Kuliner

Rendang kembali Menjadi Makanan Terlezat Dunia

Jum'at, 14 July 2017 20:24 WIB Penulis: Yose Hendra

MI/Yose Hendra

RANDANG, nama asli bagi rendang, masakan olahan khas Padang, Sumatra Barat, kembali terpilih menjadi masakan terlezat di dunia tahun ini berdasarkan jajak pendapat (polling) yang dilakukan CNN Travel. Ini kali kedua bagi rendang menjadi makanan terlezat di dunia, setelah sebelumnya pada 2011 juga berdasarkan CNN.

Mengutip dari CNN Travel, Jumat (14/7), rendang memuncaki nomor satu dari 50 makanan terlezat di dunia berdasarkan 35.000 suara yang mengikuti polling. Menariknya, posisi kedua juga ditempati kuliner Indonesia yakni nasi goreng. Berikutnya, sushi, tom yam goong, dan seterusnya.

Rendang merupakan kuliner asli Minangkabau. Rendang berasal dari kata Marandang (Merendang), karena proses yang membuatnya seperti demikian.

Bahan bakunya sendiri ialah daging yang dimasak dengan ramuan bumbu dalam kubangan santan, dengan durasi perendangan yang cukup lama, sekitar 2-3 jam, bahkan lebih kalau porsinya besar. Sehingga wujudnya berupa daging dalam lumuran kuah hitam dan lebih mengental daripada gulai atau kari.

Rendang memang tak bisa dipisahkan dari orang Minang. Ia selalu menjadi sajian di tiap even-even bernuansa adat, bahkan ritual keagamaan. Sejak dahulu kala, rendang dipastikan menjadi penghuni dulang-dulang yang diarak dan disajikan dalam acara adat.

Rendang ibarat panghulu di deretan menu-menu yang tersaji dalam peristiwa adat dan agama di Minang. Seperti dikatakan budayawan Minangkabau, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto, rendang itu penghulu samba (masakan minang).

Oleh karena disimbolkan penghulu, rendang wajib hadir dalam setiap acara adat. Bahkan, di beberapa tempat, oleh kelompok masyarakat yang dikategorikan tidak kuat secara finansial, rendang hadir dalam dimensi simbolik.

Menurut Musra, ada juga rendang dari kayu jua karena rendang itu dipahami sebagai penghulu sambal. Oleh karena ingin memakai adat, sementara uang tidak ada, rendang pun dibuat dari kulit batang kayu. Jadi kalau tidak ada rendang, seolah tidak berpenghulu.

"Di Payakumbuh, randang dibuat dari potongan kayu, disiram kuah randang. Itu sebagai simbolik saat ada pesta adat," sambung Bundo Kanduang Puti Reno Raudah Thaib.

Pewaris takhta Kerajaan Pagaruyuang (kerajaan di Minangkabau) ini mengatakan sampai sekarang dalam upacara adat yang digelar pihaknya, rendang selalu menjadi sajian utama. Hal demikian menjadi bukti sahih bahwa rendang tersebut sudah menjadi budaya sejak dahulu.

Rendang, menurut Raudah, tidak saja bicara bahan berbaku daging, tapi untuk pelbagai masakan seperti sayur-sayuran, masyarakat Minang juga terbiasa merendang.

Orang Minang mengenal rendang nangka, rendang paku, dan rendang daun singkong. Di luar ini juga ada rendang ayam, rendang lokan, rendang telur, dan lainnya. (OL-2)

Komentar