pun menampung kucing.

"Mengapa hanya anjing dan kucing? Karena menurut saya, yang namanya binatang piaraan itu hanya anjing dan kucing," kata Susan.

Solusi instan

Dalam dua tahun, jumlah anjing dan kucing yang ditampung meningkat 10 kali meski setiap tahun binatang peliharaan yang mati mencapai 50.

Tak cuma anjing, ada puluhan kucing dan monyet, yang ditampung setelah tak diinginkan lagi oleh majikannya dengan berbagai alasan.

Misalnya tidak mampu merawat lagi atau bosan.

Kehadiran Pejaten Shelter kerap dianggap solusi instan bagi mereka yang melepas diri dari peliharan.

Apalagi setelah informasi penampungan itu tersebar di media massa dan internet.

Terkadang ia pun harus bernegosiasi dengan si pembuang peliharaan.

"Kalau uang, saya butuh. Untuk obat, vaksin, steril, makan, dan segala macam. Jadi itu yang biasanya dinegosiasikan. Akan tetapi, kalau saya langsung menetapkan ongkos di awal, nanti malah mereka buang di jalan," jelas Susan.

Mengandalkan orang yang bersedia mengadopsi bukan perkara mudah.

"Adopsi ada, tapi 1 banding 100," ujarnya.

Saking sedikitnya orang yang mengadopsi, besar kemungkinan hewan-hewan itu akan selamanya menetap di Pejaten Shelter.

"Ini sebenarnya bukan shelter, ini sanctuary. Sanctuary itu berarti seumur hidup hewannya akan di sini," ungkapnya.

Memotivasi

Susan menghabiskan banyak dana untuk biaya operasional termasuk membeli makanan, vitamin, vaksin, melakukan pensterilan, dan menggaji sejumlah pekerja.

Hanya 10%-20% yang ia dapatkan dari donasi, sisanya ia penuhi sendiri.

"Saya termasuk keras urusan steril. Ini untuk mengendalikan populasi mereka daripada telantar. Satu ekor anjing membutuhkan biaya Rp250 ribu per bulan, di sini ada 800 anjing, kalikan saja...," ujar Susan saat ditanya berapa anggaran per bulan untuk menghidupi hewan-hewan itu.

Tak hanya masalah keuangan, beragam masalah dihadapinya.

Namun, ia terus memotivasi dirinya bahwa apa yang ia lakukan itu merupakan panggilan jiwa dan akan membawa kebaikan di masa depan.

Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting yang menguatkan tekadnya. Suami dan keempat anaknya pun penyayang anjing.

Harapan terbesar Susan ialah binatang piaraan bisa hidup lebih sejahtera di masa mendatang.

"Tujuan saya adalah tidak ada anjing di jalan dan tidak ada penyiksaan binatang. Tidak ada lagi orang makan anjing. Seandainya terpaksa makan, jangan sampai membunuhnya dengan cara sadis. Sebab, ada mitos, semakin anjing itu disiksa, dagingnya akan lebih enak," tambahnya.

Perlindungan dan perawatan anjing yang baik, menurut Susan, juga akan memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Lokalisasi anjing seperti yang ia lakukan efektif mencegah penyebaran rabies.

"Bagi saya, apa yang saya lakukan ini panggilan. Kalau saya bergerak dan Indonesia akan berubah, saya akan lakukan walau perubahannya mungkin hanya 0,001%. Saya tidak melihatnya sekarang. Saya melihatnya dua generasi mendatang. Seperti Kartini, kan, tidak bisa mengubah dirinya sendiri, tetapi ia membuat perubahan 50 tahun ke depan. Saya sendiri mungkin tidak akan bisa melihat kerja saya nanti, tetapi saya yakin 20-30 tahun ke depan akan ada perubahan," ungkap Susan.

(M-4)

Komentar