Features

Beralih ke Gas, Ongkos Melaut pun Terpangkas

Jum'at, 14 July 2017 11:45 WIB Penulis: Liliek Darmawan

Lebih dari 900 nelayan di Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah telah mengganti bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dengan elpiji. -- MI/Liliek Dharmawan

SEMBURAT warna merah sinar matahari pagi menelusup di sela-sela pepohonan mangrove di kawasan Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. Sebuah perahu menderu melintas di antara hutan bakau. Perahu yang dikemudikan Warsito, 56, nelayan setempat, itu merapat di Dermaga Panjatan Gowok di Kelurahan Tritih Kulon. Ia kemudian menurunkan hasil tangkapan yang disimpan dalam drum plastik warna biru.

Berbagai macam hasil tangkapan di wilayah perairan payau dan laut diturunkan. Jenis tangkapan yang diperoleh, di antaranya ikan belanak, blodokan dan udang. Beratnya sekitar 20 kilogram setelah melaut sekitar 12 jam.

"Setiap melaut, tidak dapat dipastikan hasilnya. Kadang banyak, tetapi tak jarang sedikit. Ketika musim panen ikan datang, semalam bisa memperoleh penghasilan Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Namun, kalau sepi tangkapan paling hanya memperoleh Rp60 ribu hingga Rp70 ribu saja," ungkap Warsito kepada Media Indonesia, Kamis (13/7).

Beruntung, saat ini Warsito telah mampu mengurangi biaya operasional melaut. Sebab, perahu miliknya tak lagi menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, tapi telah berganti dengan elpiji 3 kg.

"Memang, sejak Oktober lalu, ada bantuan mesin, tabung elpiji 3 kg dan converter kit kepada Kelompok Nelayan Mino Sari di Tritih Kulon. Maka kemudian sebagian nelayan yang mendapatkan bantuan akhirnya beralih menggunakan bahan bakar elpiji dari sebelumnya premium," ungkapnya.

Warsito mengungkapkan untuk melaut selama sekitar 12 jam melewati Segara Anakan sampai ke wilayah Kampung Laut biasanya membutuhkan 3-4 liter premium. "Tetapi itu sudah masa lalu. Saat ini cukup dengan menggunakan elpiji 3 kg satu tabung. Jelas, ongkos operasional merosot tajam. Dulu setidaknya membutuhkan uang operasional Rp30 ribu, tapi sekarang hanya Rp15.500 untuk membeli satu tabung elpiji," katanya.

Tak hanya Warsito, nelayan lainnya Kaiman, 38, juga merasakan manfaatnya dengan adanya inovasi teknologi tersebut. Dengan adanya converter kit bantuan Kementerian ESDM itu, nelayan tak lagi bergantung dengan membeli premium.

"Kalau dulu kan harus ke SPBU, itu pun kadang harus antre. Kalau sekarang, cukup ke Ketua Kelompok Nelayan untuk membeli elpiji bagi nelayan. Saya juga merasakan kalau sekarang sangat berhemat. Elpiji 3 kg bisa saya pakai untuk melaut 4 hari. Sebab, saya mencari ikan hanya di sekitar Kawasan Segara Anakan. Sebelumnya saya harus membeli 1-2 liter premium setiap hari," ujar Kaiman.

Ketua Kelompok Nelayan Mino Sari Sunardi Simin mengatakan kelompok telah menyediakan elpiji 3 kg dengan harga sesuai HET yakni Rp15.500 per tabung. Di kelompok nelayan kami, pada Oktober 2016 silam telah dibantu converter kitâ sebanyak 88 unit saja.

"Sampai sekarang, nelayan sangat puas, karena teknologi itu nyata-nyata telah mampu mengurangi ongkos operasional dalam melaut. Bagi nelayan kecil seperti kami di sini, penghematan hingga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu setiap harinya sangat berarti," jelasnya.

Hanya saja, bantuan sebanyak 88 unit dinilai masih sangat kurang. Sebab, jumlah nelayan yang tergabung dalam Kelompok Mino Sari sebanyak 536 nelayan. Dia berharap ada bantuan pemerintah lagi. "Kami berharap nelayan di sini akan mendapat bantuan lagi, sehingga dapat mengikuti jejak nelayan lainnya yang sudah dapat menghemat uang operasional karena telah menggunakan elpiji sebagai bahan bakar."

Kegelisahan Sunardi ternyata telah direspons oleh Dinas Perikanan Cilacap. Menurut Kepala Dinas Perikanan Cilacap Sujito, pihaknya telah mengajukan lagi bantuan converter kit ke pemerintah pusat.

"Tahun lalu, Cilacap dengan jumlah nelayan 15 ribu orang, hanya memperoleh 902 buah. Ya, memang harus disyukuri, tetapi kalau dibandingkan dengan jumlah nelayan masih sangat kurang. Karenanya, kami telah mengajukan lagi sebanyak 2.000 converter kit," ujarnya.

Tambahan permintaan converter kit tersebut didasarkan dari hasil survei oleh dinas bahwa para nelayan yang telah memperoleh bantuan sangat merasakan manfaatnya. Apalagi, penggunaan elpiji ternyata lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya.

Sujito mengungkapkan, dengan asumsi setiap nelayan dapat berhemat Rp15 ribu per hari, maka 900-an nelayan yang mendapat bantuan, mampu menghemat Rp13,5 juta setiap hari. Jika sebulan melaut 25 hari, misalnya, maka dihemat hingga Rp337,5 juta. Jika nanti ada tambahan bantuan 2.000 converter kit lagi, akan ada tambahan penghematan Rp30 juta per hari atau Rp750 juta sebulan. Jumlah yang fantastis.

Secara terpisah Sales Executive LPG VII Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jateng DIY Ancala Egah menyatakan kalau elpiji jelas lebih ramah lingkungan kalau dibandingkan dengan premium atau solar.

"Untuk RON elpiji mencapai 98 atau perbandingannya sama dengan Pertamax Turbo kalau BBM. Sehingga selain lebih bersih untuk lingkungan, dengan memakai elpiji bakal lebih efisien, karena pembakaran mesin lebih sempurna," ujarnya.

Mengenai kesiapan untuk memasok elpiji bagi nelayan, pihaknya juga siap. "Kalau nanti ada program konversi lagi, tentu kami siap menjalankan perintah. Karena yang memiliki kebijakan adalah Ditjen Migas Kementerian ESDM bersama dengan KKP. Kami tentu akan siap memasok elpijinya," tandasnya. (liliek dharmawan)

Komentar